Beranda Berita Utama

Keluarga ASN Kemenag Terlibat Jaringan Teroris, Ini Kata Menteri Agama

BERBAGI
Ilustrasi penangkapan terduga teroris.

JAKARTA-RADAR BOGOR, Istri Budi Satrio, terduga teroris yang ditembak mati Tim Densus 88 Antiteror di Sidoarjo, diketahui adalah Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag).

Hal itu diketahui setelah Inspektorat Jenderal Kemenag menelusuri informasi adanya keluarga ASN Kemenag yang terlibat jaringan teroris.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membenarkan informasi itu, bahwa keterangan yang menyebut suami dari PNS Kemenag adalah terduga teroris itu terkonfirmasi. Namun demikian, hal tersebut merupakan pelajaran bagi pihaknya untuk lebih meningkatkan pengawasan.

Lukman juga berjanji akan memberi sanksi tegas kepada ASN di lingkungan Kemenag yang masuk dalam jaringan terorisme dan diduga ikut terlibat dalam kegiatan terorisme.
Selain itu Kemenag akan lebih waspada saat merekrut ASN. Ke depan, Kemenag akan menekankan pada calon ASN untuk menyatakan kesetiaannya pada Pancasila dan berkomitmen tinggi kepada NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Setiap ASN apalagi di Kemenag mengawali masa kerja dengan mengangkat sumpah dan dia harus tunduk pada UU ASN dan kalau dia benar terbukti melakukan teroris maka kami beri sanksi tegas,” ujar Lukman di Auditorium KH M Rosjadi, Kemenag, Jakarta, (15/5/2018).

Lukman mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan dalam mengawasi pegawai di lingkungan Kementerian Agama yang masuk dalam jaringan teroris.

Menurut Lukman Kemenag merupakan lembaga yang memiliki satuan kerja (satker) terbanyak di seluruh Indonesia. Yakni tidak kurang dari 4.457 satker.

“Kita membawahi 220 ribu ASN (Apratur Sipil Negara) di Kemenag di seluruh tanah air, tentu kami punya keterbatasan untuk bisa mengetahui secara persis aktivitas keseharian dari setiap ASN,” tuturnya.

Sebelumnya Densus 88 Antiteror menembak mati terduga teroris bernama Budi Satrio di kawasan Perumahan Puri Maharani blok A4/11 11 Masangan Wetan, Sukodono, Sidoarjo, Senin (14/5/2018).

Polisi terpaksa melakukan tindakan tegas lantaran ada perlawan saat dilakukan penangkapan.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto Budi berperan sebagai penampung dana yang digunakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. JAD Surabaya diketuai oleh Dita Oepriarto pelaku teror yang melakukan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pada Minggu (13/5/2018). (ysp)

Baca Juga