Beranda Politik

Politik dan Medsos

PKL-Wulan/Radar BOgor
MERAKYAT: Calon wakil wali kota Bogor Sugeng Teguh Santoso (STS) mengayuh becak di Perumahan Menteng Asri, Bogor Barat, Senin (20/2).

SUDAH beberapa kawan me­ngingatkan agar saya merespons Facebook (FB) dengan like atau ko­men atau mengirim pesan di grup relawan pendukung. Ternyata benar, saya jarang berinterkasi di medsos. Sekali-sekali memang buat pesan FB dan berinteraksi di grup WhatsApp (WA).

Medsos dengan berbagai waha­nanya: FB, WA, Instagram, Twiter, telah merajai komunikasi umat manusia. Setiap individu dipaksa terlibat intens dalam dunia medsos, kalau tidak akan ketinggalan peradaban (katanya).

Setiap orang dipaksa melotot layar gadget dan berkomunikasi dengan jari, tidak ada lagi interaksi ke­ha­ngatan antarpribadi, tatapan mata, ekspresi dalam berkomunikasi. Emoticon berusaha menggantikan, tapi itu hanya simbol gambar.

Ekspresi tertawa ngakak dengan desibel tinggi, nyaring, cempreng, jabat tangan, sentuhan tangan, tidak ada lagi. Ketika kumpul dan ber­hadapan semua melotot ke gadget. Kebudayaan baru telah hadir.

Sebagai seorang yang ditokohkan, saya harus bertemu dengan banyak pihak, mendengar keluhan, kritik, saran bahkan doa secara langsung dan verbal. Dalam pertemuan perlu ada ekspresi empati, kehangatan; tatapan mata, sentuhan di pundak, dan lain-lain. Godaan memegang gadget muncul dan ingin memainkannya.

Akan tetapi, adalah tidak etis dan tidak sopan meres­pons teman bicara sekad­arnya dan kita sibuk dengan gadget. Apalagi yang sedang bicara adalah orang yang mem­butuhkan empati dalam dan minta solusi.

Tokoh masyarakat perlu menyadari kemiskinan itu bisa membawa akibat penyakit fisik, kematian, kriminalitas, prostitusi, kerentanan ideologi. Kemiskinan dan kebodo­han hanya bisa diatasi dengan pelibatan total pemimpin yang ber­karakter kuat.

Perilaku autissosial (socialautism) melanda semua orang. Bahkan pemimpin politik muda. Puluhan grup WA harus dijawab sehingga tidak ada lagi komunikasi hangat dan manusiawi. Bila perilaku ini me­nginternal secara per­manen, ini akan ber­bahaya. Karena tugas para pemimpin adalah menjawab masalah masalah warga secara intens dan membutuhkan fokus. Tidak bisa disekadarkan.

Kalau diabaikan tugas-tugas pemimpin dan dianggap bisa selesai dan bermain pencitraan melalui medsos, maka hanya akan memunculkan social autism leader.

Model pemimpin seperti ini ditandai dengan: pembentukan citra kuat melalui kampanye medsos yang masif, tidak memiliki daya tahan menghadapi tekanan dan pekerjaan-pekerjaan sulit yang membutuhkan pelibatan total, tidak terlatih menghadapi masalah ruwet yang membutuhkan nyali besar, akan lari dengan berbagai alasan melalui jawaban di medsos.

Pada satu sisi, anomali masyarakat terjadi juga karena masyarakat ”terkooptasi” medsos maka masya­rakat akan mudah percaya berita hoax. Pencitraan pemimpin di medsos (adagium gambar bercerita seribu makna dimainkan masif), masyarakat menjadi tidak cerdas dalam menentukan pilihannya. Rekam jejak yang seharusnya dike­tahui dan dapat diakses juga melalui mesin pencari google terlupakan karena pencitraan sesaat. Mari menjadi warga yang cerdas.(*)

 

Sugeng Teguh Santoso

Calon wakil walikota Bogor

Baca Juga