Beranda Metropolis

Empat Bulan Hidup dengan Bau Busuk

BERBAGI
CEK LIMBAH: Warga bersama Muspika Bogor Barat mengecek limbah maggot di RPH Bubulak. Limbah ini yang dikeluhkan warga selama empat bulan.

BOGOR-RADAR BOGOR,Hidup di kota tak menjamin warga RW 02 Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat, terhindar dari bau busuk. Sudah empat bulan mereka harus hidup dengan udara yang dicampur bau busuk dari sisa limbah maggot (belatung untuk pakan) yang berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH) Bubulak.

Aroma bau busuk kerap menyengat seakan menyambut datangnya pagi di RW 02 Kelurahan Semplak. Bukan hanya menghilangkan selera untuk sarapan, aromanya yang seperti bau bangkai itu kadang membuat warga mual ingin muntah. Kondisi tersebut terjadi sejak empat bulan lalu saat berdirinya tempat peternakan maggot di RPH Bubulak.

Warga RT 02/02 Kelurahan Semplak, Martono merupakan salah satu warga yang terdampak. Bersama warga lainnya, ia sempat mengadukan pada RT, RW, lurah, hingga camat. Namun, hingga sekarang belum ada penyelesaian dari aroma bau busuk tersebut.

“Itu berlangsung pagi sama sore, setiap dia ngasih makan peternakan maggot-nya itu. Kita sudah koordinasi ke RT, RW, lurah, sampai ke tingkat kecamatan tapi tidak ada penanganan yang serius,” keluhnya saat ditemui Radar Bogor, kemarin (11/7).

Ketika awal mula dipermasalahkan, pihak peternakan tidak mengakui bahwa bau busuk itu berasal dari tempat ternaknya. Namun, setelah keluhan warga dibagikan ke laman Facebook oleh salah seorang warga, kemudian mendapat respons dari camat.

“Camat turun tangan, sekarang sudah mengakui kalau itu baunya dari peternakan maggot,” terangnya.

Namun, hingga berlalu sampai empat bulan, belum ada langkah serius dari Pemkot Bogor. Nyatanya, bau busuk masih tetap menyengat setiap petang dan pagi hari.

Untuk itu, ikhtiarnya ia lanjutkan bersama warga lainnya untuk mengadukan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kemarin (11/7).

“Kami ke DLH untuk mengadukan soal polusi udara. Besok (hari ini) DLH menjanjikan mau sidak. Kalau sampai seminggu tidak ada, kami akan mengumpulkan warga saja untuk demo ke balaikota,” kata Martono.

Ketua RW 02 Kelurahan Semplak, Omang Rahmat membenarkan atas nestapa yang dialami sekitar dua ribu warganya. Wilayah yang terbagi menjadi lima RT itu, setiap hari menjadi dampak pencemaran udara dari RPH yang lokasinya dibatasi oleh Sungai Cisadane itu.

“Jadi, bukan cuma pencemaran udara, tapi juga pencemaran air.
Karena limbahnya langsung dibuang ke sungai,” ujarnya.

Kini, ia meminta agar peternakan tersebut ditutup secara permanen. Sebab, ia khawatir dampak jangka panjangnya dapat menim­bulkan penyakit.

Semenetara itu, Kepala DLH Kota Bogor Elia Buntang mengatakan, pihaknya siap menindaklanjuti aduan yang dilayangkan oleh masyarakat Semplak. Dalam waku dekat, pihaknya akan meninjau langsung lokasi budidaya maggot.

“RW sudah nelpon ke saya. Tapi saya bertindak atas dasar surat pengaduan dari masyarakat dulu. Baru kita melihat kenapa bisa bau budidaya maggot-nya,” tukasnya.

Terpisah, Direktur RPH Bubulak, Medi Sandora tak menampik adanya bau busuk di RPH Bubulak. Ia menduga bahwa aroma menyengat itu bermuara dari budidaya maggot yang memang berlokasi di area RPH Bubulak.

“Memang bau ini dari empat bulan yang lalu diduga dari budidaya maggot. Kemarin sudah disepakati, peternakan maggot itu dikasih waktu sebulan untuk diperbaiki budidayanya agar tidak bau,” ujarnya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghilang­kan bau busuk dari peternakan maggot. Mulai dari mengangkut limbahnya hingga menanami bambu sebagai pembatas untuk wilayah permukiman warga.

“Dari 10 Juli ke 10 Agustus dikasih waktu. Sekarang mereka mau mengubah pakan dengan cara fermentasi, mudah-mudahan baunya jadi hilang,” katanya.(fik/c)

Baca Juga