Beranda Berita Utama

Trump-Putin Bicara Empat Mata

REUTERS/Kevin Lamarque
SALING TATAP: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan sebelum pembicaraan empat mata di istana kepresidenan, Helsinki, Finlandia, kemarin (16/7).
HELSINKI–RADAR BOGOR,Presiden Rusia Vladimir Putin terlambat 30 menit. Pesawat yang dia tumpangi mendarat di Finlandia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai bisa beradaptasi dengan istana kepresidenan di Helsinki tersebut.
Meski demikian, dalam pertemuan yang dinanti-nantikan masyarakat global itu, Putin terlihat lebih santai.
Putin dan Trump akhirnya bertemu secara formal kemarin (16/7). Dalam pertemuan yang sengaja dihelat untuk keduanya tersebut, mereka terlihat canggung. Itu tampak dari bahasa tubuh keduanya. Gothic Hall menjadi saksi bisu pertemuan empat mata dua pemimpin negara berpengaruh tersebut saat Trump dan Putin memilih duduk sebentar di sofa dan berpose untuk media.
”Saya rasa kita bakal memiliki hubungan yang luar biasa,” ujar Trump kepada Putin yang duduk di sebelahnya.
Suami Melania tersebut menambahkan bahwa menjalin hubungan dengan Negeri Beruang Merah itu adalah hal yang baik. Kebijakan tersebut tentu bertentangan dengan para pendahulunya yang cenderung memusuhi Rusia.
Dalam pertemuan singkat di hadapan media itu, Trump dan Putin bersalaman. Sedikitnya, mereka dua kali berjabat tangan. Mereka juga saling tatap. Tapi, tidak ada senyum yang terkembang. Saat Trump berbicara kepada media, Putin menyimak.
Ketika giliran Putin yang ngomong, Trump mendengarkan sambil menunggu Putin menoleh kepadanya. Dan, ketika itu terjadi, Trump mengedipkan mata ke arah Putin.
Gestur Putin dan Trump itu membuat para pemburu berita bertanya-tanya. Menurut Associated Press, sejumlah jurnalis sempat menanyakan apakah Trump dan Putin bakal membicarakan skandal pemilihan presiden (pilpres) AS.
Semua orang tahu bahwa ada Rusia di balik gawe besar Negeri Paman Sam tersebut. Namun, Trump tak merespons. Sementara itu, Putin hanya memencongkan bibirnya.
Setelah beramah tamah, Trump dan Putin melakukan pembicaraan empat mata. Hanya mereka berdua plus penerjemah masing-masing. Pertemuan tertutup itu berlangsung selama dua jam. Versi Trump, mereka berbicara tentang perdagangan, militer, senjata nuklir, dan Tiongkok.
Tapi, Rusia tidak bilang begitu. Kedutaan Besar Rusia di Washington DC mencuitkan beberapa topik yang diagendakan. Yakni, normalisasi hubungan bilateral, perpecahan Ukraina, perang Syria, hubungan Semenanjung Korea, dan terorisme. Memang tak ada agenda pembahasan resmi dalam pertemuan tersebut.
’’Pertemuan empat mata ini adalah awal yang baik,” ujar Trump kepada para jurnalis yang menunggunya. Pertemuan itu lantas dilanjutkan dengan working lunch. Kali ini Trump dan Putin didampingi para pejabat tinggi masing-masing.
Sebelum pertemuan berlangsung, Kremlin mengaku tak berharap banyak. Tapi, mereka optimistis pertemuan tersebut bakal menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan dua negara.
Sekitar empat jam sebelum bertemu Putin, Trump mencuit di akun Twitter-nya.
Dia menyebut hubungan AS-Rusia saat ini merupakan yang terburuk. Hal itu, lanjut dia, disebabkan kebijakan pemerintah sebelumnya yang bodoh.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyukai cuitan Trump dan bahkan memberikan balasan, ’’Kami setuju.’’
Keputusan Trump untuk bertemu Putin memantik reaksi di dalam negeri. Sebab, saat ini penyelidikan keterlibatan Rusia dalam pemilu AS tengah berlang­sung. Rusia dianggap ikut andil dalam pemenangan Trump seba­gai presiden AS pada 2016.
’’Meski hubungan dua negara memburuk saat Perang Dingin, setidaknya presiden AS saat itu tidak menjadi kepanjangan tangan untuk propaganda Kremlin,’’ ujar Gregory Meeks, legislator Partai Demokrat, mereaksi cuitan Trump.
Sementara itu, sejak Minggu (15/7) ribuan orang menggelar aksi di Helsinki.
Mereka memprotes berbagai hal. Mulai pemanasan global, perdagangan bebas, hingga perang. Kemarin sekitar 20 laki-laki berdandan seperti Trump yang tengah hamil.
Mereka memprotes kebijakan Trump yang melarang dana federal dipakai untuk lembaga internasional yang bergerak di  bidang keluarga berencana. Trump tak mau uang negara dipakai untuk mendanai aborsi.
Padahal, dana tersebut sangat dibutuhkan di negara-negara berkembang. Banyak kasus aborsi yang dilakukan karena kondisi janin membahayakan ibunya.(sha/c6/hep)

Baca Juga