Beranda Metropolis

Kawal Ketat Pembangunan Masjid Agung

foto: ist
DIBONGKAR: Masjid Agung saat dibongkar untuk direvitalisasi tahun 2016 menggunakan APBD.

BOGOR-RADAR BOGOR,Unit Layanan Penga­daan (ULP) Kota Bogor mengu­mumkan pemenang proyek Masjid Agung melalui website resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Sabtu (30/6).

Proyek senilai Rp9,5 miliar itu dimenangkan PT Alvarini Gemilang dengan pena­waran Rp8,6 miliar. Sejum­lah kalangan kini meminta Pemkot Bogor untuk mengawal pelak­sanaan pembangunan masjid di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Bogor Tengah, itu.

Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kamar Dagang Industri (Kadin) Kota Bogor, Agus Lukman me­wanti-wanti Pemkot Bogor untuk tidak lengah dalam pe­ng­­a­­­wasan pembangunan Masjid Agung seperti yang sebe­­lumnya.

“Yang penting peng­a­wasannya kalau sudah seperti ini. Kalau enggak diawasi dengan benar bisa ada pengu­rangan spek, material yang tidak cocok. Pengawasnya ha­rus melotot juga,” jelasnya kepa­­da Radar Bogor, kemarin (1/7).

Sebagai pengusaha, ia paham betul fenomena di lapangan. Meskipun antara pengawas dan pelaksana berbeda, pada kenya­taannya di lapangan kerap kali orangnya sama.

Kondisi tersebut yang membuat lemah­nya screening ketika terjadi kesalahan dalam pemba­ngunan.

“Peren­cana dan peng­a­was harus berpisah. Rata-rata kan sama, jadi bila ada masalah lanjut aja. Itu bahaya. Karena secara administrasi memang berbeda orangnya,” ungkap Agus.

Harga penawaran sekitar 10 persen dari nilai pagu ini diang­gapnya masih wajar. Sebab, pekerjaan yang dilaku­kan sebatas penguatan kon­struksi dan lantai dasar.

Menu­rut dia, sudah benar untuk meng­erjakan bagian atas diker­ja­kan pada tahap pengerjaan selan­jutnya.

“Untuk naik ke atas, kalau bawahnya enggak dibe­nerin bahaya juga. Karena umur betonnya terpisah. Sudah dua tahun. Kalau bawahnya diulangi itu lebih bagus,” kata Agus.

Seperti diketahui, PT Alvarini Gemilang menempati urutan ketiga termurah dari harga penawaran proyek Masjid Agung. Urutan pertama, PT Fikri Bangun Persada dengan harga Rp1,7 miliar. Di urutan kedua, PT Satyagi Cipta Prima dengan harga penawaran Rp7,2 miliar.

“Kalau sudah masuk nominasi tiga termurah, biasanya jatuh ke mereka bertiga. Kalau jelek semua baru empat, lima, enam,” beber Agus.(fik/c)

Baca Juga