Beranda Berita Utama

Ikhtiar Pasangan Vaughan Hatch-Putu Evie Suyadnyani Melestarikan Gamelan dan Lagu Bali

BERBAGI
KOMPAK: (Dari kiri) Vaughan Hatch bersama Putu Evie Suyadnyani (istri), Kadek Prana Gita (dipangku anak kedua) dan Gede Semara Richard (anak pertama) bersama keluarga yang tergabung dalam sanggar Mekar Bhuana.

Bermula dari lantunan gamelan Jawa yang didengarnya di Selandia Baru, Vaughan Hatch kini telah merekonstruksi 50 lagu tradisional Bali yang nyaris punah. Rutin manggung bersama istri, anak, dan keluarga besar di berbagai negara.

Laporan : JOS RIZAL

PERSIS saat melangkah ke luar rumah, langkah pria itu tertahan. Dia tertegun. Di sana, di hadapan perangkat gamelan, sang anak yang akan diantarkannya ke sekolah tengah asyik memainkannya.

’’Saya tak ingat persis perangkat gamelan yang mana. Yang pasti, dia mengetuknya dengan nada pas,’’ kenang Vaughan Hatch, pria tersebut, tentang polah si anak, Gede Semara Richard, enam tahun silam itu.

Padahal, usia Semara saat itu baru enam tahun. Tapi, mana ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya.

Ketika itu, 2012, sudah sekitar 15 tahun Vaughan, pria kelahiran Selandia Baru tersebut, bergelut dengan gamelan Bali. Istrinya, Putu Evie Suyadnyani, malah berasal dari keluarga seniman tradisional Pulau Dewata itu. Rumah mereka di Denpasar, Bali, yang menyatu dengan sanggar juga dipenuhi berbagai perangkat gamelan.

’’Sejak itu, saya melatih Semara bermain gamelan. Bagi saya, dia bocah ajaib. Diajari sekali langsung bisa mengerti,’’ kata Vaughan kepada Jawa Pos (Grup Radar Bogor) yang menemuinya seusai perayaan hubungan bilateral Indonesia-Selandia Baru di Pakuwon Mall, Surabaya, Jumat sore lalu (4/5).

Sudah sejak 1997 Vaughan tertarik, mempelajari, mendalami, dan melestarikan gamelan. Pergulatan panjang yang berawal dari pertemuan tak sengaja di perpustakaan Universitas Otago. Di kampus yang terletak di Dunedin, Selandia Baru, itu, dia mengambil jurusan arkeologi.

Suatu hari, Vaughan tengah asyik membaca saat telinganya menangkap lantunan musik yang serasa datang dari planet lain. Belum pernah didengar penggemar jazz yang juga DJ radio kampus itu sebelumnya.

Belakangan, dia tahu bahwa yang dia dengar tersebut lantunan gending Jawa. Vaughan yang dari semula memang memilih pendekatan etnomusikologi untuk menyelesaikan studi semakin tertarik.

Pria yang berulang tahun tiap 23 Desember itu pun kemudian mengajukan sebuah penelitian tentang gamelan. Sejumlah pengajar di kampusnya mereko­mendasikan agar Vaughan datang ke Solo dan Jogja.

Namun, dia malah lebih memilih memperdalam gamelan Bali. ’’Karena gamelan Bali punya ketukan unik dan belum pernah ada orang Selandia Baru yang mendalami hal itu sebelumnya,’’ terangnya.

Vaughan kemudian berkelana dari satu desa ke desa lain di Bali. Untuk mengumpulkan manuskrip dan berguru kepada seniman lokal.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2000, dia bersama sejumlah seniman di Bali mendirikan sebuah sanggar. Namun, saat itu masih dibiarkan tanpa nama. Karena yang dipentingkan adalah bagaimana sanggar itu menjadi wadah memperdalam musik dan tari Bali.

’’Di sinilah konsep awal Mekar Bhuana berasal,’’ jelasnya.

Akhirnya, Mekar Bhuana itu pula yang dipilih sebagai nama sanggar. Dalam bahasa Bali, Mekar Bhuana berarti bersemi di seluruh dunia.

Kelompok Mekar Bhuana itu pula yang pada Jumat sore lalu meramaikan perayaan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Selandia Baru di Pakuwon Mall Surabaya. Selain Vaughan dan Evie, ada dua anak mereka, Semara, 12, dan Kadek Prana Gita, 8.

Anggota lainnya juga masih bertalian keluarga. Misalnya, orang tua dan adik-adik Evie. Sebagian bertugas memainkan perangkat gamelan. Sebagian lainnya menari.

Semara, misalnya, sore itu menampilkan Tari Jaran Kungkarang. Sebuah tari hasil inovasi Evie dan Semara.

Dalam karya tersebut, tersemat pesan betapa alam menyatu dengan kehidupan manusia. Semara melangkah lincah diiringi nada-nada gamelan yang dipukul menyerupai entakan kaki kuda.

Semara juga menari dan mengentak-entakkan kakinya ke lantai. Sesuai dengan namanya, tarian itu memang terinspirasi kuda-kuda di alam. ’’Tari itu diciptakan anak dan istri saya sebagai wujud kecintaan pada alam dan seni di Bali,’’ terang Vaughan yang menjadi WNI sejak 2014.

Pergulatan dengan gamelan, lagu, serta tarian Bali pula yang mempertautkan Vaughan dengan Evie. Mereka bertemu pada 2002, ketika Vaughan terpesona kepada Evie yang tengah menari.

’’Kami menikah karena punya konsentrasi yang sama. Ingin melestarikan gamelan, lagu, dan tari Bali,’’ ungkap Evie.

Sesuai dengan harapan yang disematkan pada namanya, Mekar Bhuana benar-benar mekar. Berlompatan dari mulut ke mulut. Hingga suami istri dan anak-anak serta keluarga besar mereka itu berkesempatan manggung ke mana-mana.

Yang paling sering untuk keperluan perayaan pesta seni di suatu negara. Antara lain, Selandia Baru, Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Undangan manggung itu juga merupakan bentuk apresiasi karena Mekar Bhuana dianggap kelompok yang paling berdedikasi. Dari lebih dari 70 perangkat gamelan di Bali, sembilan di antaranya dimiliki Mekar Bhuana. Mereka adalah Semara Pagulingan, Semara Patangian, Gender Wayang, Genggong, Baleganjur, Gong Bheri, Rindik, Angklung Klentangan, dan Selonding.

Ada sejumlah cara yang ditempuh Vaughan dan keluarga untuk mendapatkan perangkat-perangkat gamelan tersebut. (*)

Baca Juga