Beranda Berita Utama

Kisah Anastasia Wella, Penderita Dissociative Identity Disorder, yang Hidup dengan 10 Kepribadian (2-Habis)

BERBAGI
FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS
PRIBADI GANDA: Anastasia Wella difoto sebagai Ayu, salah satu kepribadian dari 10 yang ia miliki.

Anastasia Wella menjadi si kecil Atin, si buyung badung Andreas, si perempuan sepuh Siana, atau alter lainnya saat stres, bingung, atau tengah menghadapi pekerjaan yang tidak bisa dia selesaikan. Terus berjuang, baik lewat seminar, film, maupun novel, untuk mendobrak stigma tentang mereka yang senasib dengannya.

HENDRA EKA, Jakarta

KEDATANGAN debt collector itu sangat mengagetkan Anastasia Wella. Tak pernah merasa belanja berlebihan, tiba-tiba saja dia diminta melunasi tagihan kartu kredit.

’’Saya ditunjukkan, kartu kredit saya overlimit sampai Rp11 juta buat beli high heels, topi, ini itu. Barang-barang yang nggak sesuai kebiasaan saya,’’ kenangnya tentang kejadian pada 2016 itu.

Diretaskah kartu kredit Wella? Ternyata tidak. Itu ulah Revelline, si remaja milenial yang hobi selfie. Satu di antara 10 alter atau kepribadian Wella.

Tentu saja yang harus bertanggung jawab tetaplah Wella. Sebab, namanyalah yang tercatat sebagai pemegang kartu kredit tersebut.

Dibantu seorang pengacara, hingga kini kasus tersebut belum tuntas.

Hidup sebagai penderita dissociative identity disorder (DID), dengan 10 kepribadian, adalah hidup yang penuh ’’kejutan’’. Di kamar kos Wella sekarang, misalnya, ada empat boneka jumbo yang dibelikan sang kekasih, Yoandy Arief Pratama.

Padahal, perempuan 28 itu tak pernah meminta. Yang merengek, meminta Yoandy untuk membelikan, adalah si gadis kecil Atin. Siapa dia? Salah satu alter Wella juga.

’’Pernah suatu ketika jam 12 malam Atin mengirim pesan WhatsApp ke Yoandy. Minta untuk dibelikan boneka dan diantarkan ke tempat kos,’’ tutur Wella.

Selain Wella sebagai host personality, lalu Revelline dan Atin, pada jiwa lajang 28 tahun itu bersemayam Ayu, Naura, Saraswati, Bilqis, Andreas, Paula, dan Siana.

Menurut dr Agung Frijanto SpKJ, ketua komite medik Rumah Sakit Jiwa dr Soeharto Heerdjan (RSJSH) Jakarta, DID kebanyakan disebabkan faktor biologis dan psikososial. ’’Biasanya penderita mengalami trauma masa kecil, kekerasan dalam rumah tangga, sehingga terbentuklah defense mechanism,’’ ujarnya.

Ragam pengalaman itulah, terutama yang dialami pada masa kecil, yang kemudian mengakibatkan munculnya ragam alter di tubuh penderita DID. ’’Paling tidak, pasien itu pernah mengalami. Jadilah itu bentuk kepribadian dia,’’ jelasnya.

Pernah suatu ketika Wella mengejutkan rekan-rekannya semasa SMA. Betapa tidak, Wella yang Katolik tiba-tiba saja muncul di sekolah dengan me­makai jilbab.

Sebagai Bilqis, gadis 16 tahun yang lancar mem­baca Alquran dan rajin salat.

Bahkan tidak hanya membaca. Saat Bilqis menguasai kesadaran tubuh Wella, dia juga cakap menulis dalam huruf Arab. Padahal, dalam kehidupan aslinya, Wella sama sekali tidak bisa membaca, apalagi menulis, huruf Arab.

”Saya tahu semua itu saat mengecek galeri di handphone. Bilqis diam-diam merekam segala aktivitas membaca Alquran,’’ ungkap Wella.

Split personality dialami Wella sejak kelas IV sekolah dasar (SD). Pada masa SD itu, gadis kelahiran Surabaya tersebut mengaku memang mengalami perundungan ekstrem dari lingkungan sekitar.

Penggemar Persebaya Surabaya itu mengaku mengalami split saat stres, ada masalah, atau tertekan. Juga ketika bingung, emosional, tengah menghadapi pekerjaan yang tidak bisa dia selesaikan. Soal menjadi siapa, bergantung kebutuhan.

Ketika suatu saat kewalahan menghadapi tugas akuntansi di kantor, Wella pun ’’bersalin rupa’’ menjadi Paula. Alter-nya yang ini jago matematika dan akuntansi.

Jadilah tugas kantor tadi dengan gampang diselesai­kannya. ’’Padahal, saya sama sekali tidak bisa mengerjakannya,’’ tegasnya.

Tak ada pola khusus dalam perpindahan alter itu. Bergantung kondisi lingkungan. ’’Kalau dalam kondisi santai dan tenang, saya nggak akan mengalami split,’’ katanya.

Wella juga bisa berubah menjadi sosok buyung (bocah laki-laki). Andreas namanya. Perilakunya juga sangat merepotkan sang host personality.

