Beranda Politik

Lebih Dekat dengan Komisioner Panwaslu, Sasongko Suharto Putro

KOMPAK: Komisioner Panwaslu Kota Bogor Sasongko S Putro (kanan) bersama Ketua Panwaslu Yustinus Eliyas Mau (tengah) dan Komisioner Panwaslu Kota Bogor Ahmad Fathoni (kiri) di Kantor Panwaslu Kota Bogor.

Menjadi seorang dosen tak melulu harus berkutat di dunia pendidikan saja. Tridharma perguruan tinggi menjadi landasan bahwa seorang pendidik juga harus mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

Pria yang memiliki nama lengkap Sasongko Suharto Putro ini, ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat dan negara melalui Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Seperti apa kiprahnya?

Laporan : Andika Galuh Satria

Belakangan, nama Sasongko S Putro lebih dikenal sebagai salah satu Komisioner Panwaslu Kota Bogor. Dua periode sudah ia jalani menjadi penyelenggara pemilu itu. Mulai dari perhelatan pesta demokrasi pada 2013 dan teranyar 2018.

Namun, siapa sangka, di balik ketegasannya dalam mengawasi pesta demokrasi yang harus langsung, umum, bebas, rahasia serta jujur dan adil (Luber Jurdil), pria kelahiran 23 Juni 1968 ini rupanya juga seorang dosen di Universitas Pakuan Bogor.

“Saya sudah hampir 20 tahun menjadi dosen, sekarang mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) mata kuliah Metode Penelitian Sastra dan Sosiolinguistik,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Selain tridharma perguruan tinggi yang menjadi landasannya untuk menjadi Panwaslu, rupanya, ayah dua anak ini memiliki pengalaman yang sama. Sasongko tercatat pernah menjadi pemantau dalam Forum Rektor pada 1999.

Menurutnya, seorang pemantau maupun pengawas memiliki fungsi yang sama. Sehingga dirinya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi anggota Panwaslu Kota Bogor.

“Menjadi Panwaslu merupakan aplikasi dari poin pengabdian kepada masyarakat. Saya bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan demokrasi di Kota Bogor,” katanya.

Meski mengemban tugas yang cukup berat, rupanya, tak menghalangi Koordinator Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran pada Panwaslu Kota Bogor ini kapok.

Bawaslu RI yang akan mengubah Panwaslu Kota Bogor menjadi Bawaslu Kota Bogor membuat Sasongko ingin kembali berkontribusi lebih untuk kotanya.

Ia berencana mendaftarkan diri kembali menjadi anggota Bawaslu Kota Bogor. Ia tahu bahwa konsekuensinya adalah waktu bersama keluarga akan lebih sedikit karena tuntutan pekerjaan yang banyak. Namun, hal itu ia siasati dengan kemajuan teknologi komunikasi yang saat ini semakin maju.

Sehingga dukungan dari istri dan kedua anaknya terus mengalir demi tugas mulia yang akan dia emban.

“Harapan saya, pelaksanaan pemilu baik pilkada maupun pileg dan pilpres di Kota Bogor bisa menjadi role model di kota lainnya, baik itu pelaksanaannya maupun penyelengara pemilunya, agar demokrasi kita berjalan baik,” pungkasnya.(*)

Baca Juga