Beranda Radar Ramadan

Ponpes Nurusibiyan Sukamakmur, Lahirkan Para Penghafal Alquran

BERBAGI
SETOR HAFALAN: Anak-anak santri saat belajar menghafal Alquran dibimbing ustaz mereka.

Para penghafal Alquran datang dari mana saja. Ia tidak mengenal usia, status, tempat ataupun strata ekonomi. Seperti yang terlihat di ujung Puncak II. Calon-calon hafidz Alquran lahir dari sebuah pondok pesantren sederhana bernama Nurusibiyan. Sebuah pondok pesantren yang berada di Puncak Gunung Pancaniti, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Tidak ada bangunan megah di Pondok Pesantren Nurusibiyan. Yang telihat hanya gubuk petak dua lantai berdinding asbes, bercat putih. Bangunan sederhana yang menjadi pusat belajar kalamullah sekaligus kobong para santri.

“Itu yang di atas kobong, santri yang mondok di sini. Di bawah itu tempat belajarnya,” tunjuk Usin (17), pengasuh pondok saat Radar Bogor menyambanginya.

Sambil berjalan menuju kobong, Usin mengajak Radar Bogor berkeliling pondok. Sebuah pondok yang tidak lebih luas dari rumah tipe 21. Serba sempit dan pengap. “Ya begini kondisinya,” tutur Usin.

Sejauh mata memandang, tidak ada yang spesial dari pondok pesan­tren tersebut. Dinding asbes sudah keropos. Lubang beragam diameter menghiasi setiap sudut ruangan. Begitupun dengan penyekat antara tempat belajar dan kobong. Tak ada atap atau asbes pelapis. Hanya rentetan kayu kasar yang menjadi batas antara lantai satu dan dua. “Disekat kayu saja,” ucapnya.

Begitu pula dengan alasnya. Hanya karpet lepek merah yang sudah beratus-rastus kali dicuci pakai. “Alhamdulillah walau seperti ini. Insya Allah ke depannya lebih baik,” katanya sembari tersenyum kecil.

Namun, keterbatasan itu semua tertutup dengan lantunan ayat suci Alquran menjelang waktu Dzuhur. Suara syahdu anak-anak menggema di balik musala tepat di samping pondok. Melantunkan ayat demi ayat dari surah Ar Rahman.

Sebuah kalamullah yang diturunkan di Kota Makkah. Surah yang mengajak pada manusia untuk bersyukur akan kasih sayang Allah. Sebuah surah yang mengulang kalimat Fa biayyi Alla I Robikuma Tukadzdziban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) sebanyak 31 kali. “Itu anak-anak lagi hafalan Alquran,” tuturnya.

Dengan lagam khas Timur Tengah, alunan ayat suci itu begitu merdu terdengar. Perlahan suara itu menuntun Radar Bogor menuju sumbernya. “Ayo, Farid waktunya salat. Azan dulu,” ucap Usin meminta agar santrinya melantunkan azan dzuhur. “Selepas salat ke pondok setor hafalan Alquran, ya. Kasih tahu yang lain juga,” tambahnya.

Selepas Dzuhur berjamaah, para santri dan anak-anak mulai datang ke lantai bawah pondok. Ada 38 santri yang mengaji. Santri perempuan sebanyak 20 orang. Sedangkan santri laki-laki ada 18.
Satu per satu para santri mulai masuk.

Untuk santri perempuan, duduk di sebelah timur ruangan sempit itu. Sedangkan untuk santri laki-laki, duduk di sebelah barat. Mereka semua duduk membentuk huruf U. “Ayo sekarang keluarkan Alqurannya,” ajak Usin pada santrinya.

Suasana pun terasa riuh dalam ruangan itu. Ada yang membaca surah Yasin, surah Al A’la dan surah-surah lainnya. Sesekali mereka membuka Alquran, memba­ca­kan satu ayat, kemudian kembali menutupnya. Begitulah Allah dengan kuasa-Nya. Di sebuah tempat jauh dari hiruk pikuk kota, dengan fasilitas terbatas. Namun, tumbuh bibit-bibit penghafal Alquran.(all/c)

Komentar Anda

Baca Juga