Beranda Berita Utama

Dataran Tinggi Dieng setelah Diselimuti Bun Upas

SUDAH BIASA: Lahan kebun kentang di kawasan Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, yang diselimuti embun es alias bun upas

Basah, mengeras, kering, kemudian mati. Begitulah nasib kebun kentang di Dataran Tinggi Dieng setiap bun upas turun. Meski begitu, bagi sebagian masyarakat setempat, bun upas memberikan berkah. Kedatangannya ditunggu-tunggu.

SAHRUL YUNIZAR, Banjarnegara-Wonosobo

JUMAT (6/7) pagi itu seperti biasa Purwandi berikut perkakas bertaninya sudah bersiap berangkat. Selepas subuh, pria 52 tahun tersebut bergegas menuju kebun kentang miliknya. Hawa dingin menusuk tulang di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, pagi itu tak dihiraukannya.

Kebun kentang tersebut terletak satu kompleks dengan Candi Arjuna di Dusun Karangsari, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Lokasi itu hari-hari ini sedang diselimuti kabut tebal dan embun es yang oleh warga setempat disebut bun upas.

Meski sudah terbiasa dengan kehadiran bun upas, Purwandi tetap tidak berharap tanaman kentangnya mati sia-sia. Tapi, apa daya, embun es ternyata telah menyelimuti kebunnya. ’’Waduh, mati semua…,’’ ujarnya kepada Jawa Pos sambil menunjuk kebun kentang di hadapannya.

Kawasan Candi Arjuna merupakan salah satu destinasi wisata di Dataran Tinggi Dieng yang paling parah terdampak bun upas. Belasan hektare kebun kentang dipastikan gagal panen. Salah satunya milik Purwandi. Sekali panen, kebun Purwandi paling banyak menghasilkan 4 kuintal kentang.

Meski tidak banyak, tetap saja gagal panen itu sangat merugikan keluarga Purwandi. Sebab, kentang merupakan salah satu komoditas pertanian yang diandalkan keluarga Purwandi untuk menyambung hidup.

Walau tidak semua kentang yang kena ’’serangan’’ bun upas busuk, embun es itu tetap saja merepotkan para petani. Pasalnya, kehadiran bun upas tidak bisa diprediksi dan dihindari. ’’Setiap tahun pasti (bun upas) turun,’’ ucap Purwandi.

Menurut dia, bun upas paling dahsyat biasanya turun dalam bulan Agustus. Selain berlangsung lama, volumenya banyak. Tidak hanya mematikan berhektare-hektare kebun kentang, tapi juga tanaman lain, termasuk rumput-rumput.

’’Waktu turun Jumat (6/7), belum semua kena. Kalau parah, semuanya mati,’’ ucapnya.

Untuk itu, Purwandi sudah memutuskan untuk tidak menanam kentang sampai Agustus nanti. Dia tidak ingin gagal panen lagi. Karena itu, sambil menunggu waktu yang pas, dia memilih bekerja serabutan. ’’Yang penting bisa makan,’’ ujarnya.

Hal yang sama dialami Sri Rejeki. Perempuan 54 tahun tersebut tampak pasrah saat Jawa Pos menemuinya di kebun kentangnya. Satu per satu tanaman kentang dia cabuti. Sama dengan milik Purwandi, daun kentang yang ditanam Sri sudah kering. ’’Mati semua dimakan bun upas,’’ tuturnya.

Meski kecewa lantaran kentang yang ditanam mati, dia tetap bersyukur. Sebab, biasanya tanah perkebunan mereka bakal jauh lebih subur setelah diselimuti bun upas. ’’Hasil panennya bisa dua kali lipat dari biasanya,’’ kata Sri.

Misalnya, untuk kebun yang biasanya menghasilkan satu kuintal setiap kali panen, setelah diselimuti bun upas, kelak panennya bisa jadi 2 kuintal. Para petani yakin, setelah menelan pahit lantaran bun upas menggagalkan panen, embun es itu juga akan melipatgandakan hasil pertanian mereka.

