Beranda Berita Utama

Perang Dagang Bikin Rupiah Kian Terpuruk

ilustrasi rupiah (Jawapos)

JAKARTA–RADAR BOGOR,Terompet perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang ditiup kemarin membuat nilai tukar rupiah atas dolar AS semakin terperosok cukup dalam. Berdasarkan data Jisdor, kurs tengah rupiah pada Jumat (6/7) sudah mencapai Rp14.409 per dolar. Dengan posisi jual Rp14.481 dan beli Rp14.337.

”Faktor utama pelemahan rupiah tentu gejolak eksternal, yakni perang dagang AS-Tiongkok dan kebijakan The Fed yang cenderung terus menaikkan tingkat suku bunga,” ujar Direktur Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Toto Pranoto.

Hal tersebut, menurutnya, membuat permintaan akan dolar meningkat (over demand). Sehingga posisinya terus menguat dan rupiah terus menurun. ”Intervensi BI dengan meningkatkan suku bunga acuan keliatannya belum cukup efektif dalam mengerem laju depresiasi rupiah,” pungkas Toto.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira bahkan memprediksi rupiah akan melemah hingga Rp14.700 pada akhir Juli. Menurutnya, posisi Indonesia dirugikan akibat perang dagang, karena berada di bawah global supply chain sebagai negara pemasok bahan baku AS dan Tiongkok.

Hal senada diungkapkan Pengamat Ekonomi STIE Kesatuan Syaifuddin Zuhdi bahwa produk asal Tiongkok bisa terbilang melimpah di Indonesia. Meski produk AS tidak sebanyak Tiongkok di Indonesia, tapi kedua negara itu diyakini berpengaruh cukup kuat di Asia.

“Masing-masing punya kekuatan. Amerika bagaimana caranya sedang ingin masuk ke Indonesia juga,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin (6/7).

Kini, dampak dari perang dagang kedua negara itu adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Terpisah Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Sutrisno mengatakan bahwa pihaknya sedang mempelajari celah dari pengetatan perdagangan.

”Bagi eksportir, kita harus mencari komoditas dari Tiongkok yang dikenakan tambahan tarif ke AS. Lalu, kita perbesar produksi komoditas tersebut dengan mencari pembeli atau importir dari AS. Begitu juga sebaliknya,” ujar Benny kemarin (6/7).

Menurut proyeksi Benny, hubungan dagang Indonesia dengan Tiongkok relatif aman dari kemungkinan hambatan atau peningkatan bea masuk. Sebab, Indonesia dengan Tiongkok mempunyai perjanjian comprehensive economic partnership agreement (CEPA). ”Berbeda dengan AS. Jadi lebih sulit,” tambah Benny.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta Kamdani mengungkapkan bahwa perang dagang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Tiongkok mulai berdampak pada Indonesia. Salah satu indikasinya adalah evaluasi atas 3.500 produk yang masuk generalized system of preference (GSP) yang dilakukan AS.

Pelaku usaha Indonesia menganggap langkah tersebut dilakukan AS sebagai upaya memperketat perdagangannya dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia.

”Ada dua hal yang dikaji. Pertama, gentle review. Kedua, ada review 124 produk yang kami ekspor ke AS, termasuk di dalamnya kayu plywood, kapas, dan lain sebagainya,” ujar Shinta yang juga menjabat ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang hubungan internasional dan investasi tersebut.

GSP merupakan kebijakan AS berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. Menurut Shinta, selama ini GSP menjadi tumpuan Indonesia untuk menjalin hubungan dagang dengan AS.

”Jika kebijakan GSP ditiadakan, dampaknya akan langsung terasa ke neraca perdagangan Indonesia karena akan ada tarif yang dikenakan jika Indonesia mengekspor ke AS,” tambahnya.

Shinta memaparkan bahwa review tersebut akan meninjau apa­kah Indonesia masih ter­masuk negara yang berhak diberi pembebasan tarif bea masuk.

a”Biasanya, setiap tahun kan tetap lanjut. Tapi, kalau hasilnya under review, bisa jadi kena tarif. Semua negara bisa tiba-tiba kena,” urainya. (agf/c10/sof/fik/c)

Baca Juga