Beranda Berita Utama

Kapal Terbalik tak Punya Data Penumpang

DUKA: Kerabat korban kapal yang terbalik di Danau Toba menangis saat proses evakuasi (Reuters)

SUMUT–RADAR BOGOR,Pencarian korban penumpang kapal kayu KM Sinar Bangun yang tenggelam Senin (18/6) di Danau Toba, Sumatera Utara, terus dilakukan.

Beberapa kapal tim SAR dan Polair Polda Sumut dikerahkan untuk melakukan penyisiran. Namun, upaya pencarian mengalami kendala. Sebab, kapal tidak punya manifes atau data penumpang.

”Tidak ada manifesnya. Kami terus lakukan pencarian,” kata Kabid Humas Polda Sumatera Utara AKBP Tatan Dirsan Atmaja, kemarin (19/6).

Dalam proses pencarian, petugas hanya mengandalkan laporan dari kerabat korban. Posko KM Sinar bangun juga sudah dibuat untuk menerima laporan.

Terpisah, Kabagpensat Divhu­­mas Polri Kombespol Yusri Yunus menjelaskan, karena tidak ada daftar penumpang atau manifes, petugas mengimbau agar masyarakat melaporkan bila ada keluarganya yang menghilang atau kemungkinan menumpangi kapal tersebut.

”Ada poskonya untuk mengadu, posko Disaster Victim Identification (DVI),” ujarnya.

Berdasar data pengaduan di posko korban kapal tenggelam KM Sinar Bangun itu didapatkan data ada sekitar 94 orang penumpang yang masih dalam pencarian.

”Ini berdasar laporan ma­syarakat yang anggota keluar­ganya menghilang,” jelasnya.

Namun, jumlah tersebut kemungkinan bisa bertambah. Mengingat, ada kemungkinan masyarakat yang belum melapor.

”Karena tidak ada daftar penumpang, jadi kendala utama menentukan jumlahnya,” papar mantan Kabidhumas Polda Jawa Barat tersebut.

Terkait upaya pencarian, saat ini petugas menggunakan tiga kapal untuk menyisir Danau Toba. Yakni, kapal milik Organisasi Perkapalan Simanindo dan kapal KMP Sumut I.

”Petugas gabungan Polri, Basarnas dan TNI,” terangnya.

Untuk korban meninggal dunia yang ditemukan Senin, identitas­­nya adalah Tri Suci Hadayani (24) asal Aceh Tamiang. Menurut polisi dengan tiga melati di pundaknya tersebut, sampai Selasa siang belum ditemukan ada korban lainnya.

Namun, petugas menemukan sejumlah barang yang diduga milik penumpang, yakni sebuah tas hitam berisi satu unit handphone dan KTP atas nama Maya Oktavianti asal Binjai. ”Masih diduga merupakan salah satu penumpang,” paparnya.

Dia menjelaskan, upaya pencarian korban masih dilakukan, tetapi kendala saat ini adalah cuaca dan ombak di Danau Toba.

Lain dengan data Polri. Badan Nasional Pencarian dan Penyela­­matan (BNPP) alias Basarnas menyebut ada ratusan orang dilaporkan menjadi korban hilang. Sampai kemarin sore pencarian masih berlangsung.

Kepala Kantor Basarnas Medan Budiawan mengatakan, pencarian bakal terus dilakukan sampai empat hari ke depan. ”Sesuai dengan aturan tujuh hari pencarian bisa diperpanjang tiga hari,” ujarnya.

Beberapa metode pencarian sudah disiapkan oleh Basarnas Medan. Salah satunya mengerahkan penyelam. ”Hari pertama nggak ada penyelam. Hari ini mulai ada penyelam,” jelas Budiawan.

Untuk sementara, penyelam yang dikerahkan masih fokus mencari korban hilang pada kedalaman 25 meter dari permukaan Danau Toba. Dia mengakui bahwa gelombang cukup berpengaruh terhadap upaya pencarian.

Untuk membantu tim gabungan yang mencari korban hilang tersebut, TNI AL turut mengerahkan prajurit mereka. Adalah personel Korps Marinir dari Batalyon Marinir  Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) I Belawan yang dikerahkan ke Danau Toba.

Terkait jumlah korban, Budiawan menjelaskan semula data yang menjadi patokan adalah keterangan penumpang selamat. ”Patokan tadinya 58 (orang hilang) memang,” ungkapnya. Dengan jumlah korban sudah ditemukan sebanyak 19 orang, tersisa 39 orang hilang.

Namun, data tersebut tidak lagi dipakai sebagai patokan. Sebab, jumlah korban hilang berdasar pengaduan masyarakat kepada petugas jauh lebih banyak. Meski angkanya masih belum pasti, Basarnas kini punya pegangan yang lebih jelas untuk melakukan pencarian korban. (idr/syn/pra/tau/JPC)

Berkaitan dengan manifes tersebut, Budiawan menyampaikan bawa data penumpang itu tidak ada lantaran pembayaran dilakukan sekenanya.

Menurutnya, penumpang KM Sinar Bangun tidak dimintai juga tidak menunjukan identitas diri ketika naik kapal tersebut. ”Bayar di tempat, langsung duduk,” imbuhnya. ”Naik kapal, bayar,” sambungnya.

Alhasil, jumlah penumpang secara pasti dan terperinci tidak terdata dan sulit untuk diketahui. Padahal, manifes merupakan salah satu data penting dalam pelayaran kapal penumpang.

Hasil rapat bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub), BPBD, TNI, Polri, serta pemda setempat kemarin siang didapat angka 128 korban hilang. Angka tersebut diperoleh dari pengaduan masyarakat yang merasa keluarganya turut naik KM Sinar Bangun dan tidak kunjung ada kabar. Karena itu, kata Budiawan angka tersebut masih bisa berubah. Mengingat posko pengaduan masyarakat masih dibuka.

Sebelumnya diberitakan Kapal motor (KM) Sinar Bangun yang berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Toba Samosir, tujuan Tiga Ras, Simalungun, Sumatera Utara, terbalik di perairan Danau Toba kemarin sore (18/6). Kapal kayu itu mengangkut penumpang yang diperkirakan lebih dari 80 orang dan sepeda motor sebanyak 20 unit.(idr/syn/pra/tau/JPC)

Baca Juga