Beranda Radar Ramadan Hikmah Ramadan

Keistimewaan Beribadah di 10 Hari Akhir Ramadan

“Dalam riwayat Ahmad dan Muslim, Rasulullah SAW berkata, ”Apabila memasuki 10 (hari) akhir Ramadan senantiasa bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah SWT, melebihi kesungguh-sungguhan di hari-hari lainnya”.

Riwayat Aisyah mengatakan bahwa “Rasulullah SAW apabila memasuki 10 (hari) terakhir di bulan Ramadan, beliau senantiasa menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya”. (Mutafaqun A’laih). Dan dari Aisyah pula mengatakan, ”Rasulullah senantiasa beriktikaf di sepuluh akhir Ramadan sampai akhir hayatnya”. (H.R. Ahmad Bukhari dan Muslim).

Makna yang terkandung di balik kesunggu-sungguhan Rasulullah SAW dalam melakukan semua peribadahan itu amatlah luar biasa. Karena di sepuluh hari terakhir Ramadan ada suatu keutamaan malam yang sangat istimewa (mulia), yaitu malam Lailatul Qadar. Malam tersebut diturunkannya Alquran, dan kalau kita beribadah pahalanya sama dengan ibadah seribu bulan (83 tahun).

Sebagaimana firman Allah SWT pada surat Al-Qadr ayat 1-5: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkan-Nya (Al-Quran) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar”.

Kata “qadar” berasal dari kata qodari/qodiro-yaqduru/ yaqdaru-qodron wa qudrotun-wa maqdirotun. Artinya, kuasa/mampu, kadar banyaknya sesuatu, untung, nasib, kekayaan dan kemuliaan. Malam Lailatul Qadar sering diartikan dengan malam mulia. Namun, para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan tentang al-qadr.

Penetapan, karena malam qadr Allah menetapkan perjalanan hidup makhluk selama satu tahun. Pengaturan, karena pada malam turunnya Alquran itu Allah SWT mengatur strategi Nabi Muhammad SAW mengajak manusia kepada kebajikan.

Kemuliaan, karena Allah SWT menurunkan Alquran pada malam yang mulia sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Sempit, karena pada malam turunnya Alquran banyak malaikat turun sehingga bumi menjadi sempit, penuh sesak dengan para malaikat.

Prof Dr. Hamka dalam tafsirnya, Al-Azhar, menyebutkan Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Karena setengah dari qadr adalah kemuliaan dan boleh diartikan malam penentuan. Dipakai arti kemuliaan, maka mulai malam itulah kemuliaan tertinggi kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena itulah permulaan malaikat Jibril menyatakan diri di hadapan Rasulullah di Gua Hiro. Dan pada malam itu pula perikemanusiaan diberi kemuliaan, dikeluarkan dari zhulumat (kegelapan) kepada nur (cahaya) petunjuk yang gilang gemilang. Bila diartikan penentuan, berarti di malam itu dimulai menentukan garis pemisah di antara kufur dengan iman, jahiliyah dengan Islam, syirik dengan tauhid tidak berkacau balau lagi.

Kedua kesimpulan ini sudah tampak bahwa bahwa malam itu adalah malam istimewa dari segala malam. Malam mulai terang benderang, wahyu datang ke dunia kembali setelah terputus beberapa masa dengan tugas nabi terdahulu. Dan nabi yang kemudian ini, Muhammad SAW adalah penutup dari segala nabi dan segala rasul (kotamul ambiya wal mursalin).

Kata Lailatul Qadar diartikan pula lailatun mubarokah, artinya malam keberkahan. Maksudya, Allah SWT memberikan keberkahan kepada umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah surat Ad-Dukhan ayat 3-6:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam diberkahi, sungguh Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh dengan hikmah. Yaitu urusan dari sisi Kami, sungguh Kami-lah yang mengutus rasul-rasul. Sebagai rahmat dari Tuhan-mu , Dia Allah yang Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Allah menyatakan keutamaan malam Lailatul Qadar yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan sekalipun. Bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka. Pengertian dan pengetahuan Nabi pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam. Hanya Allah yang maha mengetahui segala yang gaib yang menciptakan alam semesta mewujudkannya dari yang tidak ada menjadi ada.

Lailatul Qadar adalah satu malam yang memancarkan cahaya hidayah sebagai permulaan tasyri yang dirurunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam itu pula sebagai peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, sesuai dengan kemaslahatan mereka sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa, kemusyrikan dan kesesatan yang tidak berkesudahan.

Ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah beberapa kemuliaan atau ganjaran yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Seribu tidak bermaksud untuk menentukan bilangan tetapi untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga.

Seyogianya, umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya, karena malam itu merupakan waktu turunnya undang-undang dasar Samawi yang mengarahkan manusia kearah kemaslahatan (kebahagiaan) dunia dan akhirat.

Lailatul Qadar adalah malam istimewa/mulia, karena turun malaikat bersama malaikat Jibril dari alam malakut hinggga tampak oleh Nabi SAW. Terutama malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu, penampakan malaikat Jibril pada Nabi Muhammad SAW dalam rupa yang asli adalah perintah Allah setelah Allah mempersiapkan nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikan kepada manusia yang mengandung kebajikan dan keberkahan.

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang Allah nyatakan sebagai malam yang dipenuhi kebajikan dan keberkahan dari permulaan sampai terbit fajar. Karena turunnya Alquran disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan Nabi Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk serta bimbingan kepada umat-Nya. Wallahu a’lam.(*)

Baca Juga