Beranda Berita Utama

Tokoh-Tokoh yang Berusaha Merekatkan Hubungan Indonesia dan Rusia (2-Habis)

BERBAGI
BANGGA: Victor Pogadaev dengan kamus bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia yang dia susun di rumahnya, di Moskow, akhir Juni lalu.

Victor Pogadaev penulis kamus bahasa Rusia-Indonesia pertama dan satu-satunya di dunia. Dia juga turut menerjemahkan berbagai karya sastrawan Indonesia. Di antaranya, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail.

AINUR ROHMAN, Moskow

BERBARING di atas tikar, di tengah kepungan udara panas Jakarta, Victor Pogadaev mulai membaca buku yang baru dia beli. Juga, dengan segera dia takjub. Tidak bisa berhenti menikmatinya.

”Plot dan ceritanya menarik. Begitu pula bahasanya, penuh dengan metafora. Segalanya ada di sana,” kata Pogadaev kepada Jawa Pos yang menemuinya di Moskow akhir Juni lalu.

Buku yang dimaksud adalah Bumi Manusia, mahakarya sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Pogadaev membelinya saat buku itu kali pertama terbit dan kemudian menimbulkan kehebohan pada 1980.

”Bumi Manusia itu begitu bagus. Pramoedya itu mungkin setara dengan (Fyodor) Dostoevsky. Romannya sangat psikologis,” katanya. Pogadaev ketika itu bekerja sebagai staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta.

Dostoevsky (1821–1861) adalah sastrawan dan filsuf terkenal Rusia. Seperti Pram yang pernah mendekam di Pulau Buru, dia juga pernah menghabiskan empat tahun di kamp Siberia. Di antara karya-karya terkemukanya, ada Notes from Underground (1864), Crime and Punishment (1866), dan The Brothers Karamazov (1880).

***

Pogadaev bekerja sebagai staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Indonesia sampai 1982. Ketika itu Orde Baru berada di puncak kejayaan. Jadi, hubungan Uni Soviet dan Indonesia tentu saja sangat renggang. Berbeda sekali dengan kehangatan kedua negara ketika zaman Presiden Pertama RI Soekarno.

Meskipun demikian, saat itu hampir semua staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta mahir berbahasa Indonesia. Mereka adalah anak-anak muda yang terlebih dulu mendapatkan pelatihan berbahasa Indonesia dari beberapa akademi dan lembaga kursus pada akhir 1960-an.

Ketika relasi dengan Uni Soviet sangat erat, Indonesia memang mendapatkan banyak bantuan tenaga profesional dari negeri tersebut. Dampaknya, Uni Soviet membutuhkan banyak sekali ahli bahasa Indonesia.

Menurut Pogadaev, dari semua kantor perwakilan negara asing di Indonesia, Kedutaan Besar Uni Soviet adalah lembaga yang paling top dalam penguasaan bahasa Indonesia. ”Kondisinya sekarang berbeda. Hampir tidak ada staf kedutaan Rusia di Jakarta yang bisa berbahasa Indonesia,” ucapnya.

Setelah dari Indonesia, Pogadaev bekerja di Kedutaan Besar Uni Soviet di Kuala Lumpur sampai 1989. Selepas itu, dia mengabdikan diri dalam bidang pendidikan dan meniti karier sebagai penyusun kamus alias leksikografer.

Pada 1990-an, Pogadaev sempat menyusun kamus bahasa Melayu-Rusia dan bahasa Rusia-Melayu. Ketika hendak mencetak ulang kamus tersebut di Moskow, seorang tokoh penerbitan di Malaysia mendorong Pogadaev untuk menulis kamus bahasa Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia dalam jumlah penduduk. Jadi, kamus tersebut bisa sangat berguna. Begitu kata sang tokoh penerbitan.

Pogadaev sepakat dengan usulan itu. Setelah proses panjang dan sangat berat, pada 2004 untuk kali pertama kamus bahasa Rusia-Indonesia terbit di Moskow. Itu adalah kamus bahasa Rusia-Indonesia pertama yang lahir di dunia.

Ketika itu Pogadaev bekerja sama dengan ahli bahasa lain yang bernama L.N. Demidyuk. Kamus tersebut terdiri atas 25.000 kata.

Sebelumnya, pada 1997, Pogadaev juga membikin panduan percakapan bahasa Rusia dan Indonesia. Namun, karya tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kamus yang dia susun.

Setelah kamus itu terbit, Pogadaev tidak mau berhenti. Pada 2008, bersama penerbit dari Moskow, Russky Yazik-Media, dia menerbitkan kamus serupa. Tetapi, kali ini lebih ambisius: dua bab dalam satu buku. Yakni, bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia. Tebalnya menembus 1.136 halaman. Terdiri atas 60.000 kata.

Setelah kamus itu hadir, dia menulis surat kepada penerbit Gramedia di Jakarta. Isinya meminta kerja sama agar kamus yang sama bisa terbit di Jakarta. Gramedia setuju.

Juga, setelah proses yang menurut Pogadaev sangat menyenangkan, kamus tebal bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia akhirnya terbit di Jakarta. Namun, yang ini tidak setebal terbitan Moskow karena ”hanya” memuat 35 ribu kata. ”Oplahnya sektar 5.000. Jadi, cukup laris,” terang Pogadaev.

Selain terjemahan, kamus-kamus Pogadaev juga dilengkapi dengan gambar. Jadi, bukan cuma terjemahan kata, melainkan juga buku yang memberikan pandangan soal kebudayaan. Misalnya, kalau ada kata keris dalam kamus tersebut, orang Rusia tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab, memang ada gambar keris di sebelahnya.

Kesulitan terbesar bagi Pogadaev adalah banyaknya kata baru yang belakangan muncul dan mewarnai khazanah bahasa Indonesia. Jadi, dia menggunakan arsip koran untuk melakukan penelitian. ”Misalnya kata merakit. Dulu, rasanya, itu tidak ada. Sekarang ada,” katanya.

Bagi Pogadaev, belajar bahasa Indonesia dengan sangat serius sama sekali tidak mudah. Seorang koleganya, akademisi dari Inggris, mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah jenis yang gampang. Sebab, tata bahasanya tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan bahasa Inggris.

Namun, di balik kemudahan itu, ada kesulitan besar yang terkandung dalam bahasa Indonesia. Akademisi Inggris tersebut akhirnya mengakui. Semakin dalam belajar, makin banyak hal rumit yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. Salah satunya, bahasa Indonesia memakai banyak kalimat pasif. Hal itu tidak sering dipakai dalam bahasa Rusia.

Selain itu, dalam bahasa Indonesia, sangat penting meletakkan kata dengan sangat pas dalam sebuah kalimat. Kalau tidak begitu, artinya sangat berlainan. Misalnya, kalimat ”aku cinta kamu” tidak lantas bisa diganti menjadi ”kamu cinta aku”. Sebab, artinya akan berlainan.

Berbeda dengan bahasa Rusia. Kalimat I love you dalam bahasa Rusia, ya lyublyu tebya, bisa dibolak-balik. Antara lain menjadi lyublyu ya tebya, ya tebya lyublyu, atau tebya lyublyu ya. Namun, ketiganya tetap memiiki arti yang sama: Aku cinta kamu.
***
Saat ini Pogadaev bekerja sebagai profesor di Institut Hubungan Internasional Rusia (MGIMO) yang berada di bawah kendali Kementerian Luar Negeri Rusia. Dia tentu saja mengajar bahasa Indonesia. Ada empat guru bahasa Indonesia yang berkarier di sana. Tahun ini, rencananya, ditambahkan satu pengajar lagi.

Awalnya, bahasa Indonesia tidak diajarkan di MGIMO. Hanya ada bahasa Jepang, Tiongkok, Arab, Korea, dan Vietnam. Namun, pemerintah Rusia memberikan teguran dan mengharuskan pembukaan kelas berbahasa Indonesia. ”Ini akibat kesulitan yang ditimbulkan kedutaan di Jakarta yang nyaris semua stafnya tidak bisa berbahasa Indonesia,” papar dia.

Selain menjadi akademisi dan peneliti, Pogadaev aktif dalam penerbitan antologi sastra Indonesia di Rusia. Dia sudah menyusun enam buku antologi sastra Indonesia.

Dia juga menerjemahkan buku berjudul Mencari Mimpi yang memuat karya-karya para sastrawan terkemuka Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail.

Proyek terbarunya adalah buku berjudul Puisi dari Leher Gunung, sebuah antologi puisi kontemporer para penyair perempuan Indonesia. Dia bekerja sama dengan sastrawan Indonesia Hilda Winar. Rencananya, akhir tahun ini buku itu terbit di Moskow.

Yang juga cukup menyita waktu Pogadaev adalah posisinya sebagai wakil presiden Perkumpulan Nusantara. Organisasi itu terdiri atas pakar-pakar Asia Tenggara dari kampus paling prestisius di Rusia, Moscow State University.

Tahun ini Perkumpulan Nusantara sudah berusia 50 tahun. Mereka telah menerbitkan 20 buku. Seluruhnya berisi kajian budaya Melayu-Indonesia. ”Jadi, saya kira, untuk merekatkan hubungan kedua bangsa, penting sekali belajar bahasa­nya.

Ini agar kedua bangsa besar yang dulu sangat erat ini bisa saling mengenal kembali,” imbuhnya.(*/c11/ttg)

Komentar Anda

Baca Juga