Beranda Metropolis

Banana Pirates, Bangun Madrasah di Kamboja, Tunggu Kepedulian Donatur

BERBAGI
Banana Pirates for Radar Bogor
BERSAUDARA: Sebagian anggota Banana Pirates foto bersama komunitas muslim di Kamboja.

Banana Pirates selalu menyelipkan kegiatan sosial di dalam perjalanan menyusuri sejumlah sudut kota di berbagai negara. Kini, mereka fokus dalam satu tujuan yaitu membangun sebuah madrasah atau sekolah Islam di Kamboja.

Laporan: Rany Puspitasari

Segudang pengalaman menarik diceritakan para anggota Banana Pirates ketika berkunjung ke sebuah negara. Termasuk ketika mereka mendatangi Kamboja.

Ketua Banana Pirates, Kays Abdul Fattan mengungkapkan bahwa Kamboja merupakan rumah bagi sebagian minoritas muslim yang berjumlah kurang dari 5 persen, dari keseluruhan total populasi masyarakat Kamboja.

Di Desa Sanprobey, distrik Memot Provinsi Kampong Cham (Tboung Khmum) terdapat Komunitas Muslim Kampong Cham, yang tinggal menetap di sana. Mereka memiliki mata pencaharian sebagai petani, buruh, dan peternak. Namun, kondisi ekonomi Komunitas Muslim Kampong Cham ini tidak begitu baik.

Selain itu, faktor pendidikan -terutama pendidikan agama- juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi masyarakat minoritas muslim Kampong Cham. “Fasilitas pendidikan agama yang sangat terbatas menyebabkan masyarakat, terutama anak-anak tidak dapat belajar secara baik untuk mengenal juga memperdalam keindahan agama yang dianutnya,” bebernya kepada Radar Bogor.

Selama ini, katanya, anak-anak di Desa Sanprobey belajar di tempat seadanya yang disediakan warga. Kelas yang digunakan hanya sebuah petak di samping kolong rumah, yang sangat sederhana. Papan tulis yang digunakan pun hanya terbuat dari potongan kayu yang dicat.

Makanya, mereka berencana membangun madrasah di samping Masjid Kampong Cham. Namun karena keterbatasan biaya, sampai saat ini masih belum terealisasikan. Pembangunan tahap pertama memang sudah dilaksanakan. “Adapun penggalangan dana dari warga setempat dan bantuan dari warga Indonesia yang memberikan bantuan. Hanya saja tidak kunjung mengalami peningkatan atau progres karena warga dan kami terhalang biaya,” tambah Kays.

Umumnya, di kawasan Indochina memang terdapat madrasah di samping setiap masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan agama bagi warga muslim. “Fenomena ini selalu kami saksikan di Singapura, Vietnam, dan Thailand. Hal ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan ilmu agama di sekolah negeri milik pemerintah,” ungkapnya.

Tim Banana Pirates IPB berkolaborasi dengan perwa­kilan masyarakat Indonesia di Kamboja melalui Sharing Happiness, berupa pengga­langan dana untuk membangun madrasah pertama di Desa Sanprobey, Distrik Memot Provinsi Kampong Cham (Tboung Khmum). Pembangunan tahap awal sudah dimulai pada November 2017, dan akan selesai hingga dana pemba­ngunan dapat terkumpul.

Dana yang sudah terkumpul saat ini baru 1/5 bagian dari total Rp200 juta yang dibutuhkan. “Me­ngingat pentingnya pendidikan agama dan tersedianya sarana belajar yang lebih baik, kami harap banyak donatur di Indonesia, terutama yang ingin membantu kami bangun madrasah di Kampong Cham, Kamboja,” tegas Kays.(*)

Komentar Anda

Baca Juga