Beranda Metropolis

Tolak Panggilan Polisi, Warga Kembali Aksi

BERBAGI
MEDIASI: Polisi mencoba memediasi penghuni danpengurus Apartemen Bogor Valley, kemarin (10/6).

BOGOR–RADAR BOGOR,Hari ini (1/7) warga Apartemen Bogor Valley (ABV) kembali menggelar aksi tutup kantor pengelola. P3SRS yang dibentuk pemilik unit menolak dipanggil penyidik dalam laporan perusakan dan pencurian. Sebaliknya, warga menuding P3SRS yang dibentuk developer memutarbalikkan fakta sabotase yang akan dilaporkan ke polisi dan Propam.

“Nah, kalau (Ria, ketua P3SRS versi warga) mau jelas ceritanya ke penyidik aja, sudah di-BAP semua, dan Ria menolak panggilan,” ujar General Manager Apartemen Bogor Valley PT Bina Karya, Paula kepada Radar Bogor.

Paula mengatakan, pihak apartemen meyakini bahwa Pemkot Bogor akan berhati-hati menyikapi permasalahan ini. Sebab, kata dia, pengelola sudah melakukan sesuai koridor dan perundang-undangan yang ada.

Paula juga menegaskan, iuran pengelola apartemen (IPL) yang ada di Bogor Valley tidak mahal. Sebaliknya, iuran jauh lebih murah dari Jabodetabek. Misalnya, Bogor Icon Rp19 ribu per meter, sedangkan Bogor Valley Rp12 ribu per meter. “Padahal ini setara, ya. Mustahil jika warga menurunkan biaya IPL menjadi 200 ribu per bulan,” cetus Paula.

Building Manager PT Tanggung, Pengelola ABV, Cahyo Hananto mengatakan, seluruh pemilik di paguyuban banyak yang menunggak IPL bulanan. Mulai dari jutaan sampai dua puluh juta rupiah.

Termasuk, Ketua P3SRS Ria Andriani yang berulang kali menunggak dan meminta keringanan. Karena belum bisa membayar, kata Cahyo, Ria memohon kebijaksanaan agar dapat mencicil tunggakan IPL.

“Dan, beliau mengakui P3RSS kami lewat pengelola, dikasihlah kebijaksanaan, yakni dicicil. Tapi dia langgar sendiri walau sudah di atas materai dan diulangi dua kali. Dilanggar lagi sampai sekarang,” bebernya.

Cahyo juga membantah tudingan bahwa tidak adanya pelayanan yang baik. Selama ini, sebagai pengelola, pihaknya terus berusaha memenuhi kebutuhan warga. Namun, setiap kali pegawainya bekerja selalu diusir warga.

Termasuk saat hendak memperbaiki air. Lantaran sebelumnya terjadi pemadaman. Sementara sistem pengairan otomatis perlu di-reset. “Bagaimana kolam renang sampai hijau gitu? Bagaimana mau reset, kalau semua kunci panel pompa diambil, semua mereka jarah habis,” ungkapnya.

Sementara itu, 171 pemilik apartemen tidak seluruhnya menyetujui P3SRS yang diketuai Ria. Yakni hanya 150 orang. Sisanya pemilik, investor, dan hotel cenderung mendukung P3SRS yang dibentuk bersama developer. Bahkan sudah dua tahun terakhir, pemilik yang menunggak IPL mencapai Rp851 juta. “Hampir semuanya di pengurusan Ibu Ria masih menunggak,” ucap Cahyo.

Ketua P3SRS pemilik unit, Ria Andriani, membantah tudingan adanya utang. Sebaliknya, ia mengatakan jika seratus unit milik warga yang sudah terima kunci dimintai uang IPL. Padahal, selama proses pembayaran tidak ada perjanjian tersebut.

“Bahkan ada yang harus membayar IPL dua tahun belakangan, padahal baru serah terima kunci. Yang jelas, mereka terorganisir dan bekingan mereka kuat di sini.

Mereka memutarbalikkan fakta yang ada,” ujar Ria kepada Radar Bogor.

Ria mengungkapkan, apa yang dilaporkan pengembang adalah tindakan yang mereka lakukan sendiri. Mulai dari perusakan, pemindahan komputer, dan barang lainnya.

Pada saat itu, kata Ria, warga mengamankan barang tersebut. Saat diamankan warga, keadaan pintu sudah dibobol pihak developer. Sementara di kantor pengelola tersebut banyak dilalui orang.

“Soal pencurian uang di brankas, siapa yang bisa ambil uang itu. Yang punya kode kuncinya kan mereka. Kan tidak masuk di akal,” ungkapnya.

Lanjut Ria, komputer yang berisi seluruh data warga juga dibawa pengelola. Alasannya, ingin membantu warga saat membeli listrik. Oleh karenanya, warga merebut komputer untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Selama ini, kebutuhan listrik warga terganggu dan kerap mati listrik. Terkait IPL, sebut Ria, pihak pengelola melakukan pemalsuan IPL. Temuan itu harus menjadi bukti agar warga menunda IPL.

“Mereka pakai uang kita yang selama ini sudah mereka peras. Maka, saya imbau warga agar menunda pembayaran IPL,” kata Ria.(don/c)

Baca Juga