Beranda Olahraga

Seperti Russian Roulette

DUKUNGAN: Warga Rusia dengan
mengenakan replika mahkota dan bendera negara, ikut meramaikan Piala Dunia.

MOSKOW– RADAR BOGOR, Rusia memang kalah menyesakkan lewat adu tendangan penalti melawan Kroasia di perempat final. Namun, rakyat Negeri Beruang Merah sangat bangga kepada para pahlawan mereka. Tidak perlu sedih. Tak perlu ada sesal. Sebab, Rusia sudah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.

Mimpi besar Rusia untuk mencapai semifinal, lalu final, dan lantas menjadi juara Piala Dunia 2018 kandas. Pada perempat final, Sbornaya –julukan timnas Rusia– dihentikan Kroasia melalui pertandingan penuh drama yang berakhir dengan kekalahan via adu penalti dengan skor 3-4.

“Laga ini seperti russian roulette. Ya, memang ada sedikit ketidak beruntungan,” kata Alexander ‘Sasha’ Vasiliev, seorang pekerja bidang teknologi asal Moskow kepada Jawa Pos (induk Radar Bogor) di luar FIFA Fan Fest Saint Petersburg.

“Memang agak sedih, tetapi sedikit. Saya sangat bangga karena mereka sudah berjuang dengan sangat keras. Kami sudah melakukan hal luar biasa di Piala Dunia ini,” tambah dia.

Sasha benar. Rusia hadir ke Piala Dunia 2018 dengan status tim dengan peringkat terendah FIFA. Namun ternyata mereka tampil sangat luar biasa. Secara kualitas para penggawa serta permainan mereka, kita bisa berdebat.

Namun, yang absolut dari timnas Rusia 2018 adalah semangat mereka yang luar biasa. Apalagi ini adalah perempat final pertama Rusia dalam sejarah mereka di Piala Dunia.

Sama seperti saat me­nyingkirkan calon juara Spanyol pada babak 16 besar, Rusia juga sama sekali tidak diunggulkan ketika menghadapi Kroasia. Namun mereka tampil hebat dengan terlebih dahulu mencetak gol melalui Denis Cheryshev pada menit ke-31. Saat gol itu terjadi, suasana Fan Fest dan jalanan kota St Petersburg sangat pecah.

Suasana heboh dan amat riuh. Teriakan dan yel-yel “Raz-i-ya…! Raz-i-ya…! Raz-i-ya…!” terus meng­gema. FIFA Fan Fest St Peters­burg yang mampu me­nampung 15 ribu orang itu penuh sesak dengan para penonton. Bahkan, sekitar 1,5 jam sebelum kick-off, Fan Fest sudah ditutup. Hanya wartawan terakreditasi yang boleh masuk.

Padahal, masih ada ribuan orang yang mengantre. Namun sekitar 300 meter sebelum pintu utama, puluhan polisi berwajah dingin sudah menutup jalan masuk dengan barikade besi.

Namun itu tidak menyurutkan antusiasme warga. Mereka lantas berbalik arah dan menonton bareng di manapun.

Di kafe, bar, restoran, di jalanan, melalui smartphone, di mana saja. Saat Kroasia menyamakan kedudukan dan lantas berbalik unggul lewat Domagoj Vida pada babak pertama perpanjangan waktu, mereka tidak kehilangan semangat.

Harapan mereka terbayar ketika bek naturalisasi asal Brasil Mario Fernandes menya­makan kedudukan lima menit sebelum perpanjangan waktu usai. Saat gol itu terjadi, suasana menjadi luar biasa bising. Orang-orang menggila. Kete­gangan mencapai puncak saat adu penalti. Dan saat Rusia kalah, para penonton tampak tak terlalu kecewa. Ada yang menangis memang. Namun setelah itu mereka ceria lagi.

Di jalanan, lagu kebangsaan Rusia Gosudarstvennyy Gimn Rossiyskoy Federatsii diputar keras berkali-kali. Para pen­duduk Saint Petersburg terus bernyanyi penuh semangat mengikuti musik yang menghentak itu. Bahkan, kehebohan di jalanan belum padam sampai pukul 04.00 dini hari waktu setempat.

“Ini pertama kalinya kami mencapai perempat final. Jadi buat apa bersedih,” tandas Evgenia Popova, warga setempat, yang juga nonton di Fan Fest.

“Meraih piala itu butuh proses. Tidak bisa langsung. Kami bermain dengan penuh harga diri, jadi tak perlu ada yang disesali,” lanjut pria yang berprofesi pengacara tersebut dengan bijak.(*/na)

Baca Juga