Beranda Radar Ramadan Jelajah Religi

Musala di Perkampungan Warga Hindu

IBADAH: Seorang anak Dusun Kebon Kuto membaca ayat suci Alquran didampingi salah seorang guru TPQ.

Tinggal di kampung minoritas, tidak menyurutkan warga, terutama anak-anak Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjalani ibadahnya dengan khusyuk.

DI sana, di Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, ada sebuah musala yang berdiri di tengah perkampungan warga Hindu. Di musala itulah, anak-anak dusun setempat ”membangun” fondasi agama Islam-nya.

Menyusuri jalanan di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, mengingatkan penulis pada suasana pedesaan khas Pulau Dewata Bali. Di desa ini, amat mudah menemukan rumah-rumah berarsitektur khas Bali. Ciri yang paling menonjol bisa dilihat pada bagian pagar serta keberadaan gapuranya.

Ya, di desa ini memang cukup banyak penganut agama Hindu. Bahkan, di Dusun Kebon Kuto, sekitar 60 persen warganya beragama Hindu. Meski begitu, denyut kehidupan masyarakat muslim di desa ini masih cukup terlihat.

Musala Miftahul Jannah menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Islam yang ada di dusun tersebut. Musala ini dikelilingi rumah-rumah berarsitektur khas Bali.

Yang menarik, bahkan umat Hindu di sekitar musala juga penuh toleransi. Mereka tak jarang ikut membantu kegiatan sosial musala seperti bersih-bersih maupun ketika ada pembangunan.

Sore itu (28/5), belasan anak terlihat bersemangat mengaji di musala berukuran sekitar 7×7 meter. Dengan tertib, anak-anak menanti giliran untuk setor bacaan Alquran di depan guru ngajinya.

Anak-anak perempuan setor bacaan pada Nur Hasanah. Sementara yang laki-laki setor bacaan pada Khotimatul Khusnah. Sesekali, terdengar suara canda tawa khas anak-anak.

Ya, seperti itulah rutinitas yang biasanya muncul setiap sore di Musala Miftahul Jannah. Setidaknya empat hari dalam sepekan. Yakni, Senin, Selasa, Rabu, dan Sabtu. Geliat umat muslim di Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, mulai muncul sejak 1988 silam. Seiring dengan berdirinya Musala Miftahul Jannah di desa tersebut.

Pendiri musala itu adalah (alm) Pa’i, salah seorang tokoh masyarakat di Dusun Kebon Kuto. ”Bapak saya dulunya mualaf. Karena melihat di sini tidak ada tempat ibadah untuk umat muslim, bapak mewakafkan tanahnya untuk dibangun musala,” kata Karto, putra (alm) Pa’i. Untuk pembangunannya, mereka dibantu warga sekitar dan juga donatur.(jpg)

Baca Juga