Beranda Berita Utama

Miris! Sehari Ada 8 Perempuan Diperkosa, Kabupaten Bogor di Garis Merah

BERBAGI
Ilustrasi pemerkosaan

BOGOR-RADAR BOGOR,Ruang aman bagi perempuan makin sempit. Dari data yang di­miliki redaksi, setiap hari­nya lebih dari seribu perempuan di negeri ini mengalami kekerasan. Di mana delapan orang di antaranya, menjadi korban pemerkosaan.

Angka miris tersebut, tertuang dalam catatan tahunan (CATAHU) Kom­nas Perempuan. Dalam pela­porannya, terdapat 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama 2017.

Rincian dari angka di atas yakni 335.062 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama, serta 13.384 kasus yang ditangani 237 lembaga mitra pengada layanan, tersebar di 34 provinsi. Yang mencengangkan, ada sebanyak 2.979 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan di tanah air. Atau sekitar delapan orang per hari.

Melihat realita menyedihkan itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, mengultimatum pemerintah khususnya Pemkab Bogor agar lebih memperhatikan kondisi sosial anak-anak di tengah masyarakat.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait menyatakan, Kabupaten Bogor berada di garis merah kasus kekerasan pada anak. Menurut dia, masyarakat saat ini sudah tidak saling memedulikan kondisi keselamatan anak-anak di lingkungannya.

Situasi tersebut dikhawatirkan memicu aksi kekerasan pada anak. Ia menegaskan, kontrol masyarakat dibutuhkan karena pelaku kekerasan tersebut melakukannya secara sadar atau tidak sedang mengalami gangguan psikologis.

Menurutnya, data di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Bogor tercatat kasus terkait mencapai 139 kali selama 2016. Sedangkan secara nasional, Arist menyebut angka kasus tersebut lebih dari 21 juta kasus dalam enam tahun terakhir. Lebih dari 50 persen di antaranya kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak-anak menjadi korban maupun pelaku.

Tren kasus pelecehan seksual, pemerkosaan dan sebagainya itu diyakini meningkat dalam tiga tahun terakhir. Kasus-kasus tersebut ia anggap sangat berpotensi melihat buruknya tata kota dan kepadatan penduduk di Kabupaten Bogor. “Maka dari itu, bupati harus membangun gerakan perlindungan anak di masing-masing kampung,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Terpisah, Psikolog Retno Lelyani Dewi mengatakan pemerkosaan yang banyak terjadi merupakan alarm bagi orang tua, guru dan masyarakat untuk lebih tanggap khususnya terhadap dengan anak-anak.

Pemerkosaan, kata dia, hanya akan terjadi jika ada dorongan atau niat dan kesempatan. Niat tentunya akan terbangun setelah pelaku menonton atau melihat, mendengar atau merasakan langsung sentuhan yang menjurus ke arah seksual.

“Kondisi internet yang deras, free wifi di mana-mana, tentunya memungkinkan anak-anak kita terpicu hasrat seksualnya,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin (11/7).

Sambung Retno, peluang orang tua, guru dan kita anggota masyarakat adalah meniadakan peluang terjadinya kekerasan seksual: pelecehan seksual, perkosaan, sodomi.

Untuk itu, lanjutnya, pentingnya melakukan dialog dari hati ke hati dengan anak-anak. Juga, kata dia, sensitif dengan perubahan pada diri anak, merangkul anak untuk merasa nyaman dengan kita, dan mengondisikan situasi keluarga yang nyaman dan terbuka.

“Jika orang tua merasa tidak mampu melakukan, segera bawa ke yang ahli. Psikolog, psikiater atau ahli agama. Jangan biarkan anak korban kekerasan mengalami depresi,” terangnya.(all/cr4/d)

Baca Juga