Beranda Berita Utama

Maaf Jokowi untuk Megawati

BERBAGI
MUSYAWARAH MUFAKAT: (Foto kiri) CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu dan Pemimpin Redaksi Radar Bogor Tegar Bagja saat menemui perwakilan PDI Perjuangan yang kembali medatangi ke Graha Pena, kemarin (1/6).

BOGOR-RADAR BOGOR,Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang tidak enak hati kepada Megawati Soekarnoputri. Polemik seputar pemberitaan penghasilan para pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi muaranya. Meski maaf telah diberikan Megawati, Jokowi tetap tidak enak hati.

“Saya ketawa sendiri tadi saya pun ditanya sama Bapak presiden dan beliau minta maaf,” ujar Megawati pada peluncuran perangko Bung Karno di Museum Filateli, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Megawati menyarankan agar Jokowi tenang. Dia pun memaklumi karena kerap menjadi sasaran di media sosial.

“Jadi, beliau (Jokowi) saya harapkan tenang-tenang. Saya guyoni dengan bilang, ‘Puasa loh, Pak. Sudahlah, nggak usah dibawa ke dalam hati,’” kata Megawati, saat menyampaikan obrolannya dengan Jokowi.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menilai permintaan maaf tersebut normal.

“Itu normal sekali. Kenapa yang begitu harus jadi polemik? Orang minta maaf kok jadi problem? Nggak boleh itu sangat biasa sekali,” kata Ali kemarin (1/6).

Menurut dia, peraturan mengenai hak keuangan anggota BPIP sudah diatur berdasarkan analisa dari Kemenpan-RB dan Kementerian Keuangan. Hak keuangan dan fasilitas itu kata dia bukan berasal dari keinginan presiden pribadi.

Ngabalin juga mengatakan bahwa peran BPIP penting untuk Indonesia. Karena, ia menilai pembinaan ideologi Pancasila di Indonesia seharusnya mendapat perhatian khusus guna mencegah paham-paham radikalisme.

Seperti diketahui, penghasilan BPIP menuai kritikan dari berbagai pihak. Radar Bogor bahkan ikut memberitakan dengan judul Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta. Berita tersebut membuat kader PDIP Kota Bogor protes dan mendatangi kantor redaksi Radar Bogor, Rabu (30/5).

Datang Lebih Tenang

Sementara itu, siang kemarin (1/6) massa PDIP kembali mendatangi Graha Pena Radar Bogor di Jalan KH Abdulah Bin Nuh. Kali ini, tokoh gaek PDIP Jawa Barat, Rudi Harsa Tanaya dan Diah Pitaloka, anggota Fraksi PDIP DPR RI, tampak hadir. Keduanya bahkan diplot sebagai penyampai pesan ketika mereka berdialog dengan redaksi Radar Bogor.

Tuntutannya tetap sama dengan apa yang mereka tuntut hari Rabu: Radar Bogor harus minta maaf atas penerbitan infografis tentang gaji Megawati Soekarnoputri sebagai ketua BPIP. Mereka menilai infografis tersebut sangat tendensius.

Radar Bogor edisi Rabu (30/5) menurunkan berita headline lengkap dengan infografis tentang gaji dan penghasilan beberapa pejabat negara, termasuk Megawati sebagai ketua BPIP. Berita berjudul Ongkang-ongkang Kaki Dapat Gaji Rp112 Juta itu diprotes oleh massa PDIP sebagai berita tendensius. Mereka memperta­nyakan mengapa gambar Mega­wati yang dibuat lebih menonjol dibanding pejabat yang lain.

Pertemuan yang disaksikan Staf Khusus Wakil Presiden HM Alwi Hamu (baju batik) dan Kapolsek Bogor Barat Kompol Pahyuniati menemukan kesepakatan.

“Cara pandang kami tentang gambar Radar Bogor terbitan dua hari lalu (30/1) berbeda. Kami melihat gambar atau infografis Ibu Megawati yang dibuat Radar Bogor sangatlah tendensius,” kata Rudi di tengah pertemuan di lantai 4 Graha Pena Radar Bogor itu.

Diah Pitaloka justru meminta persoalan antara PDIP dengan Radar Bogor harus segera selesai. Dia berharap penyelesaiannya bisa dilakukan dengan cara kekeluargaan.

“Saya rasa kita tidak perlu me­minta Dewan Pers turun tangan. Saya yakin hubungan baik PDIP dengan Radar Bogor sejauh ini bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat,” tuturnya.

Dalam dialog sampai pukul setengah lima petang kemarin itu juga dihadiri Staf Khusus Wakil Presiden HM Alwi Hamu, CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu dan sejumlah pimpinan Radar Bogor. Kapolsek Bogor Barat Kompol Pahyuniati juga hadir di ruang pertemuan.

Redaksi menganggap bahwa fakta berupa data besaran gaji/penghasilan dan kata ‘ongkang-ongkang kaki’ adalah fakta jurnalistik. Besaran penghasilan termuat
dalam Perpres 42 Tahun 2018. Sedangkan kata ‘ongkang-ongkang kaki’ dikutip dari omongan Amien Rais yang juga telah dimuat banyak media.

Pemimpin Redaksi Radar Bogor, Tegar Bagja Anugrah, mengatakan bahwa bila foto Ibu Megawati yang lebih menonjol dalam infografis itu dianggap tendensius oleh PDIP.

“Maka saya minta maaf ke Bu Mega,” kata Tegar.

Terkait protes para kader PDIP terhadap tampilan infografis Megawati, sekali lagi Tegar menegas­kan bahwa jajaran redaksi tidak memiliki maksud negatif dalam mempresentasikannya.

Sementara itu malam sebelumnya, Kamis (31/5), beberapa kader DPC PDIP Kabupaten Bogor juga datang ke Graha Pena untuk berdiskusi. Mereka adalah Wakil Ketua Bidang Polhukam DPC PDIP Kabupaten Bogor, Rosenfield Panjaitan dan LBH DPC PDIP Kabupaten Bogor; Gregorius Bruno, Edison Sitohang, serta Alfonsus Atu Kota.

“Kami lebih mengutamakan diskusi karena pendekatan media itu beda. Bagaimana perbe­daannya, media itu ada mekanismenya. Salah satunya melalui komunikasi dengan datang seperti ini,” ujar Greg.

Mereka pun merasa diterima dengan baik oleh redaksi Radar Bogor. Bahkan, kata Rosenfield, hal ini membuktikan bahwa perkara bisa diselesaikan dengan tidak melakukan tindakan anarkis.

Segala pesan dalam benak kader DPC PDIP Kabupaten Bogor diakuinya tersampaikan dengan baik. “Kami juga merasa sangat diterima baik karena langsung diterima pucuk pimpinan radar yang ada di sini,” ujarnya.(fik/far/c19/agm/d)

Komentar Anda

Baca Juga