Beranda Berita Utama

Kunci Jawaban Menyebar di Grup WA

BERBAGI
SERIUS: Para siswa SMK Wijaya Plus sedang mengikuti UNBK, kemarin.

BOGOR-RADAR BOGOR,Sebanyak 1.485.302 siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) mengikuti ujian nasional (UN) yang berlangsung mulai 2–5 April 2018. Dari jumlah tersebut, hanya dua persen atau 26.240 siswa peserta yang menggunakan metode berbasis kertas dan pensil (UNKP).

Namun, di hari pertama kemarin, isu kebocoran jawaban mewarnai ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Bahkan, kunci jawaban pelajaran Bahasa Indonesia diduga tersebar ke peserta didik di wilayah Surabaya Selatan.

“Teman-teman tadi bilangnya cocok. Ada clue soal atau jawaban untuk menentukan paket soal yang diterima siswa,” tutur salah satu siswa SMK di wilayah Surabaya
Selatan.

Ia mengungkapkan kunci tersebut diterima melalui jejaring sosial WhatsApp Group (Grup WA).

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim, Saiful Rachman membantah informasi tersebut. Sebab, kata dia, setiap komputer jawabannya tidak ada yang sama.

“Kalau UNBK sudah dijamin akurasinya. Bisa jadi hal itu hanya spekulasi saja. Sebab, pengawasan UNBK sudah ketat,” terang Saiful dikutip dari tribunnews.com.

Saiful mengaku, sistem UNBK berasal dari server pusat di Kemendikbud. Begitu juga dengan kontrol server yang selalu terpantau oleh panitia dari pusat. Saiful
menegaskan, proses ujian di sekolah dipantau CCTV.

Sementara itu, ujian di Bogor berlangsung lancar. Kepala SMK Wijaya Plus, Yani Maryani me­ngaku, sempat khawatir mengalami masalah di hari pertama. ”Dari total
142 siswa semua ikut ujian. Hanya memang di awal-awal sempat khawatir masalah server dan cuaca,” ucap­nya kepada Radar Bogor.

Di Kota Bogor, sebanyak 12.892 peserta dari 102 SMK tertib melaksanakan UNBK.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 2 Jawa Barat, Dadang Ruhiya menambahkan, sebanyak 93 SMK ikuti UNBK secara mandiri. Sedangkan, 9 SMK lainnya masih
menumpang di sekolah lain. “Sekolah yang menumpang, mungkin jumlah komputernya belum mencukupi atau ada alasan lainnya. Tapi, hal itu tidak menjadi kendala,”
bebernya.

Hingga di hari pertama kemarin, Dadang mengaku tidak menerima laporan pengaduan yang berkaitan dengan UNBK. Dadang berharap, sampai Kamis (5/4) pelaksanaan
UNBK berjalan dengan lancar.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Bogor, Yusup Saepuloh pun mengaku belum mengalami kendala. Menurutnya, ujian sesi pertama dan kedua diperuntukkan
siswa SMKN 1 Bogor. Sedangkan, sesi ketiga untuk sekolah yang belum mandiri melakukan UNBK.

“Sesi ketiga itu diikuti oleh SMK Pandutama Bogor, dan alhamdulillah semua berjalan lancar, bahkan semua siswa pun hadir,” terangnya.

Terpisah, Mendikbud Muhadjir Effendy menjamin ketersediaan listrik dan jaringan internet tidak akan terganggu selama UNBK berlangsung. Tahun ini, jumlah
peserta UNBK meningkat 6.293.552 peserta dibanding sebelumnya 3.782.453.

”Untuk UNBK kan belum seluruh provinsi siap 100 persen. Baru ada 19 provinsi yang betul-betul 100 persen UNBK. Sisanya masih ada yang 80,90 persen. Yang paling rendah adalah 60 persen,” kata Muhadjir pada saat sidak di SMK 29 Jakarta kemarin (2/4).

Daerah terpencil akan menjadi prioritas Kemendikbud. Caranya dengan memberikan bantuan-bantuan yang dibutuhkan agar bisa segera memenuhi ketentuan standar UNBK. ”Justru kita mulai pada daerah pinggiran. Jawa kita anggap sudah selesai. Kita akan fokus ke pinggiran yang selama ini belum siap UNBK. Kita juga
memberikan perhatian khusus pada daerah UNKP karena tingkat kelayakannya masih harus ditingkatkan,” ungkapnya.

Menurut Muhadjir, sebenarnya sekolah perbatasan sudah banyak yang mampu menyelenggarakan UNBK. Namun, ada peraturan daerah yang mengharuskan ujian dilaksanakan dengan tertulis. Dia mencontohkan di salah satu kabupaten di Maluku. ”SMK-nya sebenarnya sudah siap melakukan UNBK. Namun ada kebijakan dari pemda bahwa semua masih harus UNKP sampai tahun ini,” ungkapnya.

Sejauh ini, Muhadjir mengaku belum ada kendala di daerah. ”Kerja sama dengan PLN dan Telkomsel sudah dimulai sejak kemarin (Minggu, red),” tuturnya. Untuk SMK yang masih UNKP, Muhadjir juga tidak khawatir akan soal yang belum terdistribusi atau bocor.

”Saya minta dijamin Kabalitbang, bahwa satu bulan sebelum UN ini diselenggarakan, soal yang berbasis kertas harus sudah ada di lokasi dan dalam pengawasan,” ungkapnya.

Faqih Sayidinah, siswa SMK 29 Jakarta, mengaku siap menghadapi UNBK. Namun, dia berharap jaringan internet yang lemot tidak terjadi.

”Waktu try out sempat ngelag. Semoga kali ini tidak,” paparnya. Materi matematika masih menjadi momok bagi dia. Faqih merasa belum percaya diri dengan penguasaan materi. ”Tapi saya selalu mengulang pelajaran. Ikut les juga,” ungkap siswa yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta, itu.

Asep Supriatna, kepala SMK 29 Jakarta, justru percaya diri siswanya akan lulus 100 persen. Apalagi try out sudah kerap dilakukan. ”Untuk masalah listrik dan jaringan, kami sudah persiapkan. Kami ada genset,” timpalnya.(dka/cr1/jp/d)

Komentar Anda

Baca Juga