Beranda Berita Utama

Bisa Digunakan Kepentingan Politik

Banyaknya data pengguna Facebook yang bocor, menjadi per­hatian serius pemerintah. Bahkan, Menteri Komunikasi dan Infor­matika Rudiantara mengimbau, masyarakat un­tuk sementara tidak meng­gunakan media sosial (medsos).

Apalagi, menyerahkan data-data pribadi pada aplikasi-aplikasi pihak ketiga. ”Biasanya kita kan kalo pake medsos, dimintai macam-macam di-yes-yes saja, di-accept begitu saja,” ujarnya.

Rudi meminta, “puasa” medsos dilakukan untuk sementara waktu sampai semua tertata dengan baik. “Bukan apa-apa, kita cuma menjaga agar keamanan data kita semua terjamin,” kata Rudi.

Peneliti Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CissRec) Ibnu Dwi Cahyo mengungkapkan, pencurian data di Facebook itu memang berpotensi pula dipergunakan untuk kepentingan politik sama seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Data yang dicuri melalui pihak ketiga itu bisa dipergunakan untuk memotret perilaku pengguna Facebook.

”Dan paling penting itu data behaviour kita. Itu jadi riset yang mahal harganya. Seperti kita posting apa, ke mana saja. Itu diteliti untuk menganalisis kebiasaan,” ujar Ibnu kepada Jawa Pos (Grup Radar Bogor) kemarin (5/4).

Meskipun memang sejuta data yang dicuri itu terjadi sekitar 2013 dan 2014. Ada kemungkinan masih berlanjut hingga sekarang. Lantaran data itu diambil dengan cara pengguna Facebook memainkan kuis dari penyedia pihak ketiga. Kuis tersebut biasanya dipakai untuk bahan candaan, misalnya, seperti menilai wajah mirip artis siapa atau usia sekian akan seperti tokoh siapa.

”Sebelum main game itu akan ada pemberitahuan apakah aplikasi boleh mengakses data di Facebook atau tidak. Termasuk data kontak pribadi kita,” jelas dia. Nah, data yang bisa diakses itu juga termasuk data unggahan. Sebagai langkah pencegahan pengguna media sosial bisa membuat pengaturan akses informasi data pada aplikasi.

Tapi, menurut Ibnu, untuk kepentingan keamanan data jangka panjang pemerintah perlu lebih tegas kepada Facebook. Misalnya mengharus­kan mereka membuat server data di Indonesia. Hal yang sama penah dilakukan pada aplikasi lainnya semisal Blackberry. ”Dengan membangun server di Indonesia. Artinya Kominfo bisa kontrol terhadap pengguna tanah air,” tegas dia.

Pakar digital forensik, Ruby Alamsyah menuturkan perlu dipastikan dulu kebocoran data sejuta akun milik warga Indo­nesia itu sudah diper­gunakan untuk apa saja. Lantas ditelisik kemung­kinan kebo­coran data itu dipergunakan untuk kepentingan ilegal atau tidak. Selama ini, belum ada kasus yang spesifik mengarah pada penyalahgunaan data yang tercuri lewat Cambridge Analytica.

”Perlu dipastikan hal itu agar tidak terjadi kekhawatiran berlebihan di masyarakat. Kita perlu melihat secara proposional,” kata dia.

Dia berharap peristiwa tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat pengguna media sosial. Perlu hati-hati mengunggah data-data pribadi termasuk nomor telepon.

”Sehingga bisa membatasi apa yang Facebook dan pihak ketiga lihat dari account-account kita. By device kalau di Facebook kita terbuka full kecuali si user-nya itu melakukan setting ulang di fitur keamanannya,” tegas dia.

Ketua Kadin Kota Bogor, Erik Suganda mengaku jarang menggunakan Facebook karena rawan di-hack dan sekarang banyak hoax dan ujaran kebencian. “Jadi pasif saja.

Nah, dengan adanya kasus ini sangat disayangkan, karena sumber data mengenai bisnis kita bisa ke mana-mana. Jadi, kalau data penting jangan di-share,” katanya.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bogor, Muzakkir mengatakan, tetap menggunakan Facebook. “Pasti jadi pelajaran buat FB untuk jadi lebih baik lagi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi, Pariwisata dan Humas IWAPI Irnawati Kusuma mengaku tak khawatir, karena masih banyak yang eksis mencari teman termasuk banyaknya upload foto dan chat. “Sepertinya masih banyak pakai, apalagi seperti saya pengusaha, ada info-info jualan,” katanya.(jp/mer)

Baca Juga