Beranda Olahraga piala dunia

Ladeni Brasil, Belgia Beri Sinyal Andalkan Serangan Balik

BERBAGI
Kiri, Pelatih Brazil Tite dan Pelatih Belgia Roberto Martinez

RADAR BOGOR-Banyak kalangan yang memberi label final ideal Piala Dunia 2018 ke laga Brasil vs Belgia, setelah banyak tim favorit seperti Jerman dan Spanyol berguguran.

Bentrok wakil Amerika dan Eropa ini sayangnya terjadi di perempat final, Sabtu (7/7) dini hari WIB. Sorotan terarah kepada dua pelatih, Tite dan Roberto Martinez, yang sama-sama baru dua tahun jadi pelatih timnas. Tite jadi treinador Brasil, dan Martinez ditunjuk sebagai tacticus Belgia.

Mereka sama-sama ditunjuk di musim panas 2016. Uniknya setelah dua tahun, baik Tite atau Martinez pun sama-sama hanya sekali ternoda.

Noda itu pun cuma datang di laga yang tak bergengsi. Dalam laga uji coba. Tite terhenti streak sembilan laga selalu menangnya dalam uji coba melawan Argentina 0-1 di Melbourne, 9 Juni 2017. Sementara, Martinez cuma sekali ternoda pada laga pertamanya sebagai tactician di De Rode Duivels -julukan Belgia. Kalah 0-2 atas Spanyol di laga uji coba, 2 September 2016.

Nah, siapa yang akan ternoda untuk kedua kalinya? Dalam laga perempat final di Kazan Arena, Kazan, keduanya akan menjawab. “Ini laga impian,” sebut Martinez, kepada RTBF.

Impian bukan cuma karena head to head pertama Martinez dengan Tite. Bukan juga karena ini kans Martinez mencapai victory ke-17 tercepat dari pelatih lain di timnas Belgia. Ini impian Martinez yang bahkan belum pernah merasakan Piala Dunia sejak dia jadi pemain untuk merasakan atmosfer semifinal Piala Dunia 2018. ”Impian pula untuk pemain dan fan kami,” lanjut mantan pelatih Everton itu.

Ketimbang Tite, Martinez lebih stabil. Bahkan Belgia sejak fase grup juga bisa menyapu bersih kemenangan. Dengan 12 golnya, Belgia juga masuk top three tim paling agresif di dalam Piala Dunia kali ini. Tapi Martinez paham, yang dia hadapi Tite dengan Brasil sebagai tim yang paling diunggulkan jadi kampiun di Rusia. ”Mereka (Brasil) lebih difavoritkan,” klaimnya.

Belgia-nya Martinez hampir sama seperti Brasil-nya Tite, tim yang attacking football. Di balik serangannya pun ada kuartet menakutkan. Martinez punya kombinasi kuartet lewat Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Dries Mertens dan Romelu Lukaku.

Tite punya tandingannya dengan Philippe Coutinho, Willian, Neymar, Gabriel Jesus atau Roberto Firmino. Setelah kemasukan dua gol dari empat laga Piala Dunia, apa upaya Martinez agar Belgia kembali ke semifinal seperti Piala Dunia 1986? ”Melawan Brasil bukan lagi soal ball possesion seperti yang selama ini kami mainkan,” ungkap pria Spanyol berusia 44 tahun tersebut.

Itu sinyal bahwa dia bakal mengubah gaya main Belgia dengan mengandalkan counter attack. Sukses comeback dua gol saat mengalahkan Jepang di 16 Besar (3/7) diharap terulang di laga melawan Canarinha -julukan Brasil. ”Kami tahu Brasil tim yang kuat dan saya kenal siapa-siapa di balik tim ini. Kami punya opsi untuk mengatasinya, dan kami coba memenanginya saat menit ke-90 dengan skor 1-0,” tutur De Bruyne konfiden.

KDB -inisial nama De Bruyne- boleh berkoar bahwa dia mengenal pemain-pemain yang ada dalam skuat Brasil. Begitu pula sebaliknya. Willian, winger Brasil, mengklaim paham apa-apa saja kelemahan Hazard, sahabatnya di Chelsea.

Di Belgia, Hazard dan De Bruyne otak dari serangan-serangan Belgia. ”Kami akan lakukan apa pun untuk memulangkannya (Hazard),” kata Willian, dilansir Sky Sports.

Tite beruntung. Di saat laga krusial, bek kirinya Marcelo sudah kembali. Dengan adanya Marcelo, maka agresivitas sayap Brasil akan lebih bertenaga. Dikutip Globo Esporte, Tite tidak terpengaruh dengan arti laga ini di balik rekornya selama duduk sebagai pelatih Brasil. ”Saya di saat ini hanya berpikir, kami mampu melaju sejauh-jauhnya di Piala Dunia ini. Karena itu tugas kami sejak kami datang ke sini,” koar Tite. (ren/ysp)

Komentar Anda

Baca Juga