Beranda Berita Utama

Cowboy dan Dia

BERBAGI

Cowboy Masih Ada?
Julung Darmanto, May 1, 2018:

Masihkah ada cowboy di sana?
Tolong angkat cerita tentang Cowboy yang sebenarnya.
Komentar Disway:
Sumpah kiting… tidak ada lagi. Bung Darmanto kan pernah ke Amerika. Tapi umumnya orang ke Amerika lebih tergiur ke New York. Gegap gempita. Glamour.

Kalau jalan-jalan di Fifth Evenue seperti melihat cat walk di sebuah pertunjukan mode. Apalagi di bulan April atau awal Mei seperti ini. Atau di bulan Oktober-November.

Tapi setelah beberapa kali ke New York yahhhh begitu-begitu saja. Malah menguras nukud. Sudah sepuluh tahun belakangan saya lebih banyak menjelajah wilayah tengah.

Tidak ada negara bagian di wilayah selatan, tengah, barat, timur yang belum saya jelajah. Tinggal empat negara kecil-kecil di pojok timur laut yang belum.
Kesimpulannya: Cowboy yang sebenarnya sudah tidak ada. Sejak kapan? Sejak tidak lama setelah jalan kereta api dibangun. Dari pantai timur ke pantai barat. Membelah daratan benua Amerika. Pada tahun 1869. Waktu itu buyutnya Via Valen belum lahir.

Sejak itu pendatang dari wilayah timur bermigrasi ke tengah. Menguasai wilayah maha luas. Yang selama itu jadi wilayah pengembaraan suku-suku Indian.

Lalu, jalan-jalan dibangun. Tanah dikapling. Ternak tidak bebas lagi. Sistem peternakan berubah: menjadi sistem ranch. Tanahnya luas tapi menjadi ada batas. Ada pagar.

Kemarin saya ketemu pemilik ranch dari Colorado. Kumisnya dipelihara sampai panjang. Dirawat. Dibentuk. Mirip tanduk sapi. Dia memiliki 400 sapi. Di ranch-nya seluas 400 acres. Lalu sekarang sistem itu mulai berubah lagi.

Jumat kemarin saya mengunjungi peternakan model baru. Maksudnya model setelah sistem Cowboy hilang. Diskusi di situ.

Dan lagi cowboy yang sebenarnya adalah orang kulit hitam. Atau orang dari Mexico. Bukan orang kulit putih seperti dalam film-film. Orang kulit putih adalah juragan. Cowboy adalah buruh. Pengembala sapi. Tentu juragannya juga sering mengenakan pakaian ala cowboy. Dan suka naik kuda.

Tepo Sliro Inggrisnya Apa?
Sil, May 2, 2018:
Daaan… tepo sliro ditranslate Google menjadi…
Komentar Disway:
Beberapa istilah Jawa atau Banjar yang saya selipkan ke tulisan saya umumnya tidak diterjemahkan. Oleh Google dibiarkan tertulis seperti aslinya. Seperti tepo sliro itu.

Demikian juga beberapa kata yang saya maksudkan sebagai humor dibiarkan apa adanya.

Saya lega. Misalnya kata ”Terlaaaaluuuu” dibiarkan tertulis seperti itu. Coba kalau saat itu kata tersebut saya tulis ‘Terlalu’ pasti akan diterjemahkan menjadi ‘too’. Hilanglah rasa Rhomanya!

Untungnya kata seperti via valen juga dibiarkan utuh. Tidak diterjemahkan menjadi, misalnya, thrue creek …. lewat parit.

Usul Dia dan Ia
Daniel, May 2, 2018:
Apa boleh saya usul, Ia untuk laki-laki. Karena bahasa Inggrisnya juga cuma 2 huruf He. Sedangkan Dia untuk perempuan karena terdiri dari 3 huruf she.
Komentar Disway:
Beberapa komentar rupanya juga mengusulkan hal yang sama. Nyerah deh. Setujuuuu… Daniel!

Waktu saya usulkan ‘dia’ untuk laki-laki dan ‘ia’ untuk perempuan memang saya tidak mendasarkan pada kajian apa pun. Itu bagian yang subjektivitas saya. Yang terlintas saat itu: ‘Dia’ kan ada huruf ‘D’ nya.

Orang yang namanya pakai huruf D itu kan laki-laki. Misalnya… tahu sendirilah! Lho Daniel kan juga pakai huruf D. Demikian juga Dadang.

Sedang orang yang namanya pakai huruf ‘I’ umumya kan wanita: Indah, Indrawaty, Ikke Nurjanah, Ike Juike, Ivia Valen….

Tapi yah… nyerah deh. Kalah argumen. Saya setuju: ‘Dia’ untuk ‘she’, ‘Ia’ untuk ‘he’. Saya sumpah tidak akan ganti nama menjadi ‘Hahlan Hiskan’.

Baca Juga