Beranda Berita Utama

Saatnya Kolojengkingan

BERBAGI

Oleh: Dahlan Iskan

Tidak ada kesepakatan apa pun. Kecuali sepakat perlu dialog lagi. Itulah hasil pertemuan delegasi Amerika Serikat dengan Tiongkok. Yang berakhir Jumat lalu.
Menyisakan pertanyaan besar: jadi perang dagangkah?

Kalau jadi, itu berarti mulai akhir bulan ini. Sesuai dengan jadwal.

Beberapa pelabuhan di Tiongkok bahkan sudah melangkah. Di Shenzhen pemeriksaan barang masuk dari Amerika sudah lebih teliti. Maksudnya: lebih lambat. Kapal antre. Terlalu lama. Itu tidak baik untuk sayur dan buah.

”Sudah ada kapal yang terpaksa balik,” kata pengurus koperasi tani di pedalaman Kansas.

Saya bicara langsung dengan dia Jumat lalu. Di depan kantornya. Dia prihatin kalau perang dagang ini benar-benar terjadi.

Bisa jadi perubahan di pelabuhan itu untuk menunjukkan keseriusan Tiongkok. Dalam melakukan perlawanan. Di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Bisa dibayangkan kerasnya negosiasi dua hari itu. Amerika mengajukan dua agenda: 1). Tiongkok harus mengurangi surplus dagangnya. 2). Jangan memberi subsidi pada program ‘made in Tiongkok 2025’.

Sebetulnya ada satu lagi yang diminta Amerika: jangan membalas dendam tindakan Washington.

Tiongkok juga cuma mengajukan dua agenda: 1). Cabut pengenaan tambahan tarif impor itu. 2). Cabut larangan kirim teknologi tinggi ke Tiongkok.

Sebenarnya ada juga tambahan permintaan: jangan menuntut terus.

Delegasi Amerika pulang. Haiiyyaa… tangan hampa.

Yang mengejutkan: direksi ZTE hari itu bikin edaran. Untuk 80 ribu karyawannya. Yang lagi resah. Isinya: memberikan semangat. Memberi optimisme. ”Semoga kita bisa segera mengucapkan selamat datang fajar!”. Begitu kira-kira isinya.

ZTE adalah BUMN raksasa Tiongkok. Di bidang telekomunikasi. Bersaing keras dengan Huawei yang swasta. Sama-sama dari Shenzhen.

ZTE sudah terlanjur sesumbar: tahun depan meluncurkan 5G. Yang akan terbesar di dunia.

Tiba-tiba Presiden Trump melarang perusahaan-perusahaan Amerika mengekspor semiconductor ke Tiongkok. Selama tujuh tahun. Alasannya: ZTE masukkan barang ke Iran.

Sanksi Trump itu benar-benar pukulan telak bagi ZTE. Bahkan bagi Tiongkok secara keseluruhan. Ada yang mengibaratkan Tiongkok kena Achilles Heel-nya. Titik pengapesannya. ZTE tidak akan berkutik tanpa chips dari Amerika. Bahkan stock barangnya tinggal dua bulan. Semua karyawan tahu itu. Resah. Gelisah.

Lalu ada apa dengan surat edaran itu? Yang menggambarkan menyingsingnya fajar? Adakah direksi ZTE mendapat bocoran rahasia hasil negosiasi? Atau sudah menemukan cara baru? Tanpa chips dari Amerika?

Tiongkok memang all out soal semiconductor itu. Ini Achilles Heel. Seluruh program Tiongkok bisa tiba-tiba kehilangan tenaga. Terutama program utama Xi Jinping: berdikari tahun 2025.

Semua barang sudah harus bisa dibuat di dalam negeri di tahun itu: pesawat terbang, artificial intelegence, pesawat ruang angkasa dan kebanggaan teknologi lainnya.

Tapi semua itu akan lumpuh tanpa chips dari Amerika.

Seperti tiba-tiba lumpuhnya Achilles dalam perang Troja. Padahal sebelum itu, Achilles begitu hebatnya. Semua musuh dikalahkannya. Hanya karena tumitnya tidak terbungkus pelindung terkena panahlah bagian itu. Njungkel.

Kisah tumit Achilles memang hanya mitos. Waktu dilahirkan dia diramal mati muda. Kecuali seluruh badannya dicelupkan ke air sungai tersakti di Athena.

Ibunya segera membawa bayi Achilles ke sungai. Dia pegang tumitnya. Dia masukkan badan bayi itu ke dalam air sungai. Tapi tidak bisa sampai bagian tumitnya.

Amerika tahu pengapesan Achilles Heelnya Tiongkok itu.

Dasarnya ilmiah: ahli-ahli semiconductor adanya di Amerika. Dari 70 pemegang Nobel bidang komputer 40 dari Amerika. Tidak satu pun dari Tiongkok. Itulah tumit Achillesnya Tiongkok.

Rupanya kelanjutan perang ini masih harus ditunggu dulu. Adakah episode lanjutan yang lebih seru.

Sambil menunggu biasanya ada adegan selingan. Agedan lucu. Bisa Togogan. Atau Bagongan. Atau Kolojengkingan.(dis)

Baca Juga