Beranda Berita Utama

Human Error Hambat Pleno

BERBAGI
PENGHITUNGAN SUARA: Petugas KPU Kabupaten Bogor menunjukkan kotak suara pada rapat pleno terbuka penghitungan suara Pilgub Jawa Barat dan Pilbup Bogor, kemarin (5/7).

BOGOR-RADAR BOGOR,Pleno terbuka Pilgub Jawa Barat telah selesai. Dalam rapat yang menghabiskan waktu hampir 12 jam, KPU Kabupaten Bogor memastikan keunggulan pasangan Sudrajat-Syaikhu (Asyik) dengan perole­han 801.322 suara atau 35,78 persen.

Diikuti pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) 590.882 suara atau 26,38 persen, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) 528.479 suara atau 23,59 persen. Terakhir, pasangan Tb Hasanudin – Anton Charliyan (Hasanah) 319.189 suara atau 14,25 persen.

Komisioner KPU Kabupaten Bogor Ummi Wahyuni mengatakan, lamanya pleno untuk Pilgub Jabar karena ada penyinkronan data pemilih. Hal itu dilakukan agar tidak ada masalah saat rekapitulasi suara di tingkat provinsi.

Selain itu, wilayah Kabupaten Bogor yang luas dimana terdapat 40 kecamatan. ”Tanggal 7 Juli sudah harus ke Bandung, tadi kami clear-kan persamaan data, terutama tambahan,” ujarnya kepada Radar Bogor usai pleno Pilgub Jawa Barat di Gedung Tegar Beriman, kemarin.

Lebih lanjut ia mengatakan, kesalahan rata-rata terjadi karena human error. Menurutnya, meski bimbingan teknis (bimtek) dilakukan beberapa kali, namun karena Kabupaten Bogor memiliki 7.635 TPS dengan tujuh KPPS tiap TPS-nya, pihaknya tidak bisa memastikan semua anggotanya memiliki kapasitas yang sama. ”Saya yakin tidak lebih 10 persen human error,” tuturnya.

Meski demikian, dirinya mengapresiasi kinerja PPK karena untuk permasalahan integritas dan perolehan suara tidak ada yang berbeda. ”Sejauh ini kondusif. Teman-teman saksi pun kooperatif karena memiliki data yang bisa kita terima untuk dikoreksi bersama. Mudah-mudahan (kondisivitas) berlanjut ke pilbup,” harapnya.
Usai pleno Pilgub Jabar, sekitar pukul 23.00 dilanjutkan dengan pleno Pilbup Bogor.

”Tahapan sampai tanggal 6 Juli, makanya tadi ditawarkan untuk mulai saja hari ini. Kalau kami dan PPK ingin sampai selesai, karena kan banyak yang tinggal jauh juga,” ungkapnya.

Saksi paslon Rindu, Beben Subendi KS meminta, ke depan KPU harus memperbaiki kualitas, terutama pada sumber daya manusia (SDM) karena banyak hal yang menyangkut substansi administrasi. Salah satunya kesalahan penginputan data. ”Kita baru ada dua event saja pilkada serentak ini, gubernur dan bupati, tapi mereka sudah banyak direvisi,” katanya.

Meski berada di posisi ketiga, di bawah paslon 3 dan 4, namun Kabupaten Bogor tetap menyumbangkan suara yang signifikan untuk Rindu. ”Hasil ini sudah jelas pasangan Rindu memenangkan pilkada Jawa Barat, tinggal menggerakkan janji program politik, 2020 untuk untuk Bogor adalah menjadikan syarat utama percepatan pembangunan,” ungkapnya.

Saksi Hasanah, Rosenfield merasa, prosedur pelaksanaan pleno gubernur sudah sangat berkurang. Seharusnya, administrasi perlu dilakukan dengan baik. Sebab, itu merupakan satu kesatuan untuk menghasilkan hasil yang baik. ”Administrasi yang baik akan mendapatkan nilai yang baik dan hasil akhir yang baik, namun ini kurang baik,” katanya.

Meski memberikan beberapa catatan, ia tetap mengapresiasi kinerja KPUD. ”Kami terima hasil, tapi dengan catatan. Tapi kita tidak bicara paslonnya tetapi pelaksanaannya,” ungkapnya.

Saksi Asyik, Subowo mengaku terkejut dengan hasil yang diperoleh di Kabupaten Bogor, karena beberapa lembaga survei menyatakan Asyik hanya memperoleh sekitar 8–11 persen. Namun nyatanya di Kabupaten Bogor meraih 801.322 suara atau 35,78 persen. (gal)

Komentar Anda

Baca Juga