Beranda Female

Ajak si Kecil Berpuasa

BERBAGI
ilustrasi

DALAM Islam, anak diwajibkan berpuasa saat sudah akil balig. Meski begitu, sah-sah saja memperkenalkan puasa kepada anak sejak dini. Tujuannya, anak tidak kaget ketika sudah harus berpuasa seharian. Bahkan, dr Ratna T. Hadju SpA, dokter spesialis anak yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya, menganjurkan untuk mengenalkannya pada usia balita.

Dia menjelaskan, makanan yang disantap saat sahur akan mempertahankan kadar gula darah hingga empat jam. Kemudian, tubuh bakal memecah cadangan makanan di dalam hati. Selanjutnya, tubuh mengambil sumber energi cadangan dari sel-sel lemak untuk mempertahankan kadar gula darah. ’’Tubuh anak siap untuk menahan tidak adanya asupan makanan dan minuman selama berpuasa. Jadi, belajar puasa umur berapa pun tidak menjadi masalah,’’ kata Ratna.

Tahap pertama yang bisa dilakukan ayah dan bunda adalah menanamkan rasa cinta Ramadan kepada anak. Misalnya, menceritakan amalan-amalan pada Ramadan maupun menyiapkan hidangan spesial khas Ramadan. ’’Dengan begitu, bakal tumbuh dasar-dasar iman dan kecintaannya kepada Allah,’’ tutur psikolog anak Nuri Fauziah MPsi.

Rasa cinta itu akan berubah menjadi penasaran. Anak mulai memperhatikan tingkah laku ayah dan bundanya yang tidak makan dan minum ketika berpuasa. Saat itulah orang tua bisa mengajaknya berpuasa. Bisa dimulai dari jangka waktu yang pendek. Misalnya, hanya berpuasa sampai pukul 09.00.

Pada hari lain, anak bisa mencoba berpuasa sampai azan asar berkumandang. Reward alias hadiah dari orang tua tak jarang mampu memotivasi anak. ’’Anak-anak itu secara kognitif memang belum memahami hal-hal abstrak karena masih berada dalam fase konkret,’’ jelas Nuri.

Mereka belum sampai pada pemahaman tentang pahala sebagai balasan puasa. Reward yang diberikan orang tua menjadi alat bantu menerjemahkan balasan Tuhan bagi hambanya yang bertakwa. Reward bisa berupa materi maupun nonmateri. Sebagai stimulus, bisa dimulai dari yang bersifat materi.

’’Misalnya, ketika sudah dapat puasa full, nanti anak diberi reward berupa buku, baju Lebaran, atau uang. Hitung berapa hari dia puasa full,’’ ungkapnya.

Misalnya, yang dilakukan Irma Dianita MPsi, anggota tim psikolog di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya sekaligus ibu rumah tangga. Irma mengenalkan puasa kepada anak per tama nya, Rafif Fawwazrais Adibawono (10) sejak berusia 4 tahun. Irma mengajaknya sahur dan buka bersama. ’’Lama-lama dia punya kesadaran alami untuk ikut puasa, bahkan tanpa saya minta,’’ ceritanya.

Pada umur 5 tahun, Rafif berpuasa semampunya. ’’Kadang mau berangkat sekolah sudah haus. Lalu, puasa lagi sampai zuhur. Begitu terus sampai dia bisa menahan lebih lama,’’ ucap Irma.

Dia setuju dengan anggapan bahwa reward bisa memotivasi anak. Dia menerapkan reward berupa pujian.

’’Saya sering bilang dengan ekspresif, ’Wah hebat banget sudah menahan diri untuk berpuasa. Keren deh.’ Jadi, anaknya merasa malu-malu bangga,’’ ujarnya.

Di samping itu, Irma memberikan pengertian bahwa puasa merupakan ibadah. Jadi, balasan yang diterima bukan dari orang tua, melainkan dari Allah. Terlebih, dia tidak ingin anak terbiasa beribadah karena mengejar sesuatu. Ibadah harus dilakukan dari hati dengan niat murni. Cara itu cukup ampuh.

Saat berusia 9 tahun, Rafif sudah bisa mulai berpuasa penuh. ’’Di usia 9 tahun ke atas, anak sudah bisa memahami suatu hal dengan lebih abstrak dan dalam. Semestinya, pada usia itu pun, reward mulai dilepas perlahan,’’ jelasnya. (adn/c14/nda)

Baca Juga