Namun, menurut Kepala Balai Tanaman Sayur Kementerian Pertanian (Kementan) Catur Hermanto, tidak ada hubungan antara hasil panen musim berikutnya dan bun upas yang turun. Kalau toh ada peningkatan jumlah panenan, kata dia, sangat mungkin penyebabnya bukan bun upas. Melainkan, embun tersebut turun bersamaan dengan udara dingin yang bisa mematikan patogen penyebab penyakit tanaman kentang.

’’Berkurangnya inokulum patogen akan berpengaruh pada kesehatan tanaman di musim berikutnya,’’ terangnya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin. ’’Karena lebih sehat, hasil taninya lebih baik,’’ imbuhnya.

Petani kentang lainnya, Mujiono, punya keyakinan yang sama dengan Sri. Dia percaya bun upas akan melipatgandakan hasil panen kentang miliknya musim depan. ’’Kebun saya sekali panen 2 kuintal. Nanti bisa 4 kuintal,’’ ucap pria berumur 60 tahun itu.

Bagi petani kentang di Dataran Tinggi Dieng, bun upas sebenarnya hal biasa dan sudah sering mereka alami. Hanya, baru-baru ini, turunnya bun upas itu ramai dibicarakan lantaran foto dan potongan videonya menyebar ke mana-mana lewat jagat maya. Banyak orang yang kaget lantaran embun di tanaman berubah menjadi es dan menyerupai salju di Dataran Tinggi Dieng.

’’Memang (bun upas) bisa digundukkan seperti salju. Tapi, itu biasa,’’ ucap Mujiono.

Petani kentang di tempat yang berada di ketinggian 2.000 mdpl itu saban tahun menjumpai bun upas menyelimuti perkebunan mereka. ’’Tapi, nanti diganti lebih banyak karena tanahnya jadi subur,’’ imbuhnya.
Karena itu pula, masyarakat Dataran Tinggi Dieng sama sekali tidak terpengaruh. Mereka tetap sehat-sehat saja meski bun upas turun bersamaan dengan cuaca ekstrem yang terjadi hampir di seluruh Jawa. ’’Sudah biasa semua di sini,’’ tegas Mujiono.

Akhir pekan lalu, Dataran Tinggi Dieng kebanjiran wisatawan. Sebagian wisatawan penasaran ingin mengetahui lebih jauh fenomena embun es yang melanda Dieng. Karena itu, kunjungan wisatawan tersebut dimanfaatkan warga untuk mengais rezeki tambahan. Misalnya, yang dilakukan Mujiono yang juga bekerja sebagai pemandu wisata di Candi Arjuna.

’’Bagi kami, kedatangan bun upas juga kami tunggu. Soalnya, juga menghasilkan tambahan rezeki,’’ tutur Mujiono.

Selain positif bagi destinasi wisata, bun upas punya sisi baik bagi produsen manisan carica. Pepaya gunung yang tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng itu merupakan salah satu jenis tanaman yang tahan bun upas.

Sedahsyat apa pun bun upas menerjang, carica yang sudah tumbuh besar tidak akan mati. Malah bisa jadi semakin subur akibat efek bun upas terhadap tanah.

Chamdi, 50, salah seorang produsen manisan carica kenamaan di Dataran Tinggi Dieng, memastikan bahwa carica tidak terpengaruh bun upas. Sebaliknya, bun upas mendongkrak penjualan carica. Toko oleh-oleh miliknya di Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, semakin ramai lantaran banyak wisatawan yang datang. ’’Sehari saya produksi seribu cup (manisan) carica,’’ ucapnya.

Dulu pemilik merek Rumah Carica Murni Alami itu sempat bertani kentang seperti kebanyakan warga Dataran Tinggi Dieng lainnya. Namun, bisnisnya sulit berkembang. Nasib Chamdi berubah begitu mulai memproduksi manisan carica delapan tahun lalu. Kini manisan carica yang dia produksi banyak dicari wisatawan untuk oleh-oleh.

Lantaran carica tahan serangan bun upas, Chamdi tidak takut saat embun es itu turun. Sebab, suplai carica tidak akan terganggu. ’’Carica kuat, ndak mati kena bun upas,’’ katanya. (*/c5/ari)

Baca Juga