Beranda Berita Utama

Parinah, TKI yang ’’Hilang’’ Selama Belasan Tahun di Inggris Akhirnya Pulang

BERBAGI
SENANG: Nur Hamdan memberi salam sungkem kepada ibunya, Parinah, saat menyambut di depan rumah usai 18 tahun berpisah, Kamis (12/4).

Surat kedua yang membuka jalan bagi kepulangannya ke Indonesia dikirimkan Parinah saat si majikan tertidur. Gembira bisa pulang, tapi dia masih tetap menunggu gajinya yang selama ini belum dibayar.

YUDHA IMAN PRIMADI, Cilacap

PADA detik-detik setelah mobil itu berhenti, tak banyak lagi kata yang terucap. Hanya pelukan erat dan uraian air mata.

Semua yang berada di pelataran rumah di Desa Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah, itu pun larut dalam keharuan. Parinah, perempuan yang diantarkan mobil Daihatsu Xenia hitam tadi, memeluk anak, cucu, serta menantunya satu per satu. Erat sekali. Seolah tak mau sedetik pun melepaskan mereka dari pelukan.

’’Senang sekali rasanya bisa pulang,’’ kata Parinah sembari masih sesenggukan kepada wartawan setelah masuk ke dalam rumah milik Sunarti, salah seorang anaknya, itu.

Wajar kalau suasananya demikian mengharukan. Itu adalah kepulangan pertama Parinah ke kampung halaman setelah ’’menghilang’’ selama sekitar 14 tahun. Dari awalnya berangkat menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Arab Saudi pada Desember 1999 sampai kemudian dipulangkan dari London, Inggris.

Tak heran kalau perempuan 50 tahun tersebut melewatkan begitu banyak momen penting dalam kehidupan keluarganya. Tiga anaknya, Sunarti, Parsin, dan Nurchamdan, yang ketika dia tinggal masih lajang atau bahkan remaja kini masing-masing telah punya anak.

Untuk kali pertama pula Parinah bertemu dengan ketiga cucunya, Oktavia, Angga Syahputra, dan Prima Syahputra. ’’Waktu akan nikah (pada 2005) dulu saya mencoba kirim surat. Tapi, tak ada jawaban,’’ kata Sunarti yang tinggal di Dusun Nusaori kepada Radarmas (Jawa Pos Group).

Sunarti berkirim surat setelah menerima surat dari sang ibu pada 5 Maret 2005. Itulah surat pertama yang diterima keluarga setelah perempuan kelahiran Banyumas pada 28 Januari 1968 tersebut dibawa si majikan pindah ke Inggris. Kepindahan yang tanpa sepengetahuan keluarga.

Surat pertama dari Parinah itu sudah langsung berisi permintaan agar dibantu pulang ke Indonesia. Lantaran masih kecil dan tak tahu prosedur pemulangan ibunya, Sunarti tidak melakukan upaya apa-apa.

Dia dan kedua adiknya, Parsin (kini berusia 33) dan Nur Hamdan (saat ini 29 tahun), saat itu hanya kebingungan. ’’Cuma ada petunjuk kartu nama majikan. Ada juga nomor telepon yang bisa dihubungi,’’ ungkapnya.

Ke alamat yang tertulis di kartu nama itulah empat kali keluarga membalas surat tersebut, termasuk surat dari Sunarti untuk memberi tahu dia akan menikah dengan Marito, selalu kembali.

Sesuai alamat di kartu nama, Parinah tinggal bersama majikan di Hove, kota kecil di sebelah Brighton. Keterangan dari kantor pos di sana yang tertera di
surat-surat dari keluarga sama: nama Parinah yang dituju tidak ada.

Di desanya, Parinah dua kali menikah. Yang pertama dengan Nur Hadi. Setelah Nur meninggal, dia menikah lagi dengan Sikin yang kini tak diketahui keberadaannya.

Parinah berangkat ke Arab Saudi pada 16 Desember 1999 melalui PT Afrida Duta. Dan, mendapat majikan bernama Alaa M. Ali Abdallah yang berprofesi dokter spesialis kandungan.

Sunarti sudah menegaskan, dirinya dan adik-adiknya tak akan mengizinkan sang ibu bekerja di luar negeri lagi. ’’Pokoknya, ibu tidak boleh pergi lagi. Ngurus cucu saja di rumah,’’ ujar Sunarti yang diiyakan sang adik, Parsin.(*/c5/ttg)

Komentar Anda

Baca Juga