Beranda Metropolis

Bukan Enak tapi Paling Instagramable

BERBAGI
Helmi Yahya, Direktur utama TVRI (Nelvi/Radar Bogor)

BOGOR–RADAR BOGOR,Seiring perkembangan zaman, semua yang digunakan manusia lambat laun berubah menjadi digital. Pada 2020 mendatang, akan ada ASO (analog switch off).

ASO adalah semua yang berbasis analog atau konvensional berubah menjadi digital. Demikian disampaikan Helmi Yahya, direktur utama TVRI, yang menjadi pembicara di STIE Kesatuan Bogor saat membahas Disruption: “Dunia Sudah Berubah”.

Dalam seminar dan talk show ini, salah satu lulusan terbaik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) itu mengatakan bahwa era digital saat ini semakin berkembang.

“Sekarang ini sudah banyak toko di mal yang tutup. Bahkan restoran yang paling laku sekarang ini bukan yang paling enak, tapi yang paling instagramable. Ini adalah sebuah fenomena dan harus diterima,” ucap Helmi.

Ia menjelaskan, terdapat beberapa disruption atau guncangan yang terjadi di beberapa bidang. Bidang tersebut adalah pendidikan, transportasi, musik, televisi dan film, serta pariwisata. Bidang-bidang itu sudah membawa perubahan dalam penggunaannya.

Seperti dalam pendidikan, sudah ada perguruan tinggi yang menggunakan sistem online. Hal itu karena adanya inovasi yang mengubah nilai. “Menggunakan sistem online itu mengubah perilaku model bisnis, yang akhirnya akan menyingkirkan pemain lama. Hati-hati perguruan tinggi yang sifatnya masih konvensional,” ungkap presenter ternama tersebut.

Dalam bidang-bidang yang lain, sangat terlihat bahwa perkembangannya yang sudah menuju ke digital ini sangat mengubah cara hidup manusia. Seperti musik, yang tadinya kaset beralih ke aplikasi berbayar.

Kemudian terdapat aplikasi untuk memesan ojek atau bahkan hotel secara online. Semua ini dikarenakan adanya teknologi komunikasi baru, yang ditunjang internet.

Lalu, muncullah generasi milenial yang ikut memanfaatkan segala kemajuan teknologi yang ada. Terdapat juga perubahan model bisnis sekarang ini. Dulu masyarakat hanya membeli, memiliki, dan ambil alih bisnis orang lain. Namun sekarang masyarakat menggunakan kapasitas orang yang tidak terpakai. “Jangan lupa bahwa dunia IT dan komunikasi sudah berubah, tetap pertahankan bisnis Anda,” jelas adik Tantowi Yahya ini.

Sebelumnya, kegiatan yang diselenggarakan STIE Kesatuan bersama KPP Pratama juga membahas kewajiban pajak badan usaha dan umum. Bahwa pungutan pajak harus sesuai dengan prinsip keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan.

“Bayar pajak itu harus apa adanya, yang sebenarnya, sifatnya juga transparan. Tanpa ada transparansi, jangan harap ada keadilan. Pajak merupakan instrumen untuk menciptakan keadilan,” ungkap Muh Tunjung Nugroho, kepala Sub Direktorat Perencanaan Pemeriksaan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak.

Tunjung menambahkan, pungutan pajak memiliki fungsi untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Kemudian menciptakan ketertiban transaksi keuangan dan transaksi ekonomi, sehingga dapat mencegah KKN dan malpraktik ekonomi dan keuangan lainnya.

“Wajib pajak harus melakukan pembukuan. Wajib menyimpan buku, catatan dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan. Pajak sangat penting, dan akan berdampak ke mana-mana,” kata Tunjung.(ran/pkl1/c)

Baca Juga