Beranda Radar Ramadan

Yayasan Pesantren Pertanian(YPP) Darul Fallah Ciampea, Padukan Kewirausahaan dan Keagamaan

CALON SUKSES: Dua santri YPP Darul Fallah saat memanen ikan lele yang dibudidayakan di peternakan milik pesantren.

Darul Fallah sudah menerapkan proses pendidikan secara modern. Namun, background pesantren tersebut lebih mengutamakan sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan hortikultura. Para santrinya diwajibkan mengikuti magang agribisnis, terutama yang sudah kelas dua.

KHUSUS di bulan Ramadan, proses pembe­laja­rannya sedikit berbeda dengan hari biasa. Kajian keagamaan diperbanyak, serta melatih santri ceramah, dan men­jadi imam tarawih. Hal inilah yang membuat berbeda dengan pesantren lainnya.

Sehari-hari, santri mengikuti serangkaian kegiatan belajar terlebih dahu­lu dari pukul 07.15 sampai 11.30. Kemu­dian meng­ikuti salat Dzuhur dan istirahat sampai pukul 15.00, dilanjutkan sore hari dengan kajian kitab dan kultum sampai buka puasa.

Sesudah itu, para santri senior dilatih ceramah dan menjadi imam tarawih. Pada pukul 22.00 istirahat dan dibangunkan kembali pukul 03.00 untuk sahur bersama dan salat Subuh. Habis subuh santri ikut kegiatan kajian kitab lagi sampai pukul 06.00.

“Karena sekarang sedang ujian semester, jadi, ujian praktik terlebih dahulu digelar dengan hafalan Alquran, hadist, praktik bahasa Arab dan Inggris,” ujar Muslih Ardia­­ny­sah, salah satu pengurus Yaya­san Pesantren Pertanian Darul Fallah bidang kesiswaan.

Ia juga mengatakan, untuk hari biasa ada kegiatan muha­datsah sebelum isya. Gunanya, mempertajam bahasa Arab. Juga ada mufrodat, muha­dharah, latihan ceramah Arab, Inggris dan Indonesia.

“Kalau Ramadan, ada namanya Qiyamu Ramadan habis isya sebelum tarawih. Latihan ceramah, selain itu mereka akan jadi imam juga, tapi dicek dulu hafalannya oleh guru tahfiz,” katanya.

Selain itu, Muslih juga me­nam­­bahkan, kegiatan tadarus pun dilakukan untuk mening­katkan kualitas dalam mengaji. Karena, santri yang menetap hanya dari madrasah tsanawi­yah (SMP) dan aliyah (SMA).

“Jumlah santri di sini kurang lebih 350 orang putra dan putri madrasah dan aliyah, kalau SDIT dan TK pulang pergi. Dan, hampir semuanya berasal dari Jabodetabek. Sementara 30 persen berasal dari Sumatera, Sulawesi, Kaliman­tan, maupun wilayah Indonesia Timur,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, lulusan pesantren ini ijazahnya pun setara dengan sekolah lain. Kelebihannya, kewirau­sahaan dipadukan dengan keaga­maan.

”Keterpaduan kewi­rau­sahaan bidang agribis­nis, keagamaan, ijazah setara dengan sekolah lain, kita sebut tiga dimensi,” pungkasnya.(nal/c)

Baca Juga