Beranda Radar Ramadan Jelajah Religi

Santri Baru Lebih Berbahaya

IST
PENYEMBUHAN: Sorang santri melihat kondisi penghuni pesantren yang mengalami ODGJ.

PESANTREN Hikmah Syaha­dah tidak hanya menerima terapi para pecandu narkoba. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan anak nakal pun dilayaninya.

Dari tahun ke tahun, klien atau santri di pesantren yang didirikan KH Romdin itu silih berganti. Kini, dirinya merawat 40 pasien yang dua di antaranya adalah perempuan. Mereka rata-rata berusia 15-50 tahun. Kasus klien bermacam-macam, mulai dari pecandu saja, gangguan jiwa, hingga pecandu yang menjadi gangguan jiwa.

Dalam bilik yang tidak terlalu besar, ada sekitar 27 kamar, masing-masingnya dapat dihuni 2-3 orang. Setiap blok dibagi berdasarkan kategori penderita berat, sedang, dan yang sudah membaik. Bilik tersebut dilengkapi dengan jeruji besi agar santri tidak kabur.

KH Romdin menerangkan, mereka digiring masuk ke kamar setiap malam usai melaksanakan salat Isya berjamaah di musala pesantren. Para pasien baru, dipisahkan agar mereka tak saling mem­engaruhi.

“Kalau yang rawan (penderita berat) dimasukin ke kamar. Misalkan pengguna narkoba yang baru. Karena pasti dia itu kabur karena pengin konsumsi obat,” ujarnya.
Untuk santri baru itu, satu orang menempati satu kamar isolasi. Pihak pesantren khawatir, mereka dinilai berbahaya karena bisa bekerja sama dengan santri lama yang keadaannya sudah membaik.

”(Santri baru) membahayakan, dan bisa juga mereka kerja sama. Anak-anak begitu kan walaupun fisiknya sembuh, mentalnya kan belum tentu sembuh. Kalau ada kesempatan kabur, nanti kabur. Santri lama bisa terpengaruh (santri) yang baru,” tutur ustad tersebut.

Namun begitu, bapak empat anak itu masih mengizinkan mereka saling membaur. Hal tersebut dilakukan untuk menenangkan jiwa klien agar tidak merasa kesepian yang justru memicu gangguan kejiwaan.(jpg)

Baca Juga