Beranda Female

Yes! Bebas Kacamata

BERBAGI

DI tanah air, lasik sebenarnya jadi perbincangan sejak lama. Tindakan itu memungkinkan ukuran minus berkurang drastis, bahkan mencapai nol. Sesuai namanya, lasik (laser-assisted in situ keratomileusis) adalah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi rabun jauh (minus), rabun dekat (plus), dan astigmatisme (silinder).

Menurut Prof dr Sjamsu Budiono SpM(K) FICS, target lasik adalah memperbaiki permukaan kornea mata. ”Setelah diperbaiki, cahaya yang masuk ke mata bisa fokus jatuh di retina. Sehingga, pandangan akan lebih baik dan tajam. Enggak perlu kacamata,” paparnya. Koreksi di kedua bagian mata pun punya tingkat ketelitian tinggi. Alat sudah diprogram langsung dan ukuran di kedua mata berbeda. Hal itu, lanjut dia, menyesuaikan dengan kondisi pasien.

Dia menyatakan, tindakan tersebut terbilang tidak kompleks. ”Durasi tindakannya singkat. Hanya beberapa menit. Karena biusnya juga lokal, hanya di mata, pasien enggak perlu rawat inap,” jelas kepala Divisi Katarak dan Bedah Refraktif FK Universitas Airlangga/RSUD dr Soetomo Surabaya itu.

Meski relatif aman, sebelum tindakan, pasien perlu melakukan pemeriksaan awal. Satu yang utama, tegas Sjamsu, kondisi mata harus bebas dari luka. ”Terutama trauma yang meninggalkan jaringan parut,” imbuhnya.

Selain itu, dr Yulia Primitasari SpM menam­­­bahkan, ketebalan kornea ikut berpengaruh. ”Pada lasik, kornea dibentuk dengan cara dikikis menggunakan laser. Ketebalan kornea yang akan dilaser pun ditentukan dengan perhitungan terkomputerisasi,” ucapnya.

Spesialis mata sekaligus direktur Surabaya Eye Center itu menuturkan, makin tinggi minus atau silinder, makin tebal pula bagian kornea yang akan dikikis. Yulia menjelaskan, ketebalan kornea umumnya berkisar 500–600 mikron. ”Nah, waktu lasik, tidak semuanya dikikis. Disisakan sekitar 250–300 mikron,” paparnya. Karena itu, pemeriksaan awal sebelum operasi wajib dilakukan. Selain untuk mengecek ketebalan kornea, dokter bisa mengalkulasi perkiraan lapisan yang akan dikikis.

Alumnus FK Universitas Airlangga itu mencontohkan, pada pasien yang memiliki ukuran minus 3, kornea yang dikikis berkisar 60–100 mikron. Bagaimana jika ukuran minus terlalu tebal? ”Pengukuran dan kedalaman laser akan ditentukan, sama seperti sebelumnya. Namun, jika ketebalan kornea tidak mencukupi atau minus terlalu tinggi, amat mungkin ada ’sisa’ minus,” tegas Yulia.

Lantaran perhitungan yang terkomputerisasi, pasien dan dokter bisa mengetahui berapa besar minus yang disisakan. Misalnya, dari minus 7, nanti mungkin ada sisa minus 0,75. ”Mungkin masih akan pakai kacamata. Namun, jelas perbedaannya sangat signifikan,” papar dokter kelahiran Surabaya, 1 Juli 1973, itu.

Yulia maupun Sjamsu menegaskan bahwa lasik bukan obat.

”Tindakan lasik bisa memperbaiki penglihatan sampai ke kondisi nol. Namun, bukan berarti gangguan seperti minus, plus, maupun silinder tidak bakal kembali,” tegas Sjamsu.

Jika kondisi mata belum stabil atau pertambahan minus masih naik-turun dalam pemeriksaan rutin, amat mungkin minus kembali. Sebagai bahan pertimbangan, pasien biasanya diminta melampirkan resep kacamata atau hasil periksa selama beberapa tahun terakhir.(fam/c6/nda)

Baca Juga