Beranda Ekonomi

Konsumsi Listrik di Bawah Target

BERBAGI
PEMBOROSAN: Penerangan jalan umum dibiarkan menyala. Di sisi lain, PLN menyatakan konsumsi listrik masih di bawah target.

JAKARTA–RADAR BOGOR,Konsumsi listrik pada periode Januari hingga Mei 2018 hanya tumbuh 5,09 persen. Angka itu lebih ren­dah dibandingkan target dalam RUPTL (rencana usaha pe­nyediaan tenaga listrik) 2018–2027 yang dipatok 7 persen pada 2018.

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero) Syofvi F. Roekman menyatakan, meski konsumsi listrik masih di bawah target, pertum­buhannya tetap lebih baik dibandingkan 2017 lalu.

’’Dari 2016 ke 2017 kan rendah sekali. Nah, sekarang ini lebih baik di angka 5,1 persen tetapi masih di bawah target RKAP,” ujarnya kemarin (10/7).

Pada 2017, konsumsi listrik hanya tumbuh 3,57 persen dibandingkan 2016. Sedangkan saat ini konsumsi listrik mulai terdongkrak sektor industri yang mampu tumbuh 7–8 persen. ’’Kemarin (industri) agak ngejar target sebelum Le­baran. Teta­pi, kita belum lihat lagi nanti sete­lah Lebaran karena libur pan­jang turun (konsumsi listrik),” urai Syovfi.

Bukan hanya industri, permin­taan listrik di sektor rumah tangga juga mulai pulih. Karena itu, diperlukan permintaan yang cukup guna mendorong kenaikan konsumsi listrik.

Salah satunya kawasan industri maupun masifnya penggunaan peralatan listrik seperti kompor listrik dan kendaraan listrik. PLN sendiri dalam RUPTL 2018–2027 menyasar pasokan listrik di kawasan industri yang berpotensi mengerek permintaan.

Antara lain di sejumlah kawa­san ekonomi khusus (KEK). Untuk suplai ke kendaraan listrik, PLN telah memiliki 875 unit SPLU (stasiun pengisian listrik umum) low charging di Indonesia.

Targetnya, hingga akhir tahun, dapat terbangun 1.000 SPLU di seluruh Indonesia.

’’PLN prin­sipnya mendukung karena ada kebutuhan listrik yang besar,” imbuhnya. Selain low charging, PLN berniat mem­bangun SPLU fast charging tahun ini.

’’Ada permintaan fast charging ke kami. Ke depannya untuk kebutuhan studi akan dilaku­kan, tidak masif seperti SPLU. Ki­ta tentukan titik untuk fast charging,” terangnya.

Investasi untuk fast charging memang terbilang mahal, yakni berkisar USD 10 ribu per stasiun. Tahun ini PLN berniat un­tuk melakukan uji coba dengan memasang beberapa SPLU fast charging di Jakarta.

’’Kurang lebih seperti uji coba kalau SPLU kan sudah jelas. Kalau yang fast charging nanti kami akan li­hat kebutuhannya berapa,” pung­kasnya.(vir/c17/oki)

Komentar Anda

Baca Juga