Suatu saat Andreas yang berumur 15 tahun pernah mem­­bunuh seekor kucing milik tetang­­­ganya. Itu dibuktikan dengan ajakan kawan Wella untuk segera mengubur bangkai kucing sebelum diketahui pemiliknya.

Bukan itu saja. Saat duduk di bangku SMP, Wella kaget setengah mati hingga menangis karena tahu rambut panjangnya sudah terpotong cepak khas laki-laki. Dia pun menanyakan hal itu kepada ibunya. ’’Wong kamu sendiri yang minta. Itu potong rambut di tukang cukur Madura,’’ ujar Wella menirukan kata-kata ibunya.

Yang tak kalah merepotkan adalah tingkah polah Ayu, alter yang sekarang dikenal di lingkungan tempat kos Wella karena pada saat itu Ayu yang memilih kamar. Ayu dikenal pendiam, namun memiliki suicidal thought atau nafsu ingin bunuh diri yang tinggi.

Ayu juga pintar membuat cerpen dan menuliskannya di dalam buku diari Wella. Namun, ada satu hal yang membuat Wella kaget: sosok Ayu adalah seorang lesbian.

Itu diketahui Wella saat Sarah, care giver-nya, memberi tahu bahwa Ayu suka memanggil Sarah dengan kata ’’sayang’’. Ini sesuatu yang tidak biasa dilakukan Wella.

’’Care giver-ku cerita, dia tanya kenapa panggil sayang? Terus dijawab Ayu, oh nggak apa-apa, aku kira kamu lesbi, karena aku lesbian,’’ ungkap Wella.
’’Padahal, Sarah ini sudah punya suami dan anak satu,’’ tambah Wella, lantas tertawa.

Setelah menjalani terapi dan pengobatan selama lebih dari tiga tahun, kini Wella memang lebih bisa mengendalikan kemunculan alter-alter-nya. Pasien dr Ni Wayan Ani Purnamawati SpKJ itu juga semakin tenang, fokus, dan bisa menahan emosi. Serta lebih bisa membuka diri dan dewasa dalam menghadapi masalah.

Skema pengobatan terbaik, kata Agung, memang mengombinasikan obat dengan psikoterapi. ’’Keduanya harus saling melengkapi,’’ jelasnya.

Seperti juga para alter-nya, ada yang merepotkan, tapi ada pula yang menyenangkan. Saraswati salah satunya. Seorang perempuan asal Bali yang pandai menari. Wella dalam kepribadian sebagai Saraswati beberapa kali tampil pada pertunjukan kesenian di Gedung Cak Durasim, Surabaya.

’’Saraswati ini jago nari, feminin, suka dandan juga,’’ ujar gadis yang gemar membaca buku politik tersebut.

Siana, alter ke-10, juga sosok baik hati. Tapi, perempuan paro baya asal Belanda itu hanya pernah muncul dua kali. Sehingga Wella kurang bisa mendeskripsikan bagaimana Siana ini sebenarnya.

’’Sebenarnya aku pengin Siana ini sering-sering muncul. Soalnya orangnya baik hati banget. Aku jadi senang,’’ kata anak kedua di antara empat bersaudara itu.
Siana ditemukan dokter Ni Wayan Ani Purnamawati setelah Wella secara rutin menjalani terapi mencatat untuk penyembuhannya. ’’Justru dokter Wayan yang ngasih tahu aku kalau ada alter lain dari sembilan alter yang aku tahu,’’ ungkap Wella.

DID, kata Agung, adalah kasus yang sangat langka. Di Indonesia, sepengetahuan dia, belum pernah ada riset mendalam mengenai gangguan kejiwaan yang dulu dikenal dengan nama multiple personality disorder itu.

Di seluruh dunia, konon hanya 0,0001 dari penduduk dunia yang terdeteksi menderita DID. Atau sekitar 720 ribu orang.

Kelangkaan itu, ditambah ketertutupan sang penderita, kemudian memunculkan berbagai stigma negatif terhadap penderita DID. Padahal, DID bisa diobati jika mendapat perawatan dari orang yang tepat.

’’Pokoknya, jangan sampai ada orang gangguan jiwa yang diasingkan atau bahkan sampai dipasung. Kalau diobati secara tepat, pasti bisa sembuh kok,’’ tegas fans Whitney Houston tersebut.

Itu pula yang kini tengah diperjuangkan Wella. Dia aktif menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Membagikan pengalamannya kepada penderita DID dan bipolar.
Menyemangati mereka yang senasib dengannya agar berani berbicara tentang apa yang mereka alami.

Kebetulan, apa yang dialami Wella itu juga menarik perhatian Shanaya Film. Production house pembuat film basket Mata Dewa tersebut berencana memfilmkan kisahnya hidup dengan 10 kepribadian.

Film tersebut direncanakan tayang akhir tahun nanti. Pada saat bersamaan, akan diluncurkan pula sebuah novel yang juga mengangkat cerita tentang Wella.

’’Saya berharap film itu bisa memberikan edukasi, inspirasi, dan hiburan buat masyarakat yang menonton. Sehingga bisa mendobrak stigma negatif masyarakat tentang gangguan jiwa,’’ harap Wella.(*/c5/ttg)

Baca Juga