Beranda Olahraga Arena

Marquez Masih Raja COTA

PERPANJANG CATATAN: Marc Marquez melakuk wheely usai memenangi GP Amerika.

TEXAS–RADAR BOGOR,Circuit of The Americas di Austin, Texas, tempat digelarnya MotoGP Ame­rika, masih men­jadi milik Marc Mar­quez.

Sejak ba­lapan dihe­lat di sana pada 2013, Marquez sela­lu juara, termasuk dalam race Senin (23/4) dini hari WIB. Start mulus Si Bayi Alien, julukan Marquez, menjadi kunci kemenangan pertama dia musim ini.

Meski start dari posisi keempat (gara-gara penalti saat kualifikasi), Mar­quez langsung menyalip Maverick Vinales yang start paling depan, sebe­lum masuk tikungan pertama.

Tak ada drama berlebihan di tikungan pertama tersebut. Marquez hanya sedikit lebih lambat masuk daripada rider Suzuki, Andrea Iannone.

Namun, belum kelar satu lap balapan, Marquez sudah menyalip Iannone.

Duel Marquez dan Iannone sempat menjanjikan di dua hingga tiga lap awal. Bahkan, Iannone sempat menyalip Marquez meski hanya sesaat, saat hendak masuk tikungan.

Namun di tikungan, Marquez kembali mengambil posisi pertama. Setelah itu, Marquez tak ada lawan, menjauh dan menjauh dari Iannone.

Marquez dengan cepat memastikan bahwa balapan akan dia menangi.

Sementara sekitar enam hingga delapan detik di belakang Marquez, Iannone kewalahan mengatasi Vinales.

Iannone harus pasrah di posisi ketiga, ditempel rekan satu tim Vinales, Valentino Rossi.

Di akhir balapan, Marquez akhirnya finis pertama, gelar keenam berturut-turut buat dia, disusul Vinales dan Iannone melengkapi podium.

”Saya memulai balapan dengan perasaan yang berbeda. Saya memulai­­nya dari posisi empat dan itu keputusan yang tidak mungkin bisa diubah.

Tapi saya langsung bisa memimpin lomba sejak lap pertama. Ketika ada celah besar, saya berhasil mendominasi jalannya balapan,” ucap Marquez yang dikutip dari Crash.

Dua pekan sebelum lomba, Marquez juga sempat dinyatakan bersalah karena menyebabkan kecelakaan pada Valentino Rossi.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak meruntuhkan mental juaranya. Marquez justru menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk membenahi penampilannya.

“Apa yang terjadi di Argentina mengubah strategi saya. Tentu saja awalnya saya merasakan tekanan besar. Tapi itu justru memberikan motivasi.

Saya hanya berpikir untuk terus memacu motor ini dengan kecepatan tinggi. Saya biasanya tak pernah seperti ini. Saya lebih menyukai untuk menunggu kesempatan dan menyerang disaat-saat akhir,” ujarnya.(adk/jpnn)

Baca Juga