Beranda Metropolis

Waspada Nyeri Dada yang Khas

BERBAGI
dr Prafithrie Avialita S.

BOGOR–RADAR BOGOR,Sakit jantung yang paling banyak diderita masyarakat adalah penyakit jantung koroner. Penyakit ini disebabkan oleh penumpukan kolesterol yang tidak sehari dua hari atau setahun dua tahun, tapi biasanya sudah lama. Karena itu adalah penyakit metabolik. Faktor risiko pertama karena penum­pukan kolesterol (dislipidemia) atau kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes melitus, kemudian merokok, obesitas, kurang gerak atau kurang aktivitas dan olahraga.

“Itulah semua faktor risiko yang menyebabkan terjadi penyakit jantung koroner,” beber Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Hermina Bogor, dr Prafithrie Avialita Shanti, SpJP, FIHA.

Sambung Prafithrie, masyarakat awam perlu mewaspadai gejala yang khas seperti nyeri dada. Tapi, nyeri dada ini agak berbeda dengan penyakit non-cardiac (bukan jantung).

Nyeri dada khas itu berupa rasa di dalam (retrosternal), terasanya berat, seperti tertindih atau terhimpit beban berat. Kemudian durasi sekali serangan itu biasanya lebih dari 20 menit disertai tanda-tanda simpatis, yakni keringat dingin, mual, muntah, dan ada penjalaran. Baik itu ke lengan, rahang, maupun punggung bagian belakang.

“Itu kita sebut nyeri dada khas infark atau angina,” tutur dokter yang biasa praktik Senin hingga Kamis pukul 08.00–12.00 di RS Hermina Bogor.

Untuk penatalaksanaannya, lanjut Prafithrie, bisa melalui alat bantu khusus yakni rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) treadmill test. Treadmill test ini dilakukan bila EKG-nya tidak terlalu jelas, dalam artian menunjukkan bahwa ada suatu proses penyakit jantung koroner.

Kemudian, ada pemeriksaan penunjang yakni ekokardiografi. Selain melihat gerakan dari dinding jantung apakah terkena penyakit koroner atau tidak, juga bisa mendeteksi fungsi pompa jantung kemudian katup-katup.

Pemeriksaan lanjutan adalah CT scan. CT scan jantung yang jadi standar adalah kateterisasi. Setelah kateterisasi ditemukan ada penyumbatan, pasien diarahkan unruk pemasangan ring. Jika tidak dapat dipasang ring bisa dilakukan operasi bypass atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG).

Biasanya pasien-pasien dengan diabetes yang pembuluh darahnya kecil-kecil, sehingga tidak bisa dipasang ring, atau sumbatannya banyak di berbagai tempat atau pembuluh utama darah jantung.

Lanjutnya, untuk mencegah jantung koroner tentu harus menghindari faktor-faktor penyebabnya.

“Faktor risiko itu ada dua, yang dapat dimodifikasi yakni hipertensi, jadi kontrol lah tekanan darah. Obesitas, bisa diatur pola makan dengan diet, olahraga. Kalau yang merokok harus distop rokoknya. Bagi yang diabetes harus terkontrol gula darahnya,” jelasnya.

Sedangkan risiko yang tidak dapat dimodifikasi, yakni umur karena kita tidak bisa mencegah pertambahan umur, kemudian keturunan.

“Kalau anggota keluarga ada riwayat sakit jantung koroner atau meninggal mendadak di usia kurang dari 50 tahun, itu biasanya lebih kuat untuk terkena penyakit jantung, dibandingkan yang tanpa riwayat keluarga,” tambahnya.

Di Hermina, lanjutnya, rata-rata yang sering menderita penyakit jantung koroner, awalnya memang mengeluhkan nyeri dada. Tapi jangan salah, nyeri dada di sini tidak selalu khas, kadang datang hanya berupa rasa tidak nyaman, jadi belum sampai nyeri dada yang hebat. Ada juga yang datang seperti orang sakit maag, rasa begah, itu biasanya terjadi dengan orang-orang diabetes atau orang tua.

”Jadi, gejalanya bisa berupa yang tidak khas. Tapi ada juga yang khas, kalau sudah begitu itu penatalaksanaannya juga harus cepat, bahkan bisa segera dipasang ring,” tegasnya, seraya mengatakan, untuk lebih lanjutnya bisa menghubungi RS Hermina di 0251-8382525/0251-8310124 (IGD).(cr4/c)

Baca Juga