Beranda Radar Ramadan

Pengajian di Pondok Pesantren Nur Azkia, Wajib Tadarus Satu Hari Satu Juz

BERBAGI
TRIA/RADAR BOGOR
BELAJAR: Santri putra dan putri saat belajar bersama dengan diberi penghalang di antara mereka agar lebih fokus mengkaji kitab-kitab kuning.

Pondok Pesantren Nur Azkia merupakan sekolah berbasis pesantren dan sekolah formal. Dengan kata lain, perpaduan antara pesantren dan sekolah semi modern.

Metode pembelajaran di pesantren yang berlokasi di Kampung Bantarkambing, Desa Bantarjaya, Kabupaten Bogor, ini menggabungkan sistem pesantren salafi dan modern.

SELAIN mengkaji kitab kuning, para santri juga diajarkan kitab-kitab yang lain seperti fiqih, safinah, dan lainnya sebagai bekal para santri dalam bidang keagamaan. Begitu pun dengan ilmu umum.

Seperti sekolah pada umumnya, pesantren ini pun mengacu pada kurikulum dinas. Tujuannya, untuk membangun sistem pendidikan yang unggul dan menghasilkan calon pemimpin masa depan yang memiliki Imtaq, menguasai Iptek, terampil, mandiri, dan berwawasan Islami.

Salah satu pengajar di ponpes ini, Sholeh, mengungkapkan bahwa metode tahfidz Quran diterapkan secara seimbang. Selain memperdalam kitab kuning, pada Ramadan ini, santri yang masih usia SMP sudah belajar Kitab Alfiyah, yakni salah satu ilmu sorof tertinggi di kalangan santri.

Saat santri yang lain libur pas Ramadan, di ponpes ini tidak, malah terus mengaji. “Awal Ramadan santri tidak pulang. Jadi, selama Ramadan santri digembleng spiritualnya, mentalnya, tadarusnya. Bahkan, di sini ada sebuah reward untuk santri yang tadarusnya khatam beberapa kali,” beber Sholeh pada Radar Bogor, belum lama ini.

Selama Ramadan, sambung Sholeh, para santri disibukkan dengan kegiatan hafalan Alquran di bakda subuh dan bakda magrib. Bakda subuh pengulangan, bakda magrib penambahan. Belum lagi mereka harus menguasai kitab-kitab kuning. Dengan metode pembelajan tersebut, para orang tua tertarik memasuk­kan putra-putrinya ke pesantren ini.

Pukul tiga pagi, para santri sudah bangun untuk tahajud, sahur, lalu sampai subuh digunakan untuk tadarus dan wirid. Sesudah subuh, ada pengajian tambahan plus tadarus.

Tak hanya itu, pesantren ini juga menargetkan satu hari satu juz. Tadarus merupakan kewajiban yang harus dilakukan santri, baik hari biasa maupun ketika Ramadan. Kemudian sebelum masuk sekolah, para santri wajib piket bareng-bareng, dilanjutkan dengan menyiapkan untuk keperluan sekolah.

Uniknya, setiap jam tujuh pagi para santri sudah membiasakan untuk bermuhadasah melalui percakapan bahasa Arab dan Inggris. Santri meng­­ucapkan vocabulary yang dilantunkan secara bersama-sama.

Itu dilakukan setiap hari agar santri dapat mengha­­falnya. Dilanjut dengan salat Duha berjamaah, lalu ditambah membaca Asmaul Husna. Setelah itu, barulah memasuki pelajaran sekolah seperti biasa.

Saat pulang sekolah, setelah istirahat dan salat, para santri di ponpes ini langsung lanjut mengaji. Kedispilinan waktu menjaga stamina sangat diperlukan untuk santri. Para pengajar pun sangat sigap untuk membimbing para santri. Santri juga harus bisa membagi waktu untuk pelajaran sekolah dan kepesantrenan.

“Budaya Ramadan di ponpes ini ada ngaji pasaran, ngaji kitab dari mulai bakda zuhur, ashar, dan bakda isya ngaji Alfiyah yang sangat jarang untuk seusia santri, namun di sini sudah belajar,” tukasnya.

Biasanya santri menampilkan sebi marawis dalam event Ramadan di salah satu rumah sakit yang ada di Bogor. Selain itu juga ada pesantren kilat untuk anak yatim, buka puasa bersama anak yatim, juga buka puasa bersama para jamaah pengajian.(cr4/c)

Komentar Anda

Baca Juga