Beranda Berita Utama

Antena Terbesar Pantau Panen

BANGGA: Rektor IPB, Arif Satria (kanan) saat melihat replika satelit A3 Lapan-IPB Satelite (LISAT) bersama Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin.
BOGOR–RADAR BOGOR,Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) meres­­mikan antena full motion (S-X Band Mission Control Center)  di Pusat Teknologi Satelit Lapan, Kecamatan Rancabungur, kemarin (3/4).
Antena ini disebut-sebut milik Lapan yang terbesar di Indonesia. Kepala Lapan Thomas Djamalud­din menjelaskan, antena terin­tegrasi dengan pusat pengendali misi satelit di LAPAN ini memiliki kemampuan mene­rima dua frekuensi, yaitu S dan X band, serta dapat melakukan transmisi pada frekuensi S-band.
“Antena full motion berdiameter 11,28 meter ini merupakan yang terbesar di Indonesia,” jelasnya saat konferensi pers.
Fungsi antena tersebut, lanjut dia, antara lain untuk mengun­duh data muatan satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB berupa data gambar. “Selain itu, antena ini juga dapat menerima data automatic identification system (AIS) yang berasal dari kapal-kapal laut di seluruh dunia,” terangnya.
Antena ini juga kompatibel untuk mengunduh data dari satelit milik luar negeri, bukan hanya dapat menerima data satelit Lapan.
Satelit yang dapat diterima yaitu Landsat-7 dan 8; Worldview-1, 2, dan 3; GEOEYE-1; Radarsat-2; MODIS (Aqua, Terra, Aura), SPOT-6 dan 7; IRS-P5, P6, dan P7; Sentinel-1A dan 2A; COSMO-Skymed-1, 2, 3, dan 4; TerraSar-X; Tandem-X; Kompsat-2, 3, dan 5; Pleiades-1A dan 1B, EROS atau satelit yang bekerja pada frekuensi tersebut.
Rektor IPB, Arif Satria yang hadir dalam peresmian itu, mengapresiasi atas diresmi­kannya antena Lapan. Ia ber­harap, ke depan benda tersebut bisa digunakan untuk mem­peroleh data-tata citra satelit. “Ini adalah upaya yang sangat bagus dalam meningkatkan akses kita mendapatkan data-data citra satelit,” ujarnya.
Tak hanya itu, melalui antena terbesar di Indonesia ini pemerintah bisa memantau sejauh mana luasan panen, luasan tanam padi, serta bisa mengukur umur tanah.
“Oleh karena itu, ini perlu dimanfaatkan dengan baik. IPB mestinya bisa diajak dengan kementerian untuk bisa sama-sama menya­jikan data-data yang lebih akurat terkait dengan produksi beras,” kata Arif. (fik/d)

Baca Juga