Beranda Berita Utama

Model Baru Perhitungan Skor Ujian SBMPTN

BERBAGI
Ilustrasi peserta sbmptn (net)

BOGOR–RADAR BOGOR, Siswa SMA/MA yang mulai ujian hari ini (8/4) di antaranya ada yang berniat masuk PTN. Salah satunya melalui saringan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN). Untuk informasi, panitia mene­tap­kan skema perhitungan atau penilaian baru ujian tulis SBMPTN.

Perhitungan nilai SBMPTN tidak lagi seperti selama ini. Yakni, skor dihitung dengan sistem benar dapat skor plus empat (+4), salah minus satu (-1), dan tidak jawab nol (0).

Sekretaris panitia SBMPTN 2018 Joni Hermana mengatakan, perubahan sistem atau skema perhitungan skor ujian tulis SBMPTN merupakan hasil pertemuan beberapa rektor PTN beberapa hari lalu. Pertemuan itu khusus membahas soal evaluasi pelaksanaan ujian tulis SBMPTN selama ini.

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa selama ini banyak siswa yang diterima atau lolos SBMPTN karena nilai totalnya tinggi. Namun ternyata, nilai tinggi bukan dari materi ujian yang sesuai dengan program studi (prodi) pilihannya.

”Misalnya masuk prodi fisika, ternyata nilai IPA-nya itu kecil. Tetapi tertolong (dari nilai, red) dari materi ujian yang bukan dari prodi itu,’’ jelasnya kemarin (8/4).

Pria yang juga Rektor ITS Surabaya itu mengatakan, anak tersebut mendapatkan nilai tinggi ternyata karena nilai bahasa Inggris atau bahasa Indonesia bagus. Sehingga jika diakumulasikan nilai akhir SBMPTN-nya tinggi. Tetapi siswa tadi tidak menguasi bidang IPA. Padahal prodi yang dia pilih adalah fisika.

Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut, para rektor di majelis rektor perguruan tinggi negeri Indonesia (MRPTNI) memutuskan harus ada skema atau sistem perhitungan nilai SBMPTN yang lebih baik. Yakni, sistem perhitungan atau penilaian yang bisa mencerminkan kemampuan pelamar SBMPTN.

Ketika ada siswa yang melamar prodi fisika, nilai ujian tulis untuk fisika atau IPA harus baik. Tidak boleh lolos karena nilainya dikatrol materi ujian lainnya.

Secara teknis, nanti panitia akan memberi indeks atau bobot nilai untuk masing-masing butir soal ujian. Untuk seluruh soal, akan terbagi soal kategori mudah, sedang, dan sukar. Untuk masing-masing kategori itu memiliki nilai indeks atau bobot berbeda-beda.

Hanya saja, sampai saat ini panitia belum memutuskan persentase soal yang mudah, sedang, hingga sukar. ’’Jadi nanti pokoknya diisi saja semuanya,’’ kata dia.

Dalam waktu dekat, panitia SBMPTN akan mengumumkan secara resmi sistem baru penilaian atau scoring ujian. Harapannya calon peserta ujian nanti tidak bingung. Dia mengatakan, tahun lalu jumlah pelamar SBMPTN berkisar 800 ribu orang. Tahun ini dia memperkirakan jumlahnya masih relatif sama.

Dengan skema atau sistem baru penilaian ujian SBMPTN itu, siswa tidak bisa lagi bergantung dengan soal-soal yang dianggap mudah. Selama ini, salah satu trik mengerjakan ujian SBMPTN adalah mengerjakan soal yang dianggap mudah dan yakin benar terlebih dahulu. Entah soal itu nyambung dengan prodi yang akan dipilih atau tidak. Pertimbangannya adalah untuk setiap soal yang benar, bobotnya adalah empat poin (+4).

Saat ini rangkaian proses SBM PTN masih tahap pendaftaran untuk peserta ujian tulis berbasis cetak (UTBC). Tahap ini dibuka sejak 5 April hingga 27 April nanti. Sementara pendaftaran SBMPTN untuk ujian tulis berbasis komputer (UTBK) akan dilaksanapan pada 18 April sampai 27 april. Sementara pelaksanaan ujian untuk UTBC maupun UTBK digelar serentak pada 8 Mei nanti.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mendukung penerapan sistem baru penilaian atau scoring ujian SBMPTN itu. Sebab, bagi dia, harus ada korelasi atau keterkaitan antara minat dan bakat siswa dengan prodi yang dipilih. Jangan sampai ada siswa yang lulus prodi tertentu, padahal dia tidak minat dan bakat di prodi tersebut.

Indra menjelaskan, melalui konsistensi antara minat dan bakat dengan prodi yang dipilih itu juga untuk kemudahan siswa dalam menjalankan studi. Dia tidak ingin ada mahasiswa yang justru tertekan, misalnya mengikuti perkuliahan yang ternyata terlalu berat atau tidak sesuai bakat dan minatnya.

Selain itu, Indra juga menyoroti gagasan Menristekdikti Moha­mad Nasir untuk membawa semangat era industri 4.0 di kampus. ’’Saya melihat Kemen­­ristekdikti masih bingung. Mau diapakan 4.0 itu di kampus,’’ jelasnya.

Dia menegaskan yang terpenting adalah menyiapkan mahasiswa supaya siap menyongsong perkembangan zaman di era revolusi industri 4.0. Bukan sebatas menjalankan kuliah online sebanyak-banyak­nya atau seluas-luasnya.

Indra menjelaskan penyiapan mahasiswa menghadapi era industri 4.0 adalah pada kurikulumnya. Di antara kriteria mahasiswa yang siap menghadapi era industri 4.0 adalah kreatif dan tidak suka didikte. Sayangnya, selama ini iklim perkuliahan di kampus belum sepenuhnya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk itu.(wan)

Baca Juga