Beranda Berita Utama

Suhu Menusuk Tulang sampai September

JAKARTA–Hawa dingin akan terus terasa di Indonesia. Beberapa hari terakhir, warga Barlingmascakeb merasakan suhu yang lebih dingin dibanding sebelumnya. Bahkan, kawasan Dieng diselimuti ’salju’.Luasan area yang diselimuti embun es (bun upas) diperkirakan mencapai belasan hektare.

Warga Dieng Diqda Subagyo mengatakan, berdasarkan pengukuran termometer, suhu pada Jumat (6/7) pagi minus lima derajat Celsius. “Dingin banget pokoknya,” paparnya.

Menurut dia, bun upas terbentuk ketika mulai pukul 19.00. Bun upas yang paling luas terjadi di sekitar kompleks Candi Arjuna. “Diperkirakan luasnya mencapai 15 hektare,” terangnya.

Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang suhu terendahnya hingga 6 derajat Celsius. Kepala Desa Ngadas Mujianto menjelaskan, suhu berkisar antara 6–10 derajat Celsius jika malam hari. Pada siang hari, suhu maksimalnya hanya 19 derajat Celsius. “Lebih dingin dari biasanya,” kata Mujianto, Sabtu (7/7).

Ngadas memang selalu bersuhu dingin. Namun beberapa hari belakangan cuacanya lebih dingin. Warga menghadapinya dengan beragam cara. Ada yang memakai jaket dan selimut berlapis, serta penutup kepala lengkap. Tujuannya untuk mengurangi rasa dingin.

Wisatawan asal Malang, Aris Kus merasa beberapa hari cuaca dingin. Saat mengantarkan saudaranya hendak ke Gunung Semeru melalui Ngadas, dia merasa cuaca lebih dingin.

Untuk menangkal hawa dingin, dia mengenakan sarung tangan lengkap dengan penutup kepala dan telinga serta jaket tebal. Khusus untuk jaket, dia kenakan jaket dari bulu angsa.

Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jabar, Muhamad Iid Mujtahdiddin mengatakan, perubahan cuaca seperti itu adalah fenomena umum. “Hal ini disebabkan adanya angin pasat tenggara atau timur yang bertiup dari Benua Australia,” kata dia.

Ia menjelaskan, suhu pada sore menjelang malam hingga pagi relatif dingin. Menurut warga, kata dia, suhu dingin ini merupakan fenomena baru. Namun pada siang hari cuaca berubah panas karena sedikitnya pembentukan awan-awan hujan.

Iid menilai, saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau, khususnya Jawa Barat. Namun, wilayah Benua Australia sedang musim dingin dan puncaknya diprediksi akan terjadi pada Juli, Agustus sampai September.

Berdasarkan alat pengukur suhu, kata dia, Juli ini merupakan suhu terendah karena mencapai 16,4 derajat Celsius. Seperti yang terjadi pada Jumat (6/7) dengan kondisi kelembapan yang relatif rendah berada pada nilai 38 persen.

Cuaca ini ternyata memicu berbagai penyakit. Catatan Ahli Endoskopi Gastrointenstinal yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam mengungkapkan bahwa suhu udara Jakarta berada pada titik 24 derajat Celsius, bahkan jika terus bergerak ke arah barat, Depok dan Bogor, suhu udara berada pada titik di bawah 20 derajat.

Menurut beberapa laporan, di Bandung suhu pada malam hari mencapai 17 derajat Celsius. Sementara itu di Purworejo mencapai 22 derajat Celsius. Secara rata-rata penurunan suhu terjadi  pada kisaran 20-30 persen dari hari-hari biasa.

“Tentu perubahan penurunan suhu udara yang ekstrem ini perlu diantisipasi. Saya coba mengidentifikasi dua penyakit yang bisa timbul jika terjadi perubahan suhu udara yang ekstrem saat ini,” tegas Ari.

Selain ada dua jenis penyakit yang harus diantisipasi, ada juga kelompok masyarakat yang berisiko. Antara lain asma (sesak napas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin timbul bentol-bentol dan gatal.

Kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir, dan kadang kala timbul mimisan harus diwaspadai. Jika paparan udara dingin terus berlangsung hingga terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia), hal ini tentu akan mengganggu masyarakat.

Selain itu, perubahan cuaca ekstrem ini akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Menjadi mudah terjangkit penyakit infeksi virus atau bakteri. Umumnya berupa infeksi saluran pernapasan atas. Jika tidak diantisipasi, penyakit tersebut berlanjut menjadi infeksi pada paru.

Ada kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin, yaitu para usia lanjut, anak dan balita. “Masyarakat dengan penyakit kronis, misalnya mempunyai penyakit diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah serta individu  yang mempunyai masalah dengan tiroid,” katanya.(jp)

Baca Juga