Beranda Metropolis

Kemacetan Dua Ruas Jalan di Kota Bogor Berkurang

BERBAGI
TERARAH: Kawasan SSA Kebun Raya Bogor menjadi salah satu ruas jalan yang lalu lintasnya mulai lancar. (Fikri/Radar Bogor)

BOGOR–RADAR BOGOR,Meski sempat dinobatkan sebagai kota dengan lalu lintas (lalin) terburuk ke-2 di dunia versi Waze, kini situasi lalin Kota Bogor berbeda. Pasalnya, berdasarkan hasil evaluasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, rata-rata laju kendaraan di Kota Hujan justru melampaui target. Dari rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) ditarget 30 kilometer per jam, kini mencapai 34 kilometer per jam.

Kabid Lalu Lintas pada Dishub Kota Bogor, Teofilo Patrocinio Freitas, mengatakan bahwa hasil evaluasi kinerja jaringan jalan di Kota Bogor mengalami peningkatan.

“Di situ bisa kelihatan ada peningkatan di ruas mana saja. Kemudian yang ditargetkan awalnya dari 30, sekarang tercapai 34 dari hasil evaluasi,” jelasnya kepada Radar Bogor saat ditemui di Balaikota, kemarin (12/4).

Ruas jalan yang menurutnya memberikan dampak besar pada peningkatan itu, yakni jalan di sekitaran sistem satu arah (SSA) Kebun Raya Bogor (KRB). Antrean kendaraan di ruas-ruas jalan itu mengalami pengurangan, lantaran kini sudah tidak berlaku dua arah.

“Jadi kecepatannya cukup meningkat,” terangnya.

Meski SSA sudah relatif lancar, masih ada ruas jalan yang arus lalu lintasnya tersendat. Seperti halnya di Jembatan Otista. Bentuknya yang mengerucut membuat kendaraan kadang harus menurunkan laju kendaraan.

“Selebihnya meningkat kecepatannya. Tapi di jam-jam sibuk semua titik sama, volumenya cukup tinggi sehingga kinerja jaringan pun berkurang. Artinya, dari segi kecepatan menjadi berkurang,” kata pria yang akrab disapa Teo ini.

Kemudian, Jalan Sholeh Iskandar (Sholis) termasuk arus lalu lintas yang terbilang membaik belakangan. Karena, proyek pengerjaan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi IIB sudah nyaris rampung, sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas lalu lintas jalan Sholis.

“Kalau sudah pada titik beres, kecepatannya akan sangat bagus,” ujarnya.

Hanya saja, ramp off dan ramp on yang baru sampai Ramayana, membuat kelancaran arus lalin tidak maksimal. Hal tersebut berimbas pada konflik arus tepat di persimpangan Yasmin.

“Sampai sekarang masih ada kepadatan, karena yang dari BCC masih ada pekerjaan utilitas seperti PDAM, listrik, gas, yang masih belum diaspal,” bebernya.

Sementara itu, ruas jalan lainnya masih terkendala kualitas jalan. Seperti pada Jalan Pajajaran, Pasirkuda, serta Gunung Batu. Beberapa ruas jalan itu terbilang lancar ketika kualitas jalannya tidak bolong-bolong.

“Seperti di Pasirkuda, kalau ada jalan yang rusak dekat TK, bisa berjam-jam untuk mengurainya,” tukasnya.(fik/c)

Komentar Anda

Baca Juga