Beranda Berita Utama

Sebulan, Gunung Salak 139 Kali Gempa

BERBAGI
Gunung Salak (Sofyansah/Radar Bogor)

BOGOR–RADAR BOGOR,Gunung Salak merupakan gunung api aktif tipe A. Tak heran, gempa pun masih terus terjadi. Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selama April 2018, tercatat gempa sebanyak 139 kali terdiri dari 11 kali gempa vulkanik dalam, 12 kali gempa vulkanik dangkal, 67 kali gempa tektonik lokal, 48 kali gempa tektonik jauh, dan 1 kali gempa tornilo.

Kasubidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat-BMKG Bandung, Kristianto mengatakan, status aktivitas Gunung Salak saat ini adalah normal (Level I) dalam arti tidak tampak adanya kegiatan yang menuju peningkatan kegiatan.

Menurutnya, berdasarkan pengamatan visual selama April 2018 Gunung Salak tampak tenang, tidak teramati kepulan asap dari puncak kawahnya. “Saat ini hanya berupa embusan solfatara dan fumarola dari kawah Ratu,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sejarah letusan yang tercatat dalam “Data dasar Gunung api Indonesia” Gunung Salak telah mengalami erupsi sebanyak sembilan kali tahun 1668-1699, 1671, 1780, 1902-1903, 1919, 1923, 1929, 1935, 1936, dan 1938.

Kecuali, tahun 1668-1669 semua erupsinya bersifat freatik, yaitu erupsi uap akibat sistem air tanah terpanasi secara tidak langsung oleh magma melalui konduktivitas batuan. “Tidak diketahui adanya kerusakan lingkungan maupun korban manusia,” katanya.

Sementara itu, letusan selama tahun 1668-1699 bersifat magmatik dan dilaporkan adanya kerusakan lingkungan tanpa penjelasan yang lebih detil. Kegempaan pada saat terjadi letusan pada tahun-tahun tersebut tidak diketahui karena pada saat itu belum dimonitor secara intensif.

Ia menambahkan, gunung api dapat aktif kembali apabila ada suplai magma dari kedalaman ke kantong magma yang lebih dangkal. “Pada saat naik ke permukaan aliran fluida (magma tersebut menekan dinding diatrema dan menyebabkan gempa-gempa vulkanik yang hanya dirasakan oleh alat yang sensitif yaitu seismometer,” paparnya.

Berdasarkan data jumlah gempa pada bulan April 2018 tidak ada suplai magma yang signifikan yang mengindikasikan Gunung Salak mengalami kenaikan aktivitas vulkanik.

Rekomendasi PVMBG pada saat Gunung Salak dalam keadaan normal adalah masyarakat di sekitaran Gunungapi Salak dan para pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati Kawah Ratu, Hirup, Paeh dalam jarak dekat apalagi di musim hujan.

Sementara itu, Kasi Kesiapsiagaan, BPBD Kabupaten Bogor, Budi Aksomo men­jelaskan, gempa yang bermuara dari Gunung Salak hanya terasa di Kabupaten Bogor. Itu pun hanya di Kecamatan Tenjolaya serta Pamijahan.

Meski begitu, ia tetap mewanti-wanti agar masyarakat sekiar tetap dalam kondisi waspada. “Saya juga sudah koordinasi dengan kepala desa di wiayah teresbut. Kita tetap antisipasi, kita persiapkan kesiapsiagaannya,” tuturnya. (cr3/fik/c)

Komentar Anda

Baca Juga