Beranda Ekonomi

Prioritas Jaga Daya Beli

BERBAGI
ilustrasi rupiah (Jawapos)

JAKARTA–RADAR BOGOR,Kenaikan bunga acuan yang cukup agresif menjadi tanda bahwa Indonesia sudah menanggalkan prioritas pertumbuhan. Dengan suku bunga tinggi untuk meredam gejolak di pasar finansial, Indonesia bersiap memperkuat stabilitas meski harus mengorbankan ambisi pertumbuhan ekonomi.

Sampai akhir pekan lalu, meski sudah lengser dari level Rp 14 ribu, rupiah masih berada di Rp13.951 per USD. Rupiah telah melemah 3,02 persen sejak awal tahun. Jika melihat arah kecenderungan naiknya suku bunga The Fed ke depan, level Rp14 ribu per USD seolah semakin kuat untuk menjadi titik ekuilibrium baru bagi mata uang rupiah.

Untuk tetap dapat mencapai pertumbuhan, dibutuhkan peningkatan daya beli masyarakat. Terlebih, sumbangsih konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 56 persen. ”Bansos (bantuan sosial, red) itu bisa membantu daya beli. Tapi, karena rupiah melemah, daya beli masyarakat ya segitu-gitu saja,” ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto.

Menurut dia, tanpa ada bansos, pertumbuhan ekonomi akan tertahan di angka 4,9 persen. Namun, karena ada bansos, kemungkinan pertumbuhan ekonomi berada di 5,1–5,2 persen. Apakah tidak bisa lebih dari itu? ”Sulit,” kata Eko.

Sebab, suku bunga acuan naik meski likuditas per­bankan mencukupi sehingga transmisi kenaikan ke suku bunga kredit agak lambat, namun masalah struktural belum dapat diatasi pemerintah.(rin/c25/sof)

Komentar Anda

Baca Juga