Beranda Berita Utama

Cerita Artidjo Alkostar setelah Pensiun dari Mahkamah Agung

SEMANGAT :Artidjo Alkostar saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kantornya Mahkamah Agung, Jakarta, Jumat (25/5).

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo, dan Sumenep. Menurut dia, jadi hakim itu, bermimpi mendapat hadiah saja tak boleh.

SAHRUL YUNIZAR dan IMAM S. ARIZAL

MENGEMBANG senyum Bagir Manan. Melihat Artidjo sibuk melayani awak media, mantan ketua Mahkamah Agung (MA) itu lantas berkelakar.

”Biasanya hakim agung nunggu ketua MA. Ini ketua MA nunggu hakim agung,” ucap dia, lantas tertawa kecil.

Bagir adalah salah seorang yang dekat dengan Artidjo. Maklum, dia merupakan pimpinan Artidjo ketika mengawali tugas sebagai hakim agung.

Dalam wawancara kemarin, Artidjo juga sempat menyinggung nama Bagir. ”Jadi, saya ini angkatan Pak Bagir Manan yang terakhir. Yang lainnya sudah pensiun semua,” kata dia.

Dalam buku Titisan Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan yang diterbitkan MA khusus untuk menghormati jasa Artidjo, nama Bagir turut hadir. Dia menyisipkan kesannya terhadap sosok Artidjo. Tidak panjang. Tapi, cukup.

Menurut Bagir, Artidjo punya modal yang tidak dimiliki banyak hakim agung lainnya. Yakni, pengalaman sebagai praktisi dan teoretisi. Keduanya diperoleh Artidjo sebelum bertugas di MA.

”Menurut saya, penggabungan dua keahlian tersebut merupakan modal yang sangat bagus untuk seorang hakim agung,” kata Bagir dalam buku tersebut.

Masih dalam buku yang sama, Bagir mengungkapkan bahwa Artidjo di matanya merupakan sosok yang baik dan serius dalam bekerja. Dia juga mengenal pria kelahiran 1948 itu sebagai sosok yang tidak pernah menunda pekerjaan.

Soal urusan hukum pidana, Bagir juga tidak pernah segan berdiskusi dengan Artidjo. ”Karena menurut saya, tentang hal itu, beliau lebih paham dari saya,” ungkap Bagir.

Bukan hanya itu. Bagir mengenal Artidjo sebagai sosok yang tidak banyak bicara. Termasuk kepada media. Baik di media cetak maupun media elektronik. Menurut Bagir, itu memang suatu keharusan bagi seoarang hakim.

Sebab, banyak bicara bisa jadi malah menjurus pada pelanggaran kode etik. ”Pak Artidjo memiliki standar seperti itu, dirinya sangat displin tentang kode etik,” papar Bagir. Artidjo pun tidak menampik ketika ditanya soal hal tersebut.

Pascagenap berusia 70 tahun 22 Mei lalu, Artidjo menjadi buruan awak media. Namun, baru kemarin hakim kelahiran Situbondo itu bersedia bertatap muka dengan awak media. Dalam kesempatan tersebut, sedikit banyak Artidjo membuka perjalanan hidupnya.

Termasuk pengalaman selama bertugas di MA. Adalah perkara Presiden Soeharto yang paling membekas di kepala alumnus Universitas Islam Indonesia tersebut.
Kala menangani perkara itu, Artidjo belum lama bertugas di MA. Dia ingat betul perkara tersebut ditangani bersama Syafiuddin Kartasasmita sebagai ketua majelis dan Sunu Wahadi sebagai anggota majelis.

Bukan sebatas tertanam kuat dalam kepalanya, perkara itu juga istimewa bagi Artidjo. Meski, semua perkara sama saja di mata suami Sri Widyaningsih tersebut. ”Setelah mengadili Presiden Soeharto itu, perkara yang lain-lain itu kecil aja,” kata dia.

Ucapan tersebut dibuktikan Artidjo lewat ketokan palu dalam setiap persidangan selanjutnya. Beberapa nama besar pernah merasakan bagaimana tegasnya Artidjo dalam memutus perkara. Khususnya perkara menyangkut kasus korupsi.

Mulai Artalyta Suryani, Irawady Joenoes, Urip Tri Gunawan, Gayus Tambunan, Lutfi Hasan Ishaaq, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, Djoko Susilo, Akil Mochtar, sampai O.C. Kaligis.

Meski sering berhadapan dengan orang besar, Artidjo tidak pernah gentar. Tentu dia sadar dengan risiko atas sikap tersebut. Salah satunya ancaman dan gangguan. Pernah, kata dia, sebelum bertugas di MA, dia dikejar untuk dibunuh.

Itu terjadi di Dili, Timor Timur, pada 1992. ”Pernah mau dibunuh saya jam 12 malam. Tapi, Allah melindungi saya yang didatangi oleh ’ninja’ itu,” kenangnya.
Saat menjadi pembela dalam kasus pembunuhan misterius, sambung Artidjo, dirinya juga pernah diancam ditembak oleh penembak misterius. ”Tentu itu tidak saya hiraukan,” imbuhnya.

