Beranda Nasional

Produksi Ayam Petelur Drop

MASIH MAHAL: Pedagang telur saat menanti pembeli. Mereka mengeluhkan harga telur yang semakin mahal. ilustrasi

JAKARTA–Di saat harga pakan ternak terus melambung karena depresi rupiah, pasokan telur ayam nasional terancam virus Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang menurunkan daya tahan dan produktivitas ayam petelur.

Menurunnya produktivitas ayam petelur ini berdampak pada harga telur di pasaran yang terus terkerek naik. Saat ini, harga di beberapa pasar sudah mencapai Rp26.000 hingga Rp28.000 per kilogram. Lebih tinggi dari harga rata-rata lebaran Rp25.000. Bahkan, beberapa tembus ke Rp30.000.

“Produktivitas ayam petelur nasional turun 20 hingga 30 persen,” kata Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi. Penurunan diperkirakan telah terjadi sejak periode Mei-Juni.

Musbar menyebut setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan penurunan ini. Yang pertama adalah faktor kenaikan harga pakan. Selama ini, bahan baku pakan ternak seperti bungkil kedelai, tepung daging dan tulang masih tergantung dari impor.

Sementara pada masa pancaroba ini, terjadi kegagalan panen di negara-negara penghasil bahan-bahan tersebut.

“Apalagi diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,” kata Musbar.

Yang kedua adalah soal program pemerintah berupa bantuan pangan nontunai (BPNT) yang dimulai sejak 2017. Dalam paket bantuan tersebut, masing-masing kepala keluarga (KK) penerima satu boks berisi 10 butir telur.

Program ini juga turut menyedot pasokan telur dari peternak. “Kira-kira 10 sampai 15 persen pasokan nasional masuk ke BNPT,” katanya. Pada dasarnya, BPNT tidak dipermasalahkan oleh para peternak.

Justru mereka diuntungkan karena otomatis tercipta pasar baru. Untuk satu kecamatan saja, Musbar menyebut bisa menyerap 4,5 ton telur.(tau)

Baca Juga