Beranda Berita Utama

Ketika Para Pendekar Puisi Berkemah dan Unjuk Kebolehan di Lembah Ijen

BERBAGI
MENGHIPNOTIS: Sutardji Calzoum Bachri saat membacakan puisi.

Ratusan peserta yang disaring ketat berkesempatan berdiskusi dan menyaksikan para penyair papan atas membacakan karya mereka. Ada kiriman karya tentang Banyuwangi dari negeri di Afrika sana.

SHULHAN HADI, Banyuwangi

DIA beranjak dari kursi. Dengan tangan kiri memegang beberapa lembar kertas. Dan sebuah harmonika di tangan kanan.
Harmonika mengalun. Sebelum kemudian suara serak itu membelah malam di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Banyuwangi…

Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih
Aku bawakan resah padamu
Tapi kau bilang hanya

Di usia yang sudah 77 tahun, Sutardji Calzoum Bachri tetaplah Sutardji Calzoum Bachri yang memesona dalam menghidupkan puisi yang dia baca. Penuh penjiwaan. Penuh letupan energi.
Mengajak semua yang hadir di sanggar yang berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, itu hanyut dalam teks puisi Tapi karyanya tersebut. Yang dibacakan berselang-seling dengan lantunan harmonika.

Aku bawakan mimpiku padamu
Tapi kau bilang meski
Aku bawakan dukaku padamu
Tapi kau bilang tapi
….
****
Perhelatan di Sanggar Genjah Arum itu adalah rangkaian dari Kemah Sastra Nasional (KSN) yang berlangsung di Banyuwangi. Selama dua hari, sejak Sabtu lalu (28/4), sejumlah nama besar di jagat kepenyairan tanah air hadir berkumpul di kawasan lereng Gunung Ijen, di kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Selain Sutardji, ada D. Zawawi Imron, Hasan Aspahani, Wayan Jengki Sunarta, dan Ahmadun Yosi Herfanda. Hadir pula sejumlah penyair dari Malaysia dan Singapura. Termasuk Presiden Persatuan Penulis Nasional (Pena) Malaysia Dr Mohamad Saleh.

”Acara malam ini (malam itu, red) sungguh istimewa sekali karena dihadiri tiga presiden. Ada Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Persatuan Penulis Nasional Malaysia Dr Mohamad Saleh, dan Presiden Republik Kemiren Iwan Subekti (pemilik Sanggar Genjah Arum, Red),” ujar Samsudin Adlawi, ketua Dewan Kesenian Blambangan yang menginisiatori acara tersebut, disambut tawa para peserta KSN seperti ditulis Jawa Pos Radar Banyuwangi (Grup Radar Bogor).

Total sekitar 200 orang mengikuti kemah sastra yang juga dihelat dalam rangka Hari Puisi Dunia itu. Mereka berasal dari berbagai penjuru tanah air: Surabaya, Malang, Sukabumi, Sumenep, Depok, Serang, Mataram, dan Pekanbaru.

Tidak mudah menjadi peserta KSN. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Peserta harus mengirim satu karya puisi tentang Banyuwangi. Sampai batas akhir pengiriman, panitia menerima 670 puisi. Bukan hanya dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tapi juga dari Mozambik, negeri nun jauh di Afrika sana.

Selanjutnya, karya tersebut dinilai empat kurator puisi, yakni D. Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, dan Wayan Jengki Sunarta. Dari 670 puisi, akhirnya yang lolos 190 karya. Semua lantas dibukukan dalam antologi Nusantara Senyuman Lembah Ijen (SLI).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang meluncurkan SLI. Berbarengan dengan peluncuran buku-buku lainnya, yaitu Menggandrungi Banyuwangi, Selingkar Pedang Jalan Pulang, dan Cinta Ibu Lebah Madu.

Bupati Anas juga me-launching album perdana Banyuwangi Ethno Music (BEM) yang diserahkan kepada penyanyi yang juga artis Banyuwangi Reni Farida.

KSN dimulai dengan pergelaran pembacaan puisi yang dilanjutkan dengan lokakarya penulisan puisi dan cerpen. Malamnya, mendiskusikan puisi dan sastra di Sanggar Genjah Arum. Lalu, Minggu pagi (30/4) dilanjutkan mendaki ke puncak Ijen.
***
Adalah D. Zawawi Imron yang mulai menghangatkan dinginnya malam di kawasan Kemiren malam itu. Puisi Ibu karyanya seperti membawa semua yang hadir di sanggar dalam pelukan ibunda masing-masing.

”Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir.”

Bagi sineas Garin Nugroho yang hadir dalam diskusi di sanggar malam itu, bait puisi sangat memengaruhi film-film karyanya. Bulan Tertusuk Ilalang, salah satu film karyanya, misalnya, terinspirasi puisi karya Zawawi dengan judul serupa.

Kendati demikian, Garin menyebutkan, tidak mudah mentransformasikan karya sastra ke dalam film. ” Film membawa petualangan baru (atas karya sastra yang menginspirasinya, red),” ungkap dia.

Bertautan dengan yang disampaikan Garin, Hasan, penulis biografi Chairil Anwar, menyebutkan, karya film dan sastra saling berkaitan. Bahkan, meski saat ini dia dikenal sebagai penyair, latihan pertamanya justru menulis skenario.

Hasan mengatakan, jika ingin karyanya bisa ditransformasikan dalam berbagai bentuk karya, terutama film, para sastrawan setidaknya harus dekat dan akrab dengan dunia film. ”Sastrawan harus merasa bagian dari film,” tuturnya.
***
Malam kian larut. Satu per satu atraksi khas Osing dihadirkan. Mulai tari Jaran Goyang, Mocoan Lontar Yusuf, hingga perkenalan dan unjuk suara dari maestro gandrung Banyuwangi Mbok Temu.

Tak satu pun yang hadir beranjak pergi. Meski dingin kian menggigit. Apalagi saat Sutardji, setelah Tapi, Lalu, mengentak dengan Aku, karya legendaris Chairil Anwar.

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
(*/aif/c9/ttg)

Baca Juga