Menurut pria yang pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat (AS) tersebut, latar belakang sebagai anak dari ayah dan ibu asal Madura membuatya tidak pernah takut. ”Darah Madura saya tidak memungkinkan untuk menjadi takut sama orang,” kata dia santai.

Karena itu, dengan tegas Artidjo menyampaikan bahwa setiap ancaman yang diarahkan kepada dirinya adalah perbuatan salah alamat. Termasuk ancaman lewat guna-guna ilmu hitam. Santet.

”Jadi, kalau orang akan menyantet saya, itu salah alamat juga,” tegasnya.

Sebab, hal semacam itu tidak akan memengaruhi cara kerja dirinya. Baik ketika masih aktif sebagai advokat maupun saat bertugas menjadi hakim agung.

Bahkan, sejumlah godaan yang datang kepada dia juga tidak mempan. Jangankan berbentuk materi seperti cek kosong, penghargaan pun ditolak Artidjo.

Dia mengakui, almamaternya, Universitas Islam Indonesia, pernah ditolaknya saat berniat memberikan penghargaan.

Begitu pula salah satu universitas di Jakarta. ”Saya tolak juga,” tandasnya.

Menurut Artidjo, hakim harus bebas dari harapan yang berpotensi memengaruhi independensi. ”Jadi, kalau hakim itu bermimpi saja mendapat hadiah ndak boleh,” ucapnya.

Dia sangat berharap sikap seperti itu dimiliki setiap hakim. Khususnya hakim-hakim muda yang nanti menjadi generasi penerus dia. Dengan begitu, harapan MA semakin baik ke depan terwujud. MA menjadi rumah keadilan bagi seluruh masyarakat.

Harapan itu dia utarakan setelah 18 tahun mengabdikan diri di MA. Setelah menangani 19.708 perkara. Dia yakin betul harapan tersebut terwujud. Sebab, MA terus berubah. Melalui berbagai langkah, sambung dia, lembaga peradilan tertinggi di tanah air itu sudah berbuat sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri. ”MA itu berhak menatap masa depan yang lebih baik,” ucap Artidjo.

Lantas, apa yang akan dilakukan Artidjo setelah menyelesaikan tugas yang belasan tahun dijalaninya? Dengan ringan dia menjawab akan kembali menjadi orang desa. ”Saya akan pulang kampung. Mengangon kambing. Nggak muluk-muluk saya,” ujarnya.

Keinginan itu memang bukan kali pertama dilontarkan oleh sulung lima bersaudara tersebut. Dalam beberapa kesempatan, dia sudah sempat menyampaikan hal serupa.
Artidjo mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak mungkin kembali ke habitat sebagai advokat. Tapi, dia memastikan masih terus mengajar di Universitas Islam Indonesia.

Karena itu, setelah menuntaskan semua urusan di Jakarta akhir bulan ini atau awal bulan depan, ada tiga tempat tinggal yang akan menjadi saksi bisu perjalanannya ke depan. Yakni, Situbondo, Jogjakarta, dan Sumenep.

Situbondo adalah tempat Artidjo lahir. Kemudian, di Jogjakarta dia mengajar. Sedangkan di Sumenap, dia punya keluarga besar dari ayah dan ibunya. ”Saya sudah punya kafe. Madurama Cafe di Sumenep,” imbuhnya.

Bisnis kuliner itu bukan baru-baru ini dia rintis. Melainkan sudah berjalan cukup lama. Buktinya, Madurama Cafe sudah buka cabang di beberapa kota.

Jawa Pos Radar Madura (Grup Radar Bogor) menyambangi Madurama Cafe di Sumenep. Sayang tutup. Pengelolanya, Adi Sultan, keponakan Artidjo, tengah pergi ke Situbondo dan tak bisa dihubungi.

Ahmad Rafli, anak Adi dan terhitung cucu Artidjo, mengaku jarang bertemu sang kakek. Karena itu, dia tidak berani ketika diminta menggambarkan sosok sang kakek.

”Kalau gambaran ringkasnya, Pak Artidjo itu orangnya tegas, privasinya tinggi untuk orang yang belum kenal dekat. Tapi, beliau juga sangat sederhana,” katanya.
Artidjo pun berharap, selepas dirinya dari MA, ada pengganti yang lebih baik. ”Saya yakin itu bisa terwujud.”

Tapi, dalam buku Titisan Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif pun menyampaikan tidak akan mudah mencari sosok seperti Artidjo.

Ketika ditemui langsung di kantornya kemarin, pejabat yang akrab dipanggil Laode itu mengakui bahwa dirinya sudah kenal Artidjo sebelum terpilih sebagai pimpinan KPK. ”Saya pikir Pak Artidjo itu adalah salah satu hakim agung yang berusaha mengembalikan marwah Mahkamah Agung,” ujarnya.

Menurut dia, Artidjo juga punya banyak sumbangsih untuk urusan pemberantasan korupsi. Dia mengenal Artidjo sebagai hakim yang tegas melawan koruptor.

Lewat buku Titisan Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun turut menyanjung Artidjo. ”Kalau di Kepolisian Republik Indonesia, beliau seperti sosok Pak Hoegeng Imam Santoso. Pak Artidjo dan Pak Hoegeng sama-sama memiliki idealisme yang tinggi,” ungkapnya.(*/c10/ttg)

Baca Juga