Beranda Metropolis

Tangani Golden Age Anak, Hindari Gadget

BERBAGI
WAWASAN: Para dokter spesialis saraf berbagi cara menangani masalah-masalah kesehatan anak di IICC Botani, kemarin. Nelvi/Radar Bogor

BOGOR–RADAR BOGOR,Sebanyak 90 persen orang tua tidak tahu bahwa 80 tahun ke depan usia manusia ditentukan dengan 1.000 hari pertama anak dari kelahiran. Hal itu disampaikan Ketua Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Cabang Kota Bogor, Banon Suko Andari dalam workshop ”Neuropediatri, Neurointensive (Emergency), Sleep Disorder dan Neurotraumatologi” di IPB International Convention Center, Jumat (27/4).

Kata dia, di era digital seperti ini, ham­pir 90 persen orang tua lebih mengenalkan gadget kepada anak-anaknya diban­dingkan memberikan opsi lain untuk mena­ngani perilaku-perilaku anak di masa-masa golden age.

“Ini menjadi fokus Perdossi untuk memberikan edukasi, bahwa bentuk dan besaran otak manusia saat 1.000 hari sejak mereka lahir sama dengan besaran otak orang dewasa, dan apa yang mereka terima di 1.000 hari sejak kelahiran itu menentukan kesehatan dan perilaku setiap orang di 80 tahun umurnya ke depan,” ungkapnya kepada Radar Bogor.

Itu alasan mengapa dokter anak selalu terus mengontrol perkem­bangan intensif orang tua terhadap anaknya. Tentunya, kata Banon, itu juga yang menjadi pekerjaan dokter saraf untuk memberikan edukasi kepada masyarakat awam beberapa waktu lalu di RS PMI Kota Bogor, dalam salah satu rangkaian kegiatan yang sama.

“Jadi, kami tegaskan kembali bahwa 1.000 hari setelah lahir, apa yang diberikan kepada anak akan memengaruhi kualitas dan kesehatan mereka 80 tahun ke depan. Kalau tidak bisa menjadi orang tua yang sangat aware mengenai itu, mending tidak perlu memiliki anak. Biaya ke depan akan lebih banyak kalau sejak dini tidak melakukan hal itu,” tegas Banon.

Banon menjelaskan bahwa workshop ini dikhusus­kan bagi para dokter saraf mengenai penanganan yang baik dalam empat kelompok studi yaitu Neuropediatri, Neurointensive (Emergency), Sleep Disorder dan Neurotraumatologi.

Misalnya terkait epilepsi, banyak gejala yang mirip dengan epilepsi, salah satunya kejang. Dokter pun tidak bisa menentukan apakah gejala tersebut merupakan epilepsi, sehingga harus mencari tahu dan ditangani dengan tepat.

“Nah, sharing ini diperuntukkan bagi para dokter saraf, juga dokter umum yang hadir saat ini agar tidak salah menangani,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Pokdi Neuropediatri Perdossi Departemen Neurologi FKUI RS Cipto Mangunkusumo, Yetty Ramli menambahkan, keempat bahasan pokok tersebut dikupas secara masing-masing di dalam ruangan berbeda.

Ia berharap, dengan rentetan rangkaian kegiatan Perdossi, antardokter saraf Indonesia bisa saling bekerja sama dalam penanganan suatu penyakit, terutama epilepsi pada anak. Pasalnya, banyak anak yang putus sekolah hanya karena penyakit tersebut. Serta memberikan pemahaman atau edukasi kepada awam mengenai suatu penyakit dan perkembangan otak pada anak-anak dan remaja.(ran/c)

Komentar Anda

Baca Juga