Beranda Berita Utama

Siswi SMK Sempat Dijual

BERBAGI
SEPI: Bangunan kosong yang menjadi tempat F diperkosa beramai-ramai, sudah disegel garis polisi, kemarin. (Arifal/ Radar Bogor) 

BOGOR–RADAR BOGOR,Fakta biadab kem­bali terung­­kap di kasus pemer­­kosaan yang berujung te­wasnya F. Pantas saja ABG asal Gunungputri itu de­­presi. Usai diper­kosa ra­mai-ramai, dia diduga dijual salah satu pelaku se­belum diantar pulang.

Malam biadab itu dimulai di sebuah pekarangan tanah merah di Kampung Nyangkokot, Desa Gu­nungsari, Kecamatan Citeu­reup, Kabupaten Bogor.

Sebuah tanah kosong, tempat tujuh pemuda kampung merancang aksi bejat. Merencanakan pemerkosaan brutal terhadap F siswi SMK yang kini telah tiada.

Bangunan rumah kosong menjadi awal cerita kelam F. Bangunan belum rampung dibangun yang ditinggal pemiliknya itu menjadi saksi bisu nestapa F.

Selama empat jam, ia teraniaya. Digagahi pria yang baru dikenalnya beberapa minggu terakhir. Mulai pukul 01.00 dini hari hingga 04.00 WIB.

Kisah malang F berawal Selasa (26/6) pukul 16.30 WIB. Ketika itu, IB (16) dan teman-temannya baru saja bermain game online Mobile Legend. Sembari menghisap sigaret, candaan berbau pornografi menjadi pemantik rencana bejat tersebut.

Obrolan kecil berbau seks itu perlahan membangkitkan libido IB. Seketika, dia langsung menghubungi F yang ia kenal di Facebook untuk berjumpa.

Sekitar sepuluh menit saling berbalas pesan, F menyanggupi ajakan IB untuk bertemu. IB pun bergegas menjemput F di rumahnya. Namun, tak adanya kendaraan, memaksa IB meminjam motor kepada PR (15).

IB lalu menyuruh AL (14) karena dia teman dekat PR. Tentunya dengan iming-iming AL dapat jatah menggagahi tubuh F.

AL semangat dan bergegas menuju rumah PR yang hanya berjarak lima meter dari tempat ia nongkrong. “Pinjem motor dulu. Sebentar ya,” kata PR menirukan AL saat meminjam motornya.

Setelah mendapatkan pinjaman motor, AL kembali ke tongkrongan.

“Ini motornya. Jangan lama-lama,” kata PR menirukan suara AL lagi.

Sekitar pukul 16.50, IB lantas pergi. Saat itu ia mengenakan kaus oblong dengan celana panjang. Sementara teman-teman yang lain masih asyik nongkrong dan mengobrol.

“Kelihatan dari rumah saya. Dia berangkat. Saya masih di rumah lanjut main game lagi,” katanya kepada Radar Bogor, kemarin (11/7).

Tak lama, IB kembali ke tongkrongan. Sekitar pukul 18.50 IB datang dengan F. Dia lantas mengenalkan F kepada tempat-tempat tongkrongannya. Jarak yang dekat dengan rumah PR membuat percakapan anak-anak tongkrongan dan IB cukup jelas terdengar.

“Lumayan. Bisa-bisa,” kata PR tirukan suara samar salah satu anak-anak.

“Tidak lama dari situ, AL datang mengantarkan motor ke rumah. Saya sempat diajak gabung. Tapi saya masih nanggung main game,” kata PR lagi.

Terdengar pula, umpatan godaan seronok dilontarkan IB dan teman-temannya kepada F.

“Ya, ada bilang-bilang agak jorok. Cuma gak terlalu jelas,” katanya. Hingga pukul 22.00 mereka masih nongkrong di sana. Tidak lama, IB mengajak F keluar entah ke mana.

Setelahnya IB dan F datang kembali ke tongkrongan. Di tempat tersebut, sempat terdengar suara memaksa F minum sesuatu. “Ayo lah minum sedikit saja, seperti itu kira-kira kedengerannya,” ucap PR.

PR kembali didatangi AL untuk bergabung. Namun, saat itu ia menolak.

“Ngajak lagi. Katanya, ayo ikut. Udah disiapin,” tutur PR menirukan AL.

“Saya tolak setelah itu saya tidak tahu lagi,” akunya.

Hingga keesokan harinya, PR mendapat cerita bahwa semalam IB (16), AL (14), PU (20), NU ( 21), RD (21), MR (18), dan AD (20) melakukan tindakan pemerkosaan di rumah kosong dekat rumahnya.

Nestapa F rupanya belum usai. Selepas digilir pacar dan teman-temannya di rumah kosong ia masih harus menelan pil pahit. AD yang saat itu kebagian tugas mengantar pulang F berubah haluan. Ia memutar arah kendaraannya.

Membawa F kepada seorang pria, teman lainnya. Di sana, F harus kembali melayani nafsu bejat AN juga teman-temannya. AD diduga menjual F kepada teman lain di luar para pelaku untuk membeli miras dan rokok.

Hal itu diperkuat dari curhatan F pada SA, sahabatnya. Menurut SA, F sempat dibawa ke tempat lain. Kondisinya saat itu sudah setengah sadar.

Begitu pun dengan ayah korban EC (40). Ia mengungkapkan, pemuda yang mengantar anaknya dengan yang menjemputnya berbeda. EC bahkan sempat menanyakan hal itu kepada AD yang mengantarkannya.

Sementara itu, dua hari setelah kejadian atau Kamis (28/6) para pelaku kembali nongkrong bareng di depan rumah PR. Seperti hari sebelum kejadian. Rutinitas setiap sore bermain Mobile Legend bersama. “Nongkrong seperti biasa aja,” tuturnya.

Namun, Selasa (3/7) IB dan keenam temannya yang melakukan pemerkosaan terlihat cemas. Hari itu IB mendapat kabar bahwa F meninggal dunia. F meninggal dunia

Selasa (3/7) pukul 04.30 WIB. Seminggu setelah peristiwa kelam yang dialaminya.

Hal senada diungkap IW kakak PR. Dia menuturkan wajah para pelaku terlihat cemas.

“Kelihatan panik. Cuma saat itu saya tidak tahu kalau mereka sudah memerkosa wanita,” kata IW saat ditemui Radar Bogor di kediamannya kemarin.

Hari berikutnya, unit Reskrim Polsek Citeureup datang. Ada lima yang ditangkap. Mereka adalah IB, AL, PU, NU, dan RD. “Langsung dibawa ke polsek. Di situ warga
baru tahu bahwa mereka pelaku pemerkosaan,” ujarnya.

Sedangkan pelaku lainnya, MR sempat melarikan diri ke Banten dan AD ke Kalibata, Jakarta untuk bekerja.

“Tapi sudah menyerahkan diri. Sedangkan AD sudah
berangkat ke Jakarta kerja. AD memang kerja di Jakarta,” katanya.

Selasa (10/7) polisi kembali ke Kampung Nyangkokot, Desa Gunungsari. Polisi datang dan menuju rumah kosong.

Petugas saat itu membawa barang bukti berupa karpet  yang dijadikan alas para pelaku melakukan tindakan bejatnya.

Terpisah, Kapolres Bogor AKBP Andi Moch Dicky mengatakan hingga kini penyidik masih dalam proses mengumpulkan barang bukti.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat kita rilis keseluruhan kasusnya, tapi yang jelas kasus awalnya kita ketahui setelah korban meninggal dunia,” ujar Dicky, kemarin.

Korban diduga meninggal dunia akibat depresi berat dalam beberapa waktu. Korban tidak makan dan minum sehingga kondisinya turun hingga akhirnya meninggal dunia. Namun, kepastian penyebab kematiannya masih terus didalami polisi.

“Ada kecurigaan dari keluarga, lalu sahabatnya yang pernah dicurhati bahwa yang bersangkutan menyampaikan ternyata pernah diperkosa,” jelasnya.

Berawal dari laporan tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan.

“Pelaku sudah diperiksa, kami juga sudah melakukan autopsi, tapi hasilnya belum keluar. Yang sudah diamankan ada tujuh orang,” ujar kapolres. Saat ini pihaknya terus memburu pelaku lainnya.

Terlepas dari kasus tersebut, Dicky mengingatkan agar para orang tua selalu mengawasi anak-anaknya. Bagaimanapun, orang tua adalah agen sosial yang memiliki peran kuat untuk menjaga anak.

Ketika ditanya lebih dalam tentang peran Polres Bogor dalam memberikan perlindungan kepada anak bermasalah hukum (ABH), Dicky mengatakan bahwa tugas utama kepolisian adalah terkait penegakan hukum.

“Kalau bicara pencegahan, itu bukan cuma tanggung jawab kami. Tapi tanggung jawab semua pihak. Utamanya orang tua. Kuncinya di sana,” imbuhnya.(all/cr3/wil/d)

Komentar Anda

Baca Juga