Beranda Metropolis

Polisi Terus Buru Perakit Bom Bangil

BERBAGI
Ilsutrasi Densus 88 Tangkap Terduga Teroris

SURABAYA-RADAR BOGOR,Terduga teroris Bangil, Kabupaten Bangil, Anwari alias Abdullah belum juga tertangkap. Kemarin (6/7), polisi menyisir sejumlah lokasi untuk menangkap pria yang di rumahnya terjadi empat ledakan bom pada Kamis lalu (5/7) itu.

Anwari sangat berbahaya karena ketika melarikan diri membawa bom. Di rumahnya pun ditemukan bom aktif selain bom yang sudah diledakkan. Polres jajaran se-Jatim diminta untuk meningkatkan frekuensi patroli untuk mempersempit ruang geraknya. Tiga Pilar Jatim, Kapolda, Gubernur, dan Pangdam V Brawijaya, meminta masyarakat untuk berperan aktif mengamankan wilayahnya.

Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan, warga harus segera melapor ke pihak berwajib apabila ada yang baru di sekitarnya. Kebaruan itu menyangkut soal tetangga baru, perilaku baru, dan tindakan yang aneh-aneh di luar pakem warga.

”Laporkan ke RT, RW atau Babinsa dan Bhabinkamtibmas,” katanya.

Warga Jatim yang harus aktif membantu dari semua golongan dan pekerjaan. Mulai dari ibu rumah tangga hingga sopir bus atau angkot. Sebab, kendaraan itulah yang paling mungkin digunakan pelaku untuk melarikan diri selain mengendarai motor miliknya.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera juga menghimbau para sopir secara khusus untuk memperhatikan calon penumpangnya. Siapa tahu Anwari naik. ”Perawakannya sedang, hidungnya mancung dan punggungnya terluka. Kalau itu muncul segera lapor,” katanya.

Beberapa lokasi yang bakal jadi hotspot teroris itu adalah tempat perpindahan moda transportasi, penginapan hingga perkampungan padat di Jatim.

Moda transportasi yang sangat mungkin digunakan adalah bus dan ojek. Sebab, pelaku bisa leluasa dengan bermodalkan uang cash. Tanpa perlu menyerahkan identitas apa pun.

Sejumlah anggota tertutup dari Polda Jatim juga dikerahkan untuk memburu pelaku. Mereka disiagakan di tempat perpindahan moda transportasi. Gunanya untuk melakukan identifikasi. Sedangkan untuk urusan deteksi dini dan cegah dini, Tiga Pilar justru memercayakan hal tersebut kepada masyarakat Jatim yang mulai peka terhadap lingkungan sekitar.

”Yang di Bangil itu contoh yang bagus sekali. Babinsa dan Bhabinkamtibmas terlibat langsung karena masyarakat melapor,” kata Soekarwo.

Di Surabaya, Polrestabes menerjunkan tim Respatti (Respon Cepat Tindak) di Stasiun Pasar Turi kemarin (6/7). Tim berpakaian serbahitam itu berjalan menyebar ke seluruh sudut sambil berinteraksi.

”Ini pencegahan untuk mempersempit ruang gerak mereka (teroris). Karena tidak menutup kemungkinan ini jalur perpindahan mereka,” kata Katim Respatti Ipda Ardian Wahyudi.

Noordin M Top Pernah Tinggal di Bali

Banyak yang heran, kenapa wilayah tapal kuda marak kasus terorisme. Pasca-aksi Dita Oepriarto cs dalam serangan bom di Surabaya pada medio Mei lalu, gelombang penangkapan banyak terjadi di kawasan Pasuruan dan Probolinggo. Padahal, kawasan itu dikenal sebagai mulut tapal kuda, yang masyarakatnya mayoritas nadhliyin. Sangat jauh dari paham radikal.

”Ini memang menimbulkan salah kaprah. Ghirah (semangat) keagamaan di kawasan itu memang tinggi. Tapi, di sana yang hidup tidak hanya NU,” kata mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyyah Jawa Timur Ali Fauzi.

Pasuruan-Probolinggo memang salah satu miniatur ghirah keagamaan di Indonesia. Yang berkembang di sana tidak hanya NU. Tetapi juga banyak organisasi aliran dalam Islam. Mulai dari Persis, Wahabi, Salafi, bahkan Syiah juga ada di sana.

Untuk dipersempit lagi, yakni untuk kalangan jaringan teror, kawasan ini tidak pernah kekurangan tokoh. Jaringan mereka hidup di sana. Salah satu contohnya, adalah dulu gembong teroris asal Malaysia Noordin M Top bersembunyi lama di Bangil. Dia tinggal bersama istrinya Munfiatun yang ditangkap pada 2005. Noordin sendiri juga ditembak mati pada 2009.

Selain Noordin, almarhum Sonhadi, mantan anggota Jamaah Islamiyyah, yang kemudian menjadi juru bicara Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) –yang menjadi cikal bakal JAD– juga adalah kelahiran Bangil. Itu menunjukkan bahwa kawasan tersebut tidak asing dengan pergolakan pemikiran, dan menjadi tempat berkembangnya banyak aliran dalam Islam. Termasuk pula di antaranya adalah kelompok takfiri model ISIS.

”Jadi, ya wajar-wajar saja banyak penangkapan di sana. Sebab, banyak kelompok mereka yang berasal dari sana,” terang adik bomber Bali Amrozi tersebut.
Menurut Ali Fauzi, Jawa Timur memiliki sejarah menjadi salah satu markas jaringan terorisme. Termasuk Surabaya.

”Perlu dilihat lagi, kasus Ambon dan Poso dulu, transitnya sudah pasti melalui Surabaya terlebih dahulu,” ungkapnya.(ano/mir/yon/idr/ang)

Baca Juga