Beranda Berita Utama

Kisah Haru Bagas Pramudya, Pelajar Bogor yang Meninggal Jelang UNBK

BERBAGI
DIEVAKUASI: Bagas Pramudya saat dievakuasi Tim SAR gabungan di Pantai Karanghawu, kemarin (foto kiri). 

Bendera kuning bertuliskan nama Bagas Pramudya terlihat tak jauh dari kediamannya, di Perum Permata Bintang, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin (1/4). Siswa SMP Negeri 2 Sukaraja itu meninggal dunia usai terseret derasnya ombak di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (31/3).

Padahal akhir April ini, Bagas akan mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Laporan: Wilda Wijayanti

Teman Bagas, Andrian Faris Alfarizki (15) menceritakan, rekreasi yang dia lakukan dengan Bagas dan ketujuh teman lainnya merupakan pertama kali. Mereka berangkat pada Sabtu (31/3) pagi dan tiba di Palabuhanratu pukul 16.00.

“Naik bus ke sana. Berangkatnya pagi-pagi, ngecer. Nyampe sana langsung main-main. Baru pertama kali, rencana iseng liburan akhir pekan,” kata Andrian kepada Radar Bogor kemarin (1/4).

Saat kejadian, Andrian mengaku tidak tahu lantaran sedang foto-foto. “Katanya lagi berenang sama Rezki, Sahrizal, terus ada ombak besar. Kalau Rezki selamat,
Sahrizal bisa berenang sendiri. Nah, Bagas memang enggak bisa berenang,” jelasnya.

Badut -begitu Bagas biasa disapa- kata Andrian merupakan sosok yang baik dan suka bercanda. Belakangan, menurutnya, anak pertama dari dua bersaudara pasangan
Yudi Parwono dan Murtiningsih itu memperlihatkan gelagat aneh. Seperti membuat status WhatsApp “Tolong Kembalikan Saya ke Pencipta”.

“Saya reply (balas) kan, parah banget, kalau ngomong jangan asal. Bagasnya cuma bales ketawa aja,” paparnya.

Dia pun mengaku tak menyangka kalau Bagas yang  merupakan teman baiknya itu tewas terbawa arus. “Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT,” pungkasnya.

Teman Bagas lainnya, Danu Alamsyah (15) mengisahkan, malam sebelum berangkat ke Palabuhanratu, Bagas mengajak ke rumahnya. Namun dia tolak dan Bagas pun
mengatakan kalimat yang aneh.

“Lagi di motor, dia nganterin saya pulang. Diajakin ke rumahnya, tapi kata saya entar aja, masih ada besok. Terus kata Bagas, udah enggak ada waktu lagi,
bentar lagi juga gua mati, gitu katanya,” jelas Danu.

Mendengar jawaban Bagas, Danu pun hanya terdiam. Dia juga tak menyangka itu kali terakhir dia dan Bagas bertemu. “Padahal dua minggu lagi UNBK. Bagas anaknya
baik, aktif juga di kelas,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Fathur Rahman (15) yang tak lain teman sekelas Bagas. Menurut Fathur, Bagas terlihat aneh seakan menjadi pertanda kepergiannya.

“Udah semingguan ngomongnya ngaco. Dia bilang, pas lulus saya orang pertama yang bakal dilupain. Terus saya jawab juga begitu, eh Bagasnya malah jawab, kalau
gua mati juga lu bakal mewek, nangis-nangisan,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, liburan ke Pantai Karanghawu, Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi, berubah petaka bagi para pelajar SMP Negeri 2 Sukaraja, Kabupaten
Bogor. Mereka terseret ombak saat berenang di pantai selatan itu, Sabtu sore (31/3). Korban; Bagas Pramudya (15), Al Rezki Akbar (15) dan Sahrizal Nuddin
Harahap (14).

Bagas yang sempat hilang ditemukan tewas mengapung di perairan Pantai Karanghawu, tepatnya seberang Kantor Koramil Cisolok sekitar pukul 08.00 WIB, Minggu
(1/4).

Ketua Tim Search And Rescue Daerah (SARDA) Kabupaten Sukabumi, Okih Pajri Assidiq mengatakan, korban dalam kondisi mengambang dan telungkup di sekitar 50
meter dari bibir pantai tak jauh dari lokasi kejadian.

Tim SAR gabungan langsung mengevakuasinya ke Rumah Sakit BLUD Palabuhanratu untuk divisum terlebih dahulu, sebelum dibawa ke rumah duka di Kabupaten Bogor.
Saat dievakuasi, isak tangis dari rekan-rekannya pun tak bisa dihindarkan. Terlebih, dua saksi, yang saat itu sama-sama bere­nang di pantai berbahaya itu.

Saat kejadian, Tim SAR juga melakukan pencarian hingga larut malam. Namun, hasilnya nihil. Korban muncul ke permukaan saat Tim SAR gabungan mengawali
pencarian pada pukul 08.00 WIB.

Okih kembali menyampaikan imbauannya agar para pengunjung tidak melanggar larangan yang sudah ditetapkan di sepanjang pantai selatan.

Ada sejumlah titik pantai ditandai dengan bendera merah yang merupakan pertanda bahaya. Ia berharap, kejadian ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi wisatawan lainnya agar tak
berenang di daerah bahaya.

Sebelumnya, Kepala SMPN 2 Sukaraja, Dedi Budi mem­benarkan korban merupakan siswanya. Namun, Dedi meng­aku, kepergian korban ke Pantai Palabuhanratu tidak
ber­kaitan dengan kegiatan sekolah.

“Karena kemarin (Jumat, 30/3) dan Sabtu (31/3) libur,” kata Dedi kepada Radar Bogor. Meski demikian, Dedi akan berkoordinasi dengan orang tua korban dan mencari tahu informasi tersebut.(d)

Komentar Anda