Beranda Olahraga piala dunia

Mita Yulian Sasmita, Berkorban demi Argentina

BERBAGI

Tugas utama Mita Yulian Sasmita sebagai volunter di Piala Dunia 2018 sejatinya adalah bagian ticketing. Dia ditempatkan di Kazan. Perempuan kelahiran Depok tersebut sangat bangga dan bahagia dengan tugas-tugasnya.

Namun ketika mengetahui bahwa tim nasional idolanya, Argentina, akan melawan Prancis di Kazan Arena, Mita tiba-tiba tidak bisa menahan diri. Dia meminta kepada atasannya agar ditugaskan membawa bendera kebangsaan Sol de Mayo (alias Sun of May, bendera Argentina) sebelum pertandingan. Dan ternyata, keinginannya itu dikabulkan!

“Kemarin terharu banget,” ucap Mita gem­bira setelah pertandingan.

“Awalnya sempat kecewa karena dapat bagian belakang jadi jauh dari pemain. Tetapi ternyata itu best spot untuk melihat stadion dalam ruang pan­dang terluas. Lihat suporter Argentina seba­nyak itu. Muka saya senyum, tapi mata meleleh,” tambahnya, lantas tertawa bahagia.

Mita bertugas menjadi pembawa bendera Argentina bersama 49 orang lainnya. Padahal sejatinya, yang diprioritaskan untuk momen itu adalah sukarelawan bagian akreditasi dan informasi yang bertugas di bandara. Alasannya, mereka jarang ke stadion. Namun manajer bagian ticketing melihat Mita memiliki kinerja dan semangat yang oke dalam menjalankan tugas-tugasnya. Selain itu, sang atasan tahu bahwa Mita sangat menyukai Argentina.

“Jadi, saya yang dapat kesempatan,” jelasnya.

Mita tentu kecewa tim Tango kalah 3-4 dari Prancis dan tersingkir dari Piala Dunia 2018. Namun, bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri gol sangat indah Angel Di Maria. Lalu, berkesempatan melihat sosok legendaris Diego Armando Maradona, bagi Mita, adalah pengalaman luar biasa. “So, I’m not complaining,” ucapnya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Perempuan berusia 33 tahun itu mendaftar untuk menjadi volunter Piala Dunia 2018 pada 2016. Ada dua opsi yang bisa dia pilih. Hanya datang ke Piala Dunia saja atau ditambah menjadi sukarelawan Piala Konfederasi 2017. Mita memilih opsi yang kedua.

Dia mengaku terhalang biaya yang tidak murah. Maka dia berusaha mencari sponsor. Namun, ternyata susah menemukan sosok yang mau membiayainya terbang ke Negeri Beruang Merah. Dia sudah memasukkan proposal ke lebih dari 70 lembaga. Tak satu pun yang tembus. Hingga suatu kali, tiga hari sebelum tenggat konfirmasi ke panitia lokal Piala Dunia ditutup, harapan itu muncul kembali! Dia berhasil mendapatkan sponsor.

Mita adalah pengajar di tempat kursus bahasa Inggris English First (EF). Lembaganya mengizinkan Mita untuk menjadi volunter Piala Dunia 2018. Apalagi, EF juga aktif menjadi sponsor ajang-ajang olahraga besar seperti Olimpiade. Namun, selama lebih satu bulan di Rusia, statusnya adalah cuti di luar tanggungan kantor.

“Gaji sebulan hilang, namun pengalaman berada di sini jauh lebih gede,” ucapnya. “Yang terberat sih jauh dari keponakan yang usianya empat tahun. Dia deket banget sama saya. Tiap hari telpon dan dia bilang mau nyusul ke Rusia,” tambahnya.

Bagi Mita, apa yang dilakukannya ini adalah bentuk impian besarnya selama bertahun-tahun yang lantas menjadi kenyataan. Mulai menonton Piala Dunia sejak 1994 (tentu dari televisi), Mita mulai mengenal sepak bola ketika menyaksikan Piala Dunia 1998. Saat itu, dia untuk kali pertama menonton ada orang-orang pembawa bendera negara yang bertanding.

Dan setiap kali perhelatan Piala Dunia, dia selalu membatin, betapa beruntungnya orang yang bertugas di sana. “Dahulu hanya bisa ngayal, eh tahun ini kejadian. Saya luar biasa bahagia,” tuturnya.

Mita tahu, usianya tidak terlalu muda. Karena itu, dia sempat beberapa kali ditolak untuk menjadi volunter ajang olahraga lainnya. Namun, dia bertekad mewujudkan impiannya.

Dia ingin memberikan inspirasi kepada orang-orang yang lebih muda di sekitarnya agar tidak takut memeluk mimpi terbesar mereka. Karena dengan tekad yang kuat, suatu saat mimpi itu bisa terealisasi.

Di Rusia, saya menemui beberapa orang Indonesia yang di tengah keterbatasan, mau berjuang sangat keras untuk mewujudkan mimpinya menonton Piala Dunia. Saya setuju dengan Mita. Bahwa apa yang mereka lakukan itu memang sangat inspiratif.(ainur rohman)

Baca